Langkawi : Drama Penyogokan Polisi

Perjalanan kali ini adalah kesalah satu ikon pulau pariwisata di Malaysia yakni pulau Langkawi dengan ciri patung Rajawali yang khasnya. Perjalanan ke Langkawi saya super singkat dan hanya dilewati dengan menghabiskan waktu 2H1M dari sela-sela libur kerja yang super singkat dengan budget hanya 500.000 IDR ( lagian kalau dengan budget segitu di Jakarta 2 hari libur juga habis segitu juga kan).

Berangkat dengan pesawat subuh dari Jakarta ke Kuala Lumpur dan mendarat jam 9 di Kuala Lumpur dan disambung penerbangan jam 11, jam 12 kami sudah mendarat di Bandara Internasional Langkawi yang landasan pacunya untuk ukuran bandara kecil luas banget.

Langkawi merupakan Geopark yang menjadi kebanggan Malaysia, walaupun untuk ukuran saya yang besar dan lahir di Bangka Belitung dengan pantai pasir putih dan air laut yang super bening ditambah dengan batu granit raksasa, pantai-pantai di Langkawi udah ga berarti apa-apa bagi saya. Tujuan saya ke Langkawi yah Cuma satu doank : LANGKAWI SKYBRIDGE.

Dasarnya pulau ini biar keasliannya tetap terjaga, maka tidak ada kendaraan bermotor diluar pulau yang boleh masuk ke pulau ini, tapi bukan berarti pulau ini terisolasi. Namun buat berkeliling pulau ini memang harus menyewa kendaraan atau naik taxi ( ini pun taxinya jarang-jarang). Begitu mendarat di bandara kecil ini (tapi ukurannya menurut saya pribadi cukup bagus). Sekeluar dari arrival hall, saya dan Aseng (teman jalan saya kali ini dari Pontianak) langsung ke konter informasi buat ambil brusor pariwisata sebanyak mungkin(soalnya saya ga suka riset terlalu mendalam sebelum ke suatu tempat, soalnya kalau udah terlalu banyak tau ntar kurang excited pas nyampai). Berhubung di Langkawi ga ada kendaraan umum, satu-satunya cara buat kita keluar Bandara yaitu naik Taxi. Taxinya jangan dibayangkan kaya taxi pada umumnya yang mobil sedan. Taxi disana mobilnya tipe-tipe mobil Van dan sekali jalan bisa angkut sampai 8 penumpang. Karena tidak ada pilihan, kami akhirnya sharing taxi dengan 2 turis Korea menuju pantai Cenang yang merupakan Kuta-Legiannya Langkawi.

 

Sepanjang jalan berjejeran toko-toko souvenir dan baju serta restoran dan penginapan. Berhubung duit yang saya bawa pas-pasan, saya hanya mampu nginap di hostel dengan dekor ala-ala Thai yang kami booking lewat booking.com seharga 30 Ringgit per orang. Dan rata-rata kamar di sepanjang Pantai Cenang mematok harga 100-200 Ringgit buat tipe kamar yang paling murah. Yah, akal-akalan saya hanya bisa ngitung angka duit aja yang memungkinkan tanpa peduli lokasi hostel kita yang kita terpencil di ujung kampung, serem, ada lokasi plus-plusnya malah ( oh iya ada ladyboy nya tampangnya serem banget). Berhubung kami ga ada duit buat nyewa tur atau mobil, sewa motor pun berjejeran disana. Cukup deposit 100 Ringgit dan biaya sewa motor sebesar 30 Ringgit, kami sudah bisa bawa motor seharian menjelajahi Pulau Geopark ini. Emang dasarnya kami yang ga mau rugi, selesai cek in di hostel kampret yang super pengep dengan drama dua turis China Daratan yang sepasang kekasih berantem dan berujung si Laki-nya kabur meninggalkan ceweknya sendirian yang depresi. Kamar mandi hostelnya juga ga kalah mengenaskan, airnya Cuma keluar ala kadarnya doang, udah gitu pintunya ga bisa dikunci rapat, dan yang paling heboh tentu aja kamar mandinya menghadap ke jalan raya dan perkampungan yang lumayan banyak rumah dan hanya ditutupin gorden yang ga bisa ditutupin penuh. Bahkan ada kejadian saya jadi ekhibisionis secara ga langsung pas mandi secara ga sadar gorden penutup kamar mandinya jatuh dan keseluruhan pemandangan dan ketelanjangan saya terekspos dari atas jalan raya dengan hilir mudik motor yang lewat ( untung jalannnya sepi).

