The Awesomeness of Antimainstream Trip 1

Trip kali ini kami mulai dengan perjalanan dengan rute Jakarta-Surabaya-Bangkok-Phonm Pehn – Siem Reap – Kuala Lumpur – Jakarta. Bermodalkan uang 1,5 juta Rupiah kami siap menjelajahi Indocina.

12 October 2015

Berangkat subuh-subuh ke Bandara kesayangan Soekarno Hatta yang sebentar lagi akan siap untuk dioperasikan terminal 3 Ultimate yang maha luas itu saya meninggalkan Jakarta dari terminal 3 menuju Surabaya Terminal 2. Walau hanya transit 3 jam, kami sempet-sempetin keliling bandara dan berakhir dengan pesawat yang kami tumpangi delay sejam. Ternyata pesawat yang kami tumpangi lumayan penuh dan cukup banyak orang Thailand yang ke Surabaya hanya untuk main ke Bromo. Terbukti di manifest pesawat ada sekitar 30 persen adalah orang Thailand dengan logat bahasa yang anehnya itu.

Meninggalkan Surabaya jam 12 siang, sampailah kami di Don Mueng jam 4 sore, dan setelah melewati imigrasi dan mencari Muslim Praying Room buat Bom-Bom yang mesti sholat magbrib yang udah dia download dari aplikasi di smartphone nya selama perjalanan kita ke Thailand – Kamboja.

Saya sempatkan beli nasi instant di kedai rokok seharga 100 Bath dengan rasa yang cukup mengganjal perut. Bandara Don Mueng sendiri sebenernya diperuntukkan penerbangan domestik maupun internasional khusus untuk budget airlines seperti Airasia yang kami tumpangi, Tigerair, Nok Air yang shocking pink, hingga Jet Star.

Sekeluar dari Don Mueng, kami memilih naik Bus no 11A menuju Mo Chit yang turun tepat depan stasiun MRT Chatucak Park dengan harga tiket bus Cuma seharga 30 Bath atau setara dengan 10.000 IDR. Cara naik busnya pus mirip mirip di Indonesia, cukup naik, ntar kernet bus yang rata-rata cewe bakalan collect ongkosnya dengan sekaleng tabungan yang duit kertasnya bakalan di selip-selipin di sela-sela jari buat kembalian. Karena masih kurang jeli membedakan Bath, alhasil saya membayar ongkos dengan pecahan uang 1000 Bath, kebayang dong repotnya kernet yang maha lentik jarinya itu balikin kembaliannya sambil menggerutu.

Perjalanan kami lanjutkan dengan naik MRT Chatuchak ark menuju stasiun terakhit Hua Lamphong. Seperti naik Subway di China, naik subway disini ternyata juga bakalan lewat metal detector yang cukup ribet, alhasil si Bom-bom mesti buka kancing sabuk dia setiap masuk platform. Naik MRT dari Chatuchak Park ke Hua Lamphong cukup mahal yakni sebesar 42 Bath yang akan memakan waktu sekitar 25 menit. Pembelian tiketnya pun masih seperti beli tiket naik Sky Train. Seturunnya di kota tua Hua Lamphong, kami berjalan kaki menuju dermaga Marine Department buat naik Chao Phraya boar dengan rute no Flag dan turun di dermaga Ta Chang. Ongkos naiknya pun Cuma seharga 15-20 Bath saja, yang kami mesti turun dan melewati pertokoan dan pasar tradisional yang agak becek gelap dan seram dan tentu saja ternyata keluar-keluar kami sudah nyampe di Grand Palace , Wat Pho, dan tentu saja kami melewati kampus yang mahasiswanya dengan tampang ala-ala anak DKV di Universitas Thomasat. Berbekal baterrai Lumia kesayangan sekarat, kami akhirnya jalan kaki yang ala-ala menuju Swasdee Welcome Inn di Khao San. Perjalan mencari hotel tidak segampang yang dikira, kami mesti menghabiskan waktu sekitar 2 jam untuk bisa menemukan hotel yang kami harus bayar seharga 66,000 IDR untuk tidur semalam disini dengan wifi , AC, dan kamar mandi dalam sudah tersedia didalamnya. Kebetulan resepsionis yang melayani kami adalah Lady Boy dan ternyata ga sejutek yang kami baca di review review tamu lainnya di forum. Sepanjang malam kami habiskan menelusuri kawasan Khao San Road yang hidup itu. Ibukota Backpacker Bangklok ini semakin hidup dikala malam, penjual Pad Thai berjejeran sepanjang jalan, Manggo Sticky Rice yakni ketan kukus yang disirami santan pandan dan serutan mangga adalah menu wajib coba. Kalau yang suka kuliner extreme, silakan cobain beli belalang, kecoa, kalajengking goreng dengan harga sekitar 30 Bath untuk sekantong. Tapi kalau ga beli, mau ambil foto lu mesti bayar 10 Bath. Selepas jalan-jalan di Khao San road yang legendaris itu, akhirnya saya balik kembali ke hotel untuk mengumpulkan tenaga untuk keesokan harinya yang penuh kejutan.

Juanda International Airport, titik awal trip kali ini
Juanda International Airport, titik awal trip kali ini
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s