Serba-Serbi Turis Indonesia di Luar Negeri

Kali ini, bukan sekedar posting catatan perjalanan wisata saya, namun juga hasil pengamatan saya sebagai frontliner di Hotel di salah satu hotel berbintang di Jakarta. Berhubung blog ini dibuat khusus mencatat pengalaman saya baik dari jalan-jalan dan kerja di Hotel, pastinya ketemu orang dari berbagai belahan dunia udah menjadi hukumnya. Kali ini saya mau membahas kelakuan turis-turis Indonesia ketika di luar negeri versi sepengamatan saya :

  1. Negara pertama bagi kita sebagai besar ke luar negeri adalah Singapura atau Malaysia.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa dua negara ini merupakan negara yang paling memungkinkan buat sebagin besar orang Indonesia buat ke luar negeri. Dengan modal paspor dan tiket yang rata-rata lebih murah dari penerbangan domestik, kedua negara serumpun ini juga termasuk negara maju yang aman, nyaman dan tanpa perlu takut terkendala bahasa dan visa. Kemana-mana pasti ketemu sama orang Indonesia juga. Berhubung persebaran penduduk di Indonesia numpuk di Indonesia Barat, akses terdekat negara tetangga memang dua negara ini. Bahkan wilayah Indonesia Tengah seperti Makassar, Bali, Lombok dan Manado yang punya bandara Internasional penerbangannya banyak yang ke dua negara ini. Bali dan Lombok memang dekat ke Australia, namun porsi penumpangnya jauh lebih banyak orang Aussie yang ke sana buat berlibur, Manado memang lebi dekat ke Filipina, namun ga ada penerbangan langsung ke Negeri kepulauan itu.

  1. Dandanan heboh adalah wajib hukumnya ketika di luar negeri, kaca mata hitam ga boleh lupa.

Sudah menjadi rahasia umum kalau turis Indonesia di luar negeri sangat mudah dikenali. Dari ruang tunggu bandara saja sudah heboh sama dandanan yang mencolok mata dengan make up tebal dan pokoknya harus keliatan cantik dan ganteng pas difoto, kenyamana adalah persoalan nomor kesekian. Yang paling penting adalah eksis.

 

  1. Selfie dan foto-foto adalah wajib hukumnya, membaca informasi dan sejarah dari tempat wisata adalah membosankan.

Pergi ke museum di suatu negara bakalan sangat membosankan bagi sebagian besar dari kita, display informasi tempat wisata kalah pamor sama eksotiknya bangunan atau landark itu sendiri. Mana ada orang yang pamer foto di Instagramnya lagi di Museum Opium di Golden Triangle ketimbang pamer foto minum air dari mulut Merlion atau pamer megang Petronas.

 

  1. Senang kalau penjual gantungan kunci atau T-Shirt bisa ngomong bahasa Indonesia.

Ini dia yang orang lokal suka sama kita sebagai orang Indonesia, kebanyakan dari kita kalau jalan-jalan keluar negeri adalah wajib hukumnya bwli-oleh oleh. Maka tidak heran pedagang gantungan kunci dan kaus T-Shirt di Wat Arun lebih sering berceloteh bahasa Indonesia ketimbang bahasa Jepang atau Korea. Lah pengunjung yang borong dagangan mereka rata-rata tante-tante sama Om-om. Bisa dibayangin kan kalau sekeluarga pergi minimal 2 lusin gantungan kunci laku , si Mama mesti bagi-bagi sama tetangga , abang tukang sayur, belum lagi geng arisan biar udah sah pernah ke Bangkok, eh si Papa juga ga mau kalah pamor dengan bagi-bagi pemantik api ke teman-teman nonton bola, oh iya anaknya juga ga mau kalah bagi oleh-oleh ke temen sekelas donk buat pamer. Alhasil, semua transaksi dilakukanlah dalam bahasa Indonesia dengan senyum sumringah “ hebat yah, Bahasa Indonesia sudah mendunia”.

 

  1. Beli oleh-oleh masuk dalam itenerary perjalanan yang wajib hukumnya, bahkan budget nya bisa lebih besar daripada tiket pesawatnya.

Seperti yang sudah disebutkan dalam poin diatas, bahwa beli oleh-oleh sudah menjadi hukum wajib kalau jalan-jalan ke luar negeri. Entah berasal dari mana hukum ini berasal, kita rata-rata dengan senang hati menyisihkan budget jalan-jalan kita buat beli oleh-oleh. Mungkin dengan bagi-bagi oleh –oleh ke rekan atau teman merupakan suatu bentuk “iklan” buat bilangin . “ eh, gua abis dari Hongkong lho, ini gua kasih satu kaus I Heart HK”. Terus dipuji deh, eh hebat yang lu, kerja jadi jongos aja jalan-jalannya ke Hongkong yang isinya aja gedung semua. Eh , semakin banyak yang muji semakin banggalah kita. Pas disuruh ceritain perjalanannya, sebagian besar malah foto-foto dengan sejuta gaya.

 

  1. Berwisata dalam rombongan tur dengan baju yang seragam dengan stiket bernomor di lengan bajunya.

Memang tidak bisa digeneralasisasi kalau orang kita seringnya jalan-jalan lewat rombongan tur. Dengan era penerbangan murah sekarang, gaya jalan anak-anak muda juga udah banyak yang ketengan . Namun itu juga banyaknya anak mudah dari kota besar seperi Jakarta, Bandung atau Surabaya. Nah, kalau Bapak-bapak, Ibu-Ibu beserta rombongan sirkusnya jalan kan repot, ahkirnya memang lewat agen perjalanan wisata adalah pilihan yang paling rasional buat jalan-jalan. Belum lagi golongan menengah Indonesia sedang tumbuh dengan pesatnya, makanya semakin banyak orang yang jalan-jalan ke luar negeri.