Selesai mandi dan sudah siap dengan segara perlengkapan kita, berangkatlah kita ke Sky Bridge-nya Langkawi naik motor sekitar 30 menit dari pantai Cenang. Walaupun Langkawi penduduknya tidak sepadat di Pulau Penang, bukan berarti pembangunan disini tertinggal juga, memang dasarnya Malaysia yang pembangunannya merata, sekali lagi saya dibuat iri sama pembangunan mereka yang sampai ke pelosok-pelosok, jalanan mulus dengan lampu jalan yang masih berfungsi dengan sangat baik (bahkan di jalanan ditengah hutan rimba).

Perjalanan menuju Skybridge sangat gampang, sepanjang perjalanan hanya perlu lihat saja logo gondola dengan tulisan SkyCab warga hijau yang akan menggiring kita ke SkyBridge Langkawi. Sebelum masuk ke boarding point Sky Cab, kita akan masuk dulu ke Oriental Village yang berisi toko-toko dan ada jembatan gantung kayu di tengah-tengah danau berair hijau. Tidak ada yang menarik sama sekali dimata saya, namun berhubung mau ga mau harus melewati Oriental Village ini sebelum masuk naik Sky Cab, akhirnya kami sampai juga ke konter tiket kereta gantungnya ( Sky Cab), ada 2 versi harga yakni harga WNM ( Warna Negara Malaysia) dan harga Turis Asing. Kalau buat WNM bayarnya Cuma 15 Ringgit, dan buat turis asing 40 Ringgit. Sial, berhubung muka kami cukup meyakinkan buat mengelabui staf tiketnya, saya dan Aseng udah susun skenario kalau kita ngomong pakai bahasa Cina aja dan pas ngantri, dan pas udah sampai konter kita pakai Bahasa Melayu buat beli, pasti dikirain orang Malaysia dengan tampang dan muka kita yang sipit banget tapi bisa ngomong bahasa Melayu, mana lagi kalau bukan orang Malaysia biar dapat tiket yang harga super spesial.

Pas nyampai konter tiket, bahasa saya dibuat semelayu mungkin. Kalaupun bahasa Melayu saya kurang meyakinkan, saya bakalan pakai bahasa Singglish ala Malaysia aja biar meyakinkan ( ih rencana yang sempurna).

Saya : “tiket boleh beli dua ?

Mbak Tiket : “tige puluh ringgit”

Saya : ( sambil buka dompet kasih 50 ringgit nyodorin ke dia pura-pura bego padahal udah tau itu harga domestik)

Mbak Tiket : “ boleh ai lihat you punya IC “ ( IC = Identity Card= KTP)

Saya : (pura-pura budeg), “ apa cuba lagi cakap ?”

Mbak Tiket : “ IC lah, u due punya , kalau tak ade IC buleh tunjuk laisen( Licence= SIM)

Saya: “ Tak bawalah nih, urang depan tadi juga tak tunjuk IC lah ( terus keceplosan ngomong Bahasa Indonesia ke Aseng), Seng bagi uang pas donk Seng”

Mbak Tiket: Eh, you orang dari mane ?

Saya dan Aseng : “ From Jakarta” !!!!

Mbak Tiket : “ Empat Puluh Ringgit seorang , totally eighty ringgit’’ ( tanpa basa-basi kita langsung ditembak harga segitu yang mencekik)

Kita : “ Tai Kucing, gagal karena gemetaran takut ketahuan sih ga berani bohong lebih dalam, ga lulus audisi dan casting main pilem dah”.

Yah sudahlah, berhubung kedoknya udah terbongkar, kami akhirnya nurut aja dikasih tiket dan gelang sebagai penanda, akhirnya kami naik ke kabin kereta gantungnya dengan satu bule asal Kanada yang kerja di Kasino di Makau yang lagi jalan-jalan ke Langkawi. Oh iya, sebelum naik ke kereta gantung, kita diajak masuk auditorium nonton film 4D dulu seolah-olah kita lagi naik roller coaster, apa lagi coba tujuannya. Yah sudahlah, berhubung semua penumpang juga harus masuk, saya mah mumpung di auditoriumnya ada AC, numpang ngadem aja.

