Siem Reap : “Keagungan Angkor Wat”

Chapter terakhir perjalanan Awesomeness of Anti Mainstream kita,

Setelah menempuh perjalanan sekaligus tidur paling nyenyak tiga hari terakhir di sleeping bus selama delapan jam. Sampailah kami di Siem Reap di halte “Kandang Ayam” yang kondisinya ga lebih baik dari yang Phonm Penh. Karena isinya sebus kebanyakan backpacker dengan muka non-lokal. Tentu saja kami salah satu sasaran empuk buat sopir-sopir tuk-tuk disini yang sudah terlatih buat turis mulut manis mereka dan bahasa Inggris yang udah bisa dimengerti. Penawaran keliling Angkor Wat seharian dengan Tuk-tuk 20 USD akhirnya berhasil kami deal dengan termasuk antar jemput ke hostel kami tercinta. (sebenernya hostel nya punya kesan tersendiri , tapi silakan baca reviews aja di Tripadvisor “Kochi-Ke Dormitory Hostel”).

Berhubung saya dan Bom-Bom Cuma bawa modal 1,5 juta all in dengan penukaran (50 USD + 1500 THB) masing masing orang. Kami kudu berhemat, mengingat kami hanyalah jongos yang teraniaya kalau balik kerja di Jakarta lagi. Hahahhaha. Sesampai di hostel, kami check in mandi dan siap-siap ke Angkor Wat dengan muka yang udah bersih dengan tampang yang paling ganteng selama empat hari terakhir. Akhirnya sampailah kami di komplek Kota Angkor yang maha luas dan luar biasa. Kota Siem Reap pun terlihat lebih menggeliat ketimbang Ibu kota Phonm Penh sendiri.

BPRO0337Ini lho tampilan hostelnya kita, ruang inilah ruang komunal. Yang lagi duduk di meja resepsionis adalah pemiliknya yang orang Jepang.

Dengan membayar 20 USD untuk one day pass untuk bisa masuk ke seluruhan kompleks Angkor, kami bisa menikmati keseluruhan kota kuno ini, dari candi Angkor Wat yang menjadi “rumah” bagi raja Rajavarman VII pada zaman kejayaannya yang luasnya mengcengangkan, seolah-olah bawa kita kembali ke 500 tahun yang lalu dengan details arsitektur yang memukau mata. 97% pengunjung candi ini adalah Turis Asing, dari gerombolan Turis Putih Mulus Jepang dan tante tante norak dari China Mainland hingga bule-bule yang udah aki-aki bersliweran disini. Tentu aja ga ketinggalan si kere kaya kita-kita. Untuk details sejarah candinya, silakan cari tahu sendiri di google. Ahhahaha

BPRO0280Nampang dengan Angkot Wat dibelakang

BPRO0240aslinya ga mendung koq, malah udah kaya neraka bocor panasnya, emang dasar kamera kw aja kaya muka yang punya blog juga KW super. Inilah pintu masuk utama Angkor Wat

Selepas hampir dua jam di Angkor Wat, kami melanjutkan perjalanan ke Candi Bayon atau yang lebih dikenal sebagai “Thousand Smile Temple”, sebutan itu sepertinya ga berlebihan, soalnya diseluruh reruntuhan candi ini tersimpan ratusan mimik dan ekspresi dari satu muka tokoh disana ( katanya sih itu mimik muka raja Rajavarman). Namun kalau diperhatikan, emang bener ga ada satupun senyumnya punya ekspresi yang serupa. Ada senyum yang tulus, senyum penuh ketegasan, senyum yang datarrrrr banget juga ada. Namun, hati-hati ditengah-tengah situs, banyak berkeliaran one dollar child yang udah jago bahasa Inggris dan memilih bolos sekolah buat menawarkan jasa guide dengan imbalan dollar. Usahakan jangan diladenin, soalnya kalau kebiasaan, makin sering dan banyak mereka yang meninggalkan sekolah. ( kami hampir kejebak salam rayuan lugu nya mereka), untungnya saat itu keuangan kami sedang darurat, makanya kami abaikan.

