Phonm Phenh “Tonle Sap dan Bangkok KW3”

Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan selama 2 hari di Bangkok, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu sampai juga. Dengan menumpang bus malam dari Bangkok ke Phnom Penh ( nonstop) dan hanya berhenti di perbatasan kedua negara yakni di Arayapet dan Poi Pet. Di dalam bus yang berisi puluhan manusia pengembara seperti kita. Ada yang pasangan muda dari Filipina yang ga mau duduk sebangku, Si India kewarganegaraan Swedia, Bule Belanda, saya dan Bom Bom berdua dari Indonesia, dan beberapa warga Kamboja dan Thailand yang tidak diketahui namanya.

Perjalanan Bangkok- Phonm Penh kamu tempuh dalam waktu 15 jam. Perjalanan Bangkok ke perbatasana saja memakan waktu 7 jam lamanya. Dan selepas di check point, akhirnya kami dikasih nasi goreng bugkus yang enak banget( mungkin karena laper). Dan kebetulan hari itu Bom Bom ulang tahun juga). Di dalam perbatasan antara kedua negara terlihat sangat jelas ketimpangannya. Diperbatasan sisi Thailand (Aran) gedung imigrasi dan kantornya begitu bersih, megah, dan dengan peralatan super canggih, dan tralalalalala begitu masuk imigrasi Kamboja (Poi Pet) hanya berupa satu gubuk kayu beralasankan seng yang super panas dan sumpek. Kita harus memohon izin masuk ke negara ini. Jangan membayangkan kalau dengan gubuk imigrasi mereka yang mengenaskan ternyata ada kamuflase bebrapa Kasino dan gedung mewah persis disamping imigrasi yang sangat kontras dengan kondisi ekonomi di Kamboja.

BPRO0204                     tampak gedung imigrasi sisi Thailand yang megah

BPRO0208sebelum masuk ke sisi Poi Pet, Kamboja. Tampak gerbang dan pejalan kaki yang ramai.

Maaf, saya bukan pakar ekonomi apalagi politik, jadi ga usah bahas panjang lebar. Selepas dari border point. Kami berdua melanjutkan naik ke bus dengan sopir yang sudah berbeda. Sopir ganti, negara ganti, bahasa ganti, mata uang ganti, dan sisi setir nya pun ganti di sebelah kanan. Agak aneh dan ga biasa juga seolah-olah bus yang kita tumpangi menyalip jalan dan tak mau ngalah buat kembali ke jalur yang benar. Hahaha

Perjalanan terasa cukup monoton dengan menantikan waktu berjalan cepat, namun apa daya pemandangan yang disuguhkan hanya ada 3 varian yakni pemandangan sawah maha luas dengan sapinya yang kurus kurus, rumah penduduk dengan kubungan depan rumah dihiasi dengan jalanan berdebu, dan tentu saja yang terakhir pemandangan kota kecil dengan jalan debu dan kendaraan rongsokan ada dimana-mana ( satu city car hampir selalu diisi over capacity). Bahkan sejam sebelum memasuki Ibu kota Phonm Penh, jalanannya bahkan belum ada aspal sama sekali, kami seakan-akan dibawa balik ke zaman kampung kelahiran saya pasa saya umur 4 tahunan (tahun 1995-an) yang masih jalanan beralaskan debu. Penjual jagung bakar sepanjang jalan dengan berlapiskan debu sebagai bumbu tambahan jagungnya tanpa terlihat siapa yang akan membeli jagungnya. Pom bensin DEPOT TELA yang mengenaskan hanya berupa satu plang pom bensin dengan warna hijau mencolok tanpa ada nokel buat isi bensil dan hanya dijaga oleh satu ibu-ibu sambil menjajakan rokok, snack, dan permen samping meja kasir kayunya. Pokoknya mirip PERTAMINI di warung warung di kampung kita. Mobil keluaran Jepang masih susah ketemunya. Sampai di Pursat, kami istirahat sebentar di rest area yang judul depannya sih Cambodia- Japan Friendship yang bangun ini rest area. Saya hanya sempat beli pop mie korea dan sambil numpang ngecas hp kita yang udah sekarat dan ga ada batere lagi. Istirahat 20 menit. Perjalanan kami lanjutkan dengan sisa 3 jam perjalanan sampai ke Phonm Penh. Sisa perjalanan kami dari Pursat ke Phonm Penh ga berbeda jauh dengan apa yang kami lihat dari perjalanan dari Poipet ke Pursat.

BPRO0212adalah hal yang lumrah mobil pick up penuh penumpang di jalanan sini.

Sesampai di Phonm Penh, bertaburan sekolah Internasional (sengaja saya miringkan) , jangan dibayangkan sekolah-sekolah internasional kita yang hanya diisi anak-anak majikan doank yang kalau ngomong bahasa Indonesia kaya Cinta Laura. Di sana sekolah international fasad bangunannya aja kaya PAUD di kota kecamatan di Bangka Belitung. Di kota Phonm Penh, saya tidak meilhat adanya bus umus, halte bus, ataupun jalur kereta api (bahkan taksi pun sulit ditemui). Yang merajai jalanan adalah motor dan tuk-tuk.