Sepanjang rute kereta gantung, ada 2 stasiun perberhentian sebelum naik ke puncak Gunung Mat Cincang. Perberhentian pertama kami turun dan lihat-lihat, ga ada pemandangan yang cukup menarik. Akhirnya langsung aja tancap ke destinasi terakhir, dan melihat Langkawi dari ketinggian. Wahhhh, emang dasarnya alam yang diciptakan sama Tuhan ga pernah cacat, dari puncak sini langsung keliatan Pulau Burau dan Laut Andaman dengan mata telanjang. Anginnya juga kencang, tapi tetap panas terik mataharinya. Dari perberhentian terakhir dari Sky Cab ini, bisa dilanjutkan naik ke SKY BRIDGE dengan bayar 4 Ringgit dan harus nulis registrasi dan tanda-tangan di formulir kalau naik ke SKY BRIDGE adalah kemauan kita sendiri tanpa ada paksaan dari pihak apapun, pihak pengelola tidak bertanggung jawab apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, begitulah kira-kira isi pernyataannya. Berhubung pas naik ke Sky Bridge ( Mei 2015), masih dalam tahapan renovasi, alhasil kita harus melewati jalan setapak yang curam di tengah hutan dengan pembatas ala-kadarnya, tapi pas nyampai SKY BRIDGE, pemandangannya oke banget . Laut Andaman dan hijaunya lembah gunung Mat Cincang terlihat jelas. Sekilas berasa sesak napas liat alam yang begitu indah, mungkin ini yang dinamakan breathtaking scenery kali yah, sekali liat pemandangan kaya gini langsung sesak napas.

DCIM100GOPROGOPR1618.
Di atas Sky Bridge dengan lantai kaca yang menghadap langsung ke bumi cukup bikin puyeng kepala
DCIM100GOPROGOPR1629.
Abaikan modelnya, inilah pemandangan diatas Sky Bridge dengan laut Andaman didepan..

Berhubung belum tentu kami akan kesini lagi, gaya foto-foto alay dengan modal GoPro Aseng, kami udah kaya terong-terongan ala-ala fotonya sampai malu. Tapi tenang aja, disini juga banyak orang Malaysia dan turis India juga yang kalau foto ga kalah Alay sama kita-kita koq. Menaiki jembatan langit ini cukup memacu adrenalin tatkala berdiri di lantai kaca yang langsung menghadap ke jurang. Dasarnya tujuan dibuat jembatan ini memang buat tujuan pariwisata saja sepertinya, jadinya lama-kelamaan jembatan ini jadi ramai sama pengunjung. Dan berhubung hari sudah sore dan perut kita udah kompak berkeroncong setelah 3 jam lebih disini, akhirnya kami putuskan buat balik, lagian tempatnya juga akan tutup jam 5. Jam 4 pas nyampai di Oriental Village yang ala-ala itu udah sepi dan toko-toko pada udah mulai tutup.

 

DCIM100GOPROGOPR1537.
Ini ini penampakan jembatan dengan kola berair hijau di Oriental Village, suasananya semakin sore semakin sepi.

Oh iya, perjalanan menuju dan meninggalkan lokasi Sky Bridge dan Oriental Village kita akan melewati hutan yang penuh dengan monyet-monyet lucu sepanjang jalan, bahkan ada yang segede bayi umur 3 bulan saking gedenya kita mesti ngebut motor kenceng-kenceng takut dikejar oiiii. Sebenernya tenang aja sih sama monyet-monyet menggemaskan itu, selama kita ga ganggu mereka, mereka ga bakalan ganggu kita koq, dan keberadaan mereka juga dijaga sama pemerintah sana, buktinya sepanjang perjalanan banyak papan larangan berburu satwa disini beserta denda dan kurungannya.