Selepas dari candi Bayon, kami teruskan ke Elephant Terrace, dan candi-candi lainnya disekitar yang jumlahnya bejibun. Karena uda capek banget ngabisin lima jam lebih keliling kompleks candi dan kota tua Angkor, kami putuskan ke candi “Angelina Jolie” dengan ciri khas kompleks candi yang terkubur di tengah hutan lebat, dengan akar pohon raksasa yang mengikat kuat candi yang menjadi landmark candi ini. Candi ini ada dua jalur masuk dan keluar, satu dari sisi timur, satunya lagi dari sisi barat. Kedua sisi akan ditemui mantan korban ranjau darat memainkan musik tradisional Kamboja dengan menjual souvenir dan kaset karya mereka. Cukup kreatif dan tidak caranya tidak”kampungan” seolah-oleh menjual kemalangan untuk mengais rejeki. Mereka pun tidak memaksa kalau kita cuma numpang lewat dan menyaksikan aksi mereka, mereka bahkan tidak mengemis dengan menyediakan kota amal didepan mereka.

BPRO0318Candi Ta Throm alias Cabdu Angelina Jolie , siap-siap ngantri panjang kalau mau ambil foto di sini dengan banyaknya turis China Mainland.

Puas keliling kompleks situs warisan maha karya kejayaan Khmer dahulu, kami putuskan balik ke kota Siem Reap. Balik ke pusat kota, kami putuskan jalan-jalan sekitar Pub Street yang legendaris itu dan tentu saja diwarnai acara nyasar ke pasar tradisional yang becek, berdebu dan bau busuk ikan busuk. Berhubung Pub street baru akan ramai menjelang malam, akhirnya kami habiskan hari di hostel tercinta dan tercetus ide Bom-bom nyari makanan Halal, dan berakhir dengan dengan kita mesti jalan sekitar 20 menit dari pub street ke restoran yang D’Halal Café ditemani acara hujan gerimis.

Kejadian tak terlupakan terjadi pas kami pesan makanan, menunya sangat familiar di lidah kita, ada kari ayam, rendang, hingga gudeg ada juga. Kecurigaan kami mestinya beralasan, walaupun ada kamuflase menu-menu makanan Malaysia. Dengan staff orang lokal yang mencatat orderan kami. Karena duit yang terbatas, saya sengaja ga mau makan dan hanya pesan minum aja. Dan si Bom-Bom akhirnya pesan kari ayam seharga USD 5 untuk satu porsi kecil. Surprisingly, ada kokinya keluar karena dengerin kita ngomong bahasa Indonesian yang dirindukannya, akhirnya dengan logat bahasa Melayu Malaysia si Koki sekaligus pengurus guest house memperkenalkan diri kalau beliau adalah orang Indonesia yang udah lama kerja di Malaysia dan udah kerja di Siem Reap selama lima tahun, pengen pulang Surabaya ketemu anak-anaknya. Acara buat mengisi perut dan Bom-bom yang bahagianya dobel karena ketemu makanan halal menjadi acara curhat Bu Asmara selama tiga jam pakai Bahasa Indonesia non stop. Sampai momen ini juga saya dan Bom-bom yang sepanjang jalan ngomongin orang pake Bahasa Indonesia jadi ga berani ngomongin orang lagi. Dan secara mengejutkan, kami disuguhkan kari dengan porsi maha besar, dengan nasi free refill, bahkan coca-cola pesenan saya di kasih gratis. (porsi karinya mestinya bisa buat 4 orang). Dan tentu aja abis sama kita berdua yang udah kaya gembel, makannya lahap minta ampun, si Bombom dua piring nasi juga abis. Dan kita Cuma bayar 3 USD untuk kari porsi 1 ekor ayam utuh, 2 piring nasi, 1 piring kangkung, 1 gelas es the manis, dan 1 kaleng coca-cola. Thank you Bu Asmara penyelamat dolar kita hari itu. Dan udah berbagi banyak kisah orang Indonesia di Kamboja ( dari dosen yang ngajar di sana, hingga Spa Manager dengan gaji ribuan dollar disana).