Namun, walaupun begitu sepertinya kota Phonm Penh sudah mulai membangun, dan Malaysia sepertinya sudah membaca peluang itu jauh-jauh hari. Terlihat bank-bank yang merajai di sudut kota Phonm Penh adalah RHB dan Maybank yang notabene adalah Bank Malaysia. Dan sudah ada beberapa gedung pencakar langit. Seturunnya kami dari bus di terminal yang cuma satu gubuk seng dengan alas batu dan tanah becek ( kalau kata Bom-bom , ini bukan terminal tapi kandang Kambing), siap siap menolak tawaran sopir tuk-tuk yang agresif menawarkan jasanya. Akhirnya kami memutuskan jalan ke arah pusat keramaian dan cari hotel dan tanya sama resepsionis hotel yang notabene bahasa Inggris mereka pastinya lebih baik (kan pengalaman sebagai hotelier) hehhehe.

Namun, apa boleh dikata, akhirnya kami harus masuk ke travel agent lokal buat nyari bus malam buat bertolak ke Siem Reap keesokan paginya. Sialnya travel agent yang jual tiket bus malam hanya ada di Night Market. Dan berakhirlah kami harus naik tuk tuk seharga 5 USD ke Night Market jam 4 sorean. Sambil membunuh waktu akhirnya setelah beli tiket sleeping bus ke Siem Reap jam 00:30 seharga 11 USD kami putuskan buat keliling daerah sekitar. Berawal dari duduk bengong sambil nonton sunset di tepian sungai Tonle Sap yang berakhir dengan curhat kisah cinta si Bom-Bom sama Dia sampai hari mejadi gelap. Ternyata sungai yang luas ini, jadi tempat warga sekitar buang hajat tanpa ada rasa malu, terbukti kalau pas kami duduk duduk disana sudah ada 4-5 orang ga Bapak-Bapak atau Ibu ibu tanpa malu malu langsung menunaikan “ibadah” singkat mereka.

BPRO0221dibelakang itulah menjelang malam banyak mahkluk ajaib yang bisa “pup” atau sekeder pipis cantik tanpa malu.

Kalau dilihat sekilas, ternyata Phnom Penh meniru-niru Bangkok buat mengeliatkan pariwisata mereka dengan menghidupkan restoran terapung sepanjang sungai. Kawasan sekitaran night market adalah kawasan malam yang hidup dengan banyak café-café selera bule berjejeran disana. Kami bahkan sempat nongrong lama di Burger King hanya numpang ngadem dan dapetin wifi gratis. Sampai kami bosen keliling dan udah capek, akhirnya carilah kami minimarket setempat nyari makanan ( itu makanan Bom-Bom kedua setelah gorengan halal di Night Market). Di sana ternyata banyak produk produk Indonesia bersliweran, sebut saya Biskuit Roma Legal, Oreo made in Indonesia, dan tentu saja Indomie Goreng dengan harga selangit 2,6 USD per cup. Ternyata, tanpa kami duga tanpa kami kira, kita terdampar di kawasan “RED DISTRIC” di Phonm Penh. Untung Bom-bom lagi dalam masa nifas buat tobat dengan imannya dan lagi religi-religinya, kalau ga kita bisa bablas… (maklum dua-duanya masih jomblo akut). L

FYI, jablay-jablay disana tapi sepertinya masih belasan-belasan tahun, ada juga yang udah cukup umur dan kelihatan lebih polite dan lebih “elegan” dalam mencari klien. Namun, tampang mereka ternyata masih seleval dibawah kecantikan ladyboy di Bangkok. Café Happy Girl dan nama-nama sejenis bertebaran sekitar sini. Warna merah-remang remang dimana-mana. #aduh ga kuat iman, kalau lama-lama disana.

Daripada dosa, akhirnya kami memutuskan nunggu di “halte” Olympic Express disamping Giant Ibis yang terkenal itu. Banyak warga lokal atau backpacker bule dan beberapa backpacker Asia Timur yang terlihat, pengembara Asia Tenggara ataupun yang mukanya semulus dan sebersih muka saya hampir dipastikan tidak ada. Semuanya dekil-dekil semua termasuk saya yang sudah mulai berdaki 2 hari ga mandi. Menghabiskan waktu dua jam berbincang dengan orang lokal memang yang paling enak dari perjalanan kita. Harus saya akui, si Bom-bom lebih gampang berbaur dengan orang lokal yang bermula dari basa-basi minjem korek api buat ngerokok. Sampai kami asik ngobrol sama tukang tuk-tuk yang fasih bahasa Inggris secara otodidak dan fasih lagi dia ngomongnya. Dari urusan kehidupan di Kamboja, sampai scam-scam turis dikasih tau sama kita yang tinggal menghitung menit meninggalkan kota Phonm Penh.

Tak berapa lama kemudian, bus kami akhirnya datang setelah semua Bus malam udah brangkat (ternyata bus kami adalah jadwal bus terakhir yang bertolak ke Siem Reap). Naiklah kami ke Bus tanpa kursi duduk dan hanya berisi matras buat tidur dengan dua tingkat. Persis di belakang saya ada orang lokal yang kayanya nonton film “senonoh yang kurang” upssss, dari suara headseatnya yang kedengaran orang menjerit-jerit enak tanpa rasa dosa, padahal di matras seberang ada Biksu juga. Tapi, AC di bus lumayan nyaman, buktinya sampai di Siem Reap. Saya ga pernah kebangun sama sekali dan tertidur kaya kebo. Yah sudahlah, saya sudah terlalu menantikan tidur enak sesampai di Siam Reap.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s