Berhubung jarang-jarang naik motor di negara orang dan lewat jalan mulus sepi tanpa macet, berteriak versi naik kora-kora di Dufan adalah bentuk melepaskan beban hidup selama di Jakarta bukan?. Akhirnya tiap masuk hutan yang sepi atau jalanan sepi, kami pasti teriak sekencang-kencangnya buat melepas stres. Sebelum sampai lagi ke Pantai Cenang, kami akhirnya berhenti sebentar menikmati sunset dan di jalan pantai samping Bandara dan ketemulah penjual makanan jalanan dengan mobil terbuka yang jual laksa , rujak, hingga cendol yang rasanya kali ini harus saya akui lebih enak dari yang pernah saya makan di Indonesia. Oh iya, entah kenapa kita seringkali mengklaim nama-nama makanan diatas adalah asli makanan Indonesia. Tapi pada dasarnya bukannya kita selalu bilang negara kita serumpun dengan Malaysia, jadi menurut saya pribadi yang namanya serumpun pasti bakalan banyak persamaan, baik itu bahasa hingga makanan dan budaya. Tapi memang laksa rujak dan cendol mereka menurut saya sih emang beda. Laksa disini masih pakai ikan sarden yang disiram. Kuahnya yang kental dengan siraman air jeruk buat menghilangkan rasa amis , rujaknya juga isinya adalah gorengan (bakwan, bakwan udang, cumi goreng sama serutan timun yang disiram dengan saos kacang kental), dan cendolnya emang sama kaya cendol kita. Harga seporsi makanan jalanannya murah banget, dengan 4-10 ringgit kita udah bisa makan makanan enak ini dengan disamping laut tenang memandang Laut Andaman nonton sunset. Eh, koq jadinya berasa kaya Jimbaran versi melayu yah ?.

 

DCIM100GOPROGOPR1661.
Inilah Laksa Power Pantai Airport yang sering masuk TV katanya. Harganya emang murah, Rojak Mahsurinya emang juara.
DCIM100GOPROGOPR1656.
Makan malam (jam 18:30 matahari baru mau tenggelam), dengan latar belakang pantai dengan menu rujak, laksa dan cendol dengan mangkok kaleng yang murah banget. total semua makanan cuma sekitaran 20 Ringit.

Menjelang hari sudah gelap, kami lanjutkan perjalanan balik hostel buat mandi setelah seharian bau keringat. Kali ini saya mandinya sudah was-was dengan gorden yang selalu saya pegang biar ga pamer lagi. Berhubung malam dan bensin motor kami udah mulai mengering, kami putuskan ke isi bensin dulu. Jangan berharap gampang isi bensin di sini, buang jauh-jauh kebiasaan kita yang dimanjakan hidup enak di Indonesia yang bisa ketemu PERTAMINI-PERTAMINI di warung-warung bahkan ditengah hutan sekalipun. Disini satu-satunya cara yah harus ke pom bensin mereka, yang paling terkenal yah tentu aja Petronas. Berhubung pom bensin Petronas terdekat dari pantai Cenang masih sekitar 15 menit naik motor, yang ada motor kita keburu kehabisan bensin sebelum sampai. Akhirnya kami putuskan isi bensin di Shell di Jalan Johor Tempoyak kalau ga salah nama jalannya. Dasarnya kita yang udah biasa dilayani, sekali sampai kita bingung dong disini semuanya self service. Cara isi bensinnya , yah kita bayar di konter dulu yang menyatu sama minimarket Rimbun Hijau-nya mereka. Abis itu tinggal ke pom tekan tombol dan pencet nokelnya dan minyak akan keluar otomatis, dasarnya saya yang ndeso beli minyaknya 10 ringgit dan minyaknya sampai luber keluar-luar dan alhasil bensin yang diisin hanya 7 Ringgit doang, lah rugi bandar dong sisa bensin 3 Ringgit jadi berkah buat orang yang ngisi abis kita. Yah sudah lah, kami akhirnya lanjutkan perjalanan ke Hostel ambil barang buat makan malam di Pantai Cenang , pas turun ambil motor ada bule yang motornya mogok gara-gara ga bisa di starter, alhasil dasar bule ndeso ga ngerti cara pakai motor, ga tau cara engkol motor yang akhirnya berhubung kita sebagai orang Indonesia yang terkenal suka menolong ini langsung nawarin pertolongan buat engkol motornya, sekali engkol udah langsung nyala, dan si Bule udah terperangkap dalam percobaan menyalakan motor selama setengah jam. Eh ternyata dia juga mau ke Pantai Cenang juga. Tapi kita ga jalan bareng, soalnya beda kantong ui.