 

  1. Saatnya unjuk gigi pamer bahasa Inggris

Di Singapura, di Bugis Street adalah hal yang lumrah liat orang-orang nawar merchandise dengan bahasa Inggris, yang lama-kelamaan la jadinya bahasa Melayu juga. Yah namanya juga biar afdol ke luar negeri, bahasa Indonesia makanya harus ditinggalin jauh-jauh di rumah aja. Tapi koq, lama-lama keluh juga yah ini lidah ga ngeri yang si enci ngomongin pake bahasa Inggris, akhirnya berubah juga pakai bahasa Indonesia, wong si Enci-nya juga ngeri bahasa Indonesia juga. ( gagal pamer deh).

  1. Bawa bekal super ajaib yakni : Sambal sachet, Indomie, Abon, beras, bahkan ada yang bawa rice cooker.

Ayo ngaku, mana ada sambal di luar negeri yang bisa ngalahin pedes sedep bau bawangnya Sambal Sachet ABC. Emang ada mie goreng yang bisa ngalahin rasanya Indomie?. Belum lagi kalau liburannya ke negara yang makanan pokoknya bukan nasi. Aduh perut Indonesia kita pasti kompak komplain kalau belum dijejelin nasi ke perut, alhasil rice coocer mini dijejelin ke koper juga. Oh Iya, terasi itu ngangenin banget, walaupun sering dihujat sebagai bau kaos kaki busuk atau tikus mati sama bule-bule, tapi emang ada yang bisa ngalahin sedepnya sambel terasi ulek-nya kita?.

 

  1. Waktunya lebih banyak habis di depan layar handphone daripada menikmati suasana di sekitar tempat wisata.

Di zaman sekarang yang super canggih, makan satu meja di restoran bukan lagi ajang buat mempersatukan keluarga, tapi malah jadi ajang pamer buat check in di Path dengan pamer foto makananan di Instagram yang demi nyari foto yang bagus, sampai-sampai keburu dingin sayurnya. Oh iya hal ini juga berlaku buat orang kita yang lagi jalan-jalan ke luar negri, ke setiap tempat pasti sayang banget kalau kelewatan update ataupun sekedar check in di Path atau upload foto di Instagram buat pamer dan bikin sirik temen-temen yang alhasil kitanya jadi zonk besar sama informasi tempat wisata. Soalnya mata kita lebih banyak ngeliatin layar Hp ketimbang nikmatin reief-relief di Candi Angkor Wat. Pas ditanyain yang bangun ini candi siapa , ga tau kan, tapi pas dimintain foto dengan latar belakang Angkor Wat ? fotonya ada 3 folder ga muat dengan segala macam gaya.

 

  1. Senang banget kalau ketemu sesama orang Indonesia

Emang sih, yang ini siapa yang ga seneng kalau misalnya ketemu dengan orang Indonesia di Tajikistan atau Orang Indonesia di Bolivia? Walaupun bukan saudara kandung, tapi rasa saudara setanah air ga bisa dipungkirin. Nah beda ceritanya kalau ketemu sesama orang Indonesia di negara-negara dengan konsentrasi tinggi WNI nya baik pelancong maupun TKI-nya seperti Singapura, Malaysia, Hongkong atau Taiwan. Alih-alih pengen nyapa, kadang-kadang ada yang suka jadiin itu ajang pamer siapa yang lebih oke. Tapi, memang dasarnya kita orang Indonesia terkenal sebagai bangsa yang ramah, sebagian besar yang saya ketemuin sesama orang Indonesia pasti seneng banget dan pasti berbagi cerita, ikatan merah putih begitu kerasa.

 

  1. Power Bank dan tongsis adalah barang bawaan wajib.

Baterai smartphone mati dan ga bisa ambil foto sendiri di titik wisata adalah bencana besar bagi sebagian besar dari kita. Ajang pamer di media sosial runtuh semua. Maka biar ga kejadian itu bencana, sebagian besar dari kita pasti punya cadangan 2 barang itu untuk dibawa pas keluar negeri.

 

  1. Belanja sampai mampus dan senang beli wine dan rokok di Duty Free

Yang ini, sampai saat ini saya masih belum mengeri seberapa urgensinya barang-barang Duty Free terutama Wine dan Rokok yang selalu dipetentang petenteng sama pelancong dari Indonesia buat dibawa pulang. Tapi, memang banyak yang bangga aja kalau dirumahnya ada kantong Duty Free dari Narita dan minuman kerasnya yang katanya haram buat diminum bermuara menjadi pajangan di lemari kaca dengan label Itu kemarin aku beli di Jepang lho, harganya murah banget, kualitasnya juga lebih oke daripada beli di Indonesia. Lah, emang sering beli di Indonesia ?.

 

  1. Lorong pesawat langsung penuh orang berdiri begitu pesawat berhenti sempurna ( padahal pintu pesawat masih lama dibuka buat nunggu ground staff).

Yang satu ini saya juga bingung, secara logika kalau semua orang saling sikut dan rebutan di lorong pesawat yang sempit itu buat keluar pesawat bukannya jadi malah menghambat mobilitas orang buat keluar pesawat ?.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s