The Awesomeness of Antimainstream Trip 2 Leaving Bangkok

Bangkok,13 Oktober 2015
Bangkok masih menyimpan sejuta pesona untuk dijelajahi. Namun berhubung waktu saya yang terbatas agar bisa menjelajahi Kambojo lebih utuh, akhirnya saya dan Bom-bom memutuskan ke Terminal Mo Chit untuk melanjutkan perjalanan ke Siem Reap. Setelah segala sesuatunya telah siap, akhirnya kami siap juga berangkat meninggalkan kota Bangkok sebagai kota persinggahan.
Pagi-pagi selepas bangun pagi dan check out, akhirnya kita meninggalkan kawasan Khao San menuju Mo Chit Terminal, dengan naik boat turun di Marine Dept Pier, dan singgah sebentar ke Wat Traimit Withayaram Wora Wiharn (seperti itulah nama kuil / vihara yang tercantum di map), walaupun tujuannya hanya sekedar foto-foto doank. Sepanjang perjalanan Bath kami semakin menipis gara-gara tidak mampu mengontrol nafsu jajanan jalanan Bangkok yang menggoda. Apalagi perasan air jeruk asli seharga 20 Bath sebotol kecil namun murni isi sari jeruk manis semua, si Bom-bom aja beli dua botol buat bekal, belum lagi siomai kecapnya (sayang ada babinya) jadi kurang rekomen buat teman-teman muslim yang hendak jajan ala-ala kaki lima di Bangkok. Selepas dari Stasiun MRT Hua Lamphong, yang kami lanjutkan dengan turun di Stasiun Chatuchak Park menuju terminal Mo Chit dengan jalan kaki. Perlu dicatat, rute jalan kaki ini sangat termat tidak disarankan, walaupun di peta digital jaraknya Cuma 10 menit jalan kaki, namun kenyataannya kami mesti jalan melewati Chatuchak Park yang ga kalah luas sama Chatucak Weekened market yang menampung cabe-cabean Thailand ngumpul dan bergowes ria dan tentu saja saya dan Bom-bom hanya bisa menatap nanar pasangan muda-mudi yang memadu kasih di taman maha luas nan sepi ini (hayoo kalau malam ngapain coba kalau mereka di Jakarta).
Setelah sampai di Terminal Mo Chot, rencana ke Siem Reap tinggal rencana saja menginngat bis keberangkatan terakhir adalah jam 3 sore dan estimasi sampai ke Aranyaphet ( kota perbatasan Thailand – Kamboja) sekitar jam 9 dan imigrasi kedua negara sudah tutup jam 8 malam. Akhirnya daripada berangkat besok, akhirnya diputuskanlah kita berangkat ke Phonm Penh naik bus internasional jam 1.30 subuh seharga 750 Bath dan akan menempuh jarak 719 Km dengan estimasi lama perjalanan selama 11 jam 30 menit (kenyataannya kami menghabiskan 15 jam).
Mengingat waktu masih siang dan masih sisa banyak waktu untuk bisa kembali ke terminal, akhirnya kami memutuskan ke pusat kota ke daerah Siam. Trauma sama rute jalan kaki yang maha luas, akhirnya kami memutuskan naik bus nomor 16 dengan ongkos cuma 15 Bath untuk jarak Mo Chit – Siam dan kabar baiknya busnya milik pemerintah dan ber AC dan ada wifi. Kalau di Jakarta kita ada Transjakarta, Kuala Lumpur ada Rapid KL, Bangkok adanya BMTA.
Sesampainya kami di Siam, destinasi utama kami sebenarnya sih hanya menghabiskan waktu saja sembari menunggu malam. Dengan keterlantungan kami, kami akhirnya terdampar di National Stadium samping mall MBK dan tentu saja kami masuki hanya buat nonton bapak-bapak latihan sepakbola sambil mengumpulakn energi untuk berangkat lebih jauh. Uniknya ternyata di National Stadiun Bangkok sedang ada pertandingan pra-kualifikasi piala Asia antara Rusia melawan Myanmar. Iseng buat nonton sembari menghabiskan waktu kita ke loket informasi dan mengurungkan niat nonton gara-gara harga tiket yang selangit seharg 200 Bath atau setara dengan Rp 75.000. Akhirnya kami urungkan niat, dan tak disengaja si Bom-bom tercetus ide mau sholat magrib ke masjid terdekat mengingat Muslim di Thailand adalah minoritas pasti bakalan beda sensasinya. Akhirnya setelah tanya-tanya sama polisi sekitar dan tentu saja dengan bantuan digital map akhirnya kita menemukan masjid terdekat dengan jumlah jemaat yang bisa dihitung dengan jari. Berhubung saya bukan muslim, jadinya saya cuma kebagian nungguin si Bom-bom di depan masjid aja. Walaupun muslim disana sebagai minoritas, sepengamatan saya sholat mereka tetap khusuk layaknya di Indonesia, hanya ga serame di Indonesia ataua di Malaysia.
Selepas sholat, akhirnya kita jajan kaki lima lagi dan bakalan nyari bis balik ke Terminal Mo Chit, berhubung arah bus buat balik pasti naik dari halte lain, alhasil kita kebingungan dan sembari menenangkan diri, habislah berbatang-batang rokok depan kampus akademi pariwisata, dan kita disamperi satu traveler Kanada keturunan India nanyain jalan donk ke kita buat nyari wifi gratis dengan nyari kedai kopi ternama. Dan akhirnya terjalinkan percakapan singkat kalau dia juga lagi dalam program jalan-jalan 1,5 bulan keliling Asia, sebelumnya dia abis ke China dan sekarang ke Bangkok dan nanti bakalan ke Malaysia dan berakhir di Yogya dan Bali. Mendengar kita dari Indoenesia, ada satu pertanyaan yang paling monohok dari dia. Kenapa yah, Jakarta tempat lu berdua datang ga pernah ada traveller ngomongin, ga kaya Kuala Lumpur, Bangkok dan Singapura yang selalu jadi buah bibir traveller bule, padahal kan Jakarta luasnya minta ampun, Bangkok ga ada artinya apa-apa dibandingkan dengan luasnya Jakarta. Saya mesti jawab apa donk kalau kaya gitu ?. Masa terima aja diomongin kaya gitu ?. yah saya jawab sekenanya sebagai jawaban penghibur kalau sebenernya Jakarta banyak koq bule ngunjungi, Cuma ketenarannya ketutup sama Bali sama Yogya aja, sekarang kita lagi berbenah. #noh tuh PR buat kita semua buat promosiin Jakarta. Dan di akhir percakapan singkat kita sempat dipuji bahasa Inggrisnya gampang dicerna ketimbang orang Thailand yang berlogat nada kemayu semua dan memperkenalkan diri dengan nama yang Indonesia banget : ADITYA namaya.
Selepas percakapan monohok tadi, akhirnya kita nyari bus dan ketemulah tante yang baik hati menyarankan naik Bus no 39 dan ntar turun halte depan taman ngumpulnya cabe-cabean yakni Chatucak Park + Queen Sirikit Park dan disambungkan naik bus GRATIS no 77, kurang baik apa ibunya rela anterin kita nyambung bus dan dia mesti turun nyambung naik bus lain lagi. Dan akhirnya perjalan kita berakhir di Terminal Bus Mo Chit sambil menghabiskan waktu di terminal 3 lantai yang maha luas ini diselingi insiden pencurian di seven eleven sama gembel lokal tanpa ada aksi massa. Akhirnya jam 1.30 pagi teng kami meninggalkan Bangkok menuju Ibukota Kamboja : Phonm Penh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s