Sesampai di pantai Cenang, motor kami parkir di jalanan dan kita berjalan sepanjang jalan lurus yang isinya banyak Chinese Restaurant yang lebih ramai, karena mereka menyediakan Bir yang jadi air putihnya bule-bule. Nah, kalau restoran melayunya malah sepi melompong. Berhubung kalau makan di restoran yang ramai sama turis udah pasti kami ga mampu, akhirnya kami berlabuh juga di tepi jalan makan makanan yang dijual sama mak cik-mak cik yang jual ayam panggang hingga sotong panggang dengan harga yang tentunya lebih terjangkau. Dan beruntungnya disini memang banyak bertebaran bar-bar dan restoran kaya sepanjang jalan Kuta , tapi disini koq rasanya senyap banget tanpa dentuman musik, yang ada malah penyanyi jalanan yang kalau saya tebak pasti Orang Indonesia ( semua lagu yang dia nyanyi adalah lagu Ungu dan Peterpan), eh pas dia ngomong sama sekali ga ada logat Melayunya, malah pakai Bahasa Indonesia layaknya yang kita pakai. Eh, tapi yang nonton malah bejibun sama turis-turis dengan gemuruh tepuk tangan. Padahal kalau yang kaya gituan di Bandung yang pengamennya aja suaranya ga kala sama Judika juga berjamuran. Kalau diekspor pasti laku kali yah mereka.

DCIM100GOPROGOPR1662.
Ini dia penampakan ruang komunal hostel kita, nyamuknya banyak kamar kita di lantai 3.

Dasarnya Malaysia yang memang pinter mengemas wisatanya yang sebenernya isi wisatanya ga terlalu WOW, tapi dibungkus dengan paket , kemudahan akses hingga ramah turis yang buat wisata mereka sangat mudah dijangkau. Bahkan tiap distrik punya official website yang informatif dan user friendly. Bahkan harus saya akui, tampilannya jauh lebih user friendly dari situs resmi Wonderful Indonesia di Indonesia.travel yang tampilannya sampai sekarang menurut saya masih jauh dari informatif. Beda banget sama situsnya YourSingapore atau VisitMalaysia, apalagi TourismThailand yang emang udah juara se-ASEAN. Tapi, sekarang pariwisata kita sudah mulah berbenah, mudah-mudahan pemerintah kita sadar yah, kalau website pariwisata kita (dari kacamata saya pribadi) bahkan ga sebagus website hotel-hotel atau maskapai Airasia atau Garuda Indonesia. Jadinya dengan promosi yang gencar, Langkawi yang menurut saya pribadi kontur alam dan budayanya aja ga lebih bagus dari pulau Bangka bisa menjadi buah bibir turis internasional. Indonesia mestinya bisa, aminnnnnnnnn.

WP_20150526_018Pemandangan jalan Pantai Cenang dimalam hari, senyap dan tidak ada dentuman musik layaknya Legian di Bali.

Begitu hari udah malam, menjelang jam 11 akhirnya kami balik ke Hostel buat tidur dan berhubung di kamar ga ada colokan listrik, kami harus turun ke ruang komunal yang sekaligus sebagai dapur yang ga terurus itu buat numpang isi batere dan untungnya wifi-nya kenceng dibawah. Dasarnya kita yang udah capek jalan-jalan seharian, akhirnya ajakan BBQ bareng sama bule-bule yang didepan hostel harus kita abaikan. Soalnya besok pagi kita harus berangkat ke Eagle Square di Kuah.

 

Keesokan harinya,

Jam 7 teng, kita udah bangun mandi dan check out. Pesawat kita ke Kuala Lumpur jam 4 sore, kita masih punya banyak waktu buat jalan-jalan ke sisi lain Langkawi. Berbekal motor kita masih full bensin tadi malam, kita rencanya mau ke Legenda Park dan Eagle Square. Perjalanan naik motor dari Cenang ke Kuah memakan waktu sekitar 40 menit, kita mesti melewati hutan-hutan lebat sepanjang pesisir pulau. Dan masyarakat Melayu sepertinya menjadi mayoritas di Pulau ini, beda dengan pulau tetangga ( Pulau Penang/Pinang) yang orang Tionghua yang jadi mayoritas. Di Langkawi pun makanannya sarat dengan makanan Melayu. Eh, jalanan di pulau ini juga bagus tanpa cacat, memasuki jalanan kota, kami tetap aja record video sambil naik motor yang dipelototin banyak penduduk disana. Eh, sekali masuk ke Kuah, koq pusat niaganya jauh lebih menggeliat di kawasan ini ketimbang Cenang yang jadi kawasan wisata aja. Sialnya,pagi itu mendung dan kami terpaksa harus merelakan ga ke Legenda Park, dan ke Eagle Square aja dan numpang setoran di Kuah Jetty. Ternyata banyak turis dari Tiongkok yang kesini, buktinya pas di kuah Jetty, banyak muka-muka sipit dengan aksen Tiongkok yang khas banget dan bergerombol baru sampai. Impian saya foto di patung Elang yang legendaris itu akhirnya terlaksana. Ternyata Langkawi itu seringkali digunakan sebagai lokasi buat konvensi tingkat internasional, kalau kita di Indonesia ada Nusa Dua di Bali. Maka pasar MICE Malaysia juga ada di Langkawi juga, buktinya pas kita kesana ASEN SUMMIT yang ke 26 baru aja kelar. Lagian di Langkawi banyak hotel dengan nama besarnya seperi Westin dan Four Point juga. Sebelum balik ke Cenang kita sempatkan ke Pantai Tanjung Rhu buat sekedar main ke Pantai doank merasakan pantai Langkawi yang tenang.