Ibu AsmaraBu Asmara penyelamat Dolar kita, kari ayam masakan beliau enak banget.

Selepas pulang dari D’Halal Café dan ngobrol kangen dengan bahasa Indonesia dengan Bu Asmara, akhirnya kami balik ke Hostel sambil berteman hujan dan dilanjutkan tidur untuk persiapan balik Kuala Lumpur dan Jakarta keesokan harinya.

Kfring……… kring ……………krong//…………….

Suara alarm maha berisik dan cetar ini membangunkan saya jam 8 pagi, sampai lima menit kemudian, alarm ini ga ada tanda-tanda akan dimatikan oleh pemilik suara ini. 15 penghuni dormitory dari si duo Hongkong Bawel yang sumpah serapa kita pake Bahasa Kanton yang saya tangkep maksudnya “goblok banget tuh dua orang Indonesia” berisik banget ga toleran banget kalau nginep. Dan saya sadar kaau itu ternyata alarm si Bom-bom yang tidurnya udah kaya kebo ga bangun-bangun,…….

Abis mandi dan sarapan pagi di Robatayaki, akhirnya kita lanjutkan dengan belanja oleh-oleh ke old market persis di belakang Pub Street buat nyari oleh-oleh. Pedagang yang tricky naikin bookkeeping dolar dan culas berhasil kita tahklukkan dengan memborong 1 lusin kartu post san 1 lusin gunting kuku gambar Angkor Wat. Bom-bom borong 4 lusin gantungan kunci dan gunting kuku malah. Hahhahahha

Perjalanan pulang ke hostel diwarnai insiden kaus Karl Mark Bom-bom yang berakhir kita dicegat orang lokal yang naik motor dengan isi percakapan Bom-Bom yang idealis :

Khmer                                  : “ hai, how are you?, do you speak English?”

Bom-bom dan Saya        :Yes, we do

Khmer                                   : “do you know what you wear ?(sambil nunjuk kaus Bom-bom gambar Karl Mark ( bapak Komunis Dunia)”

Bom-Bom                            : Yes, I do, He is Karl Mark

Khmer                                   : yes, do you know, cause of his ideology, 200 millions peoples are killed. He is bad, you better not wear that. In Cambodia 2 millions peoples are killed by his ideology

Bom-Bom                            : You have to think twice on his ideology in others perspective. Not all of the ideology are bad, it created with good purpose.

BPRO0307ini dia penampakan si Bom-Bom dengan kaos “Anti Mainstream-nya”, temen saya yang satu ini punya pemikiran yang paling bagus setempat kerja saya. Saya jadi ingat perjuangan kaum “Punk” dan semua filosofi dibalik kaum ini secara detail dari dia nih pas lagi ngobrol samping sungai Tonle Sap. Makanya kalau bergaul sama ini anak, cara berpikir kita jadi diajak putar arah , sama kaya dia makai kaus Bapak “Sosialis” ini di negara yang pernah punya sejarah kelam sama “Sosialis”.

Muka Bapaknya udah bete, dan saya udah gemeteran akhirnya, narik Bom-bom balik dengan alih-alih kita bisa digolok orang senegeri ini yang masih trauma sama praktek komunisme yang diterapkan oleh rezim Khmer Merah yang menewaskan jutaan penduduk Kamboja dalam revolusi Agraria. Selepas dari insiden mendebarkan itu, akhirnya kita putuskan balik hostel check out dan pesen tuk tuk seharga 6 USD ke bandara Siem Reap yang yah lumayan okelah, namanya juga kota turis. Akhirnya setelah 5 hari perjalanan Thailand- Kamboja kami, berakhir pulalah trip kali ini yang harus kita lanjutkan transit beberapa jam di Kuala Lumpur dan menjadi ajang buat Bom Bom bisa makan lebih leluasa lagi ( si Bom Bom bahkan layaknya balik kampung dengan bahasa Malay dia yang super lancar hasil cuci otak dia pas dulu PKL di Johor pas SMK). Good bye Cambodia….

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s