DCIM100GOPROGOPR1687.Patung Elang di Eagle Square terletak persis samping Kuah Jetty.

Berhubung kita belum sempat beli oleh- oleh dan udah puas keliling Kuah dan Eagle Square, kami putuskan balik lagi ke Cenang dan singgah ke toko DUTY FREE yang berceceran dimana-mana di Langkawi. Emang dasarnya Langkawi terkenal banget sama barang-barang Duty Free, sesampai di Cenang dan parkir motor di jalan, saya dan Aseng keluar masuk toko Duty Free sambil borong coklat-coklat yang menurut saya ga murah-murah amat (atau emang dasarnya saya yang males beli oleh-oleh).

Waktu kita sisa 3,5 jam sebelum penerbangan kita, dan berhubung bandaranya dekat banget sama Pantai Cenang. Kita putuskan buat makan dulu (yang pada akhirnya ga terlaksana karena ada insiden yang nanti saya ceritakan dibawah) sebelum ke bandara, dari toko Duty Free kita akhirnya harus balikin motor sewaan kita yang berjarak sekitar 500 meter dari toko. Karena kondisi jalan yang sepi dan udah deket banget, kita naik motornya santai aja menjajal jalanan yang sepi siang itu.

Tiba-tiba,…..

Nguiinggg nguinggggg nguingggg, bunyi alarm dibelakang kita, dan tiba-tiba muncul dua polisi Diraja Malaysia dengan motor Robocop mereka mepet motor kita dan suruh berhenti. Gila, panik banget saat itu, mampus salah apa kita ?.

Pas kita udah dalam posisi berhenti sempurna, kita disuruh keluarin SIM dan segala dokumen berkendara. Eh semuanya lengkap, tapi kenapa dia keluarin surat tilang dan suruh kita bayar denda 500 Ringgit dan kurungan penjara 5 hari. Eh ternyata, gara-gara ga pakai helm. Mampus , mana bentar lagi kita harus ke bandara. Kenapa harus berurusan dengan polisi begini di saat-saat terakhir. Mana polisinya ga mau diajak ngomong bahasa lain selain bahasa Melayu. Akhirnya , karena pengalaman kita kalau ditilang, penyelesaian win-win solution kita kalau di Jakarta kan kebanyakan berakhir damai di jalan. Tapi, seram juga oi di negara orang kita nyogok, yang ada kita malah dijebloskan ke penjara bertahun-tahun atas dalih praktik KKN.

Akhirnya saya dan Aseng dengan bahasa Khek isyarat yang udah pasti polisinya ga ngerti kita ngumpetin semua sisa duit didompet di kolor dan sisain masing-masing 50 Ringgit di dompet dan saya dengan tampang sok tenang coba negosiasi damai.

Saya       : “Sir, kita orang flight nya dah nak sekejap berangkat” ( sambil nunjuk boarding pass yang udah kita cetak semenjak di Kuala Lumpur)

Polisi      : “ I tak nak dengar you orang cakap, you orang dari mana datang, kenapa tak pakai helmet ?

Saya dan Aseng : “ Dari Jakarta Sir

Aseng   : (“Dengan akal-akalan dan jurus basi dari Jakarta) tadi kepala saya gatal, dan helm-nya panas makanya saya ga pakai helm Pak ?”

Polisi      : “ I tak mahu tau, you orang datang main ke Malaysia pun kena patut turut hukum di Malaysia, you pun tak ada license Malaysia, tolak hukum sini patut kena fine 500 ringgit, nanti lewat court dan masuk bekam 5 hari, tak boleh balik Indon” ?

Saya       : “Tapi Pak, kami tak ada duit lagi nak bayar, uang kami sisa sikit lepas beli coklat(sambil buka tas yang isinya coklat semua), boleh tak kami bayar denda dengan sisa duit kami disini “ ?

Dan polisi yang satunya tiba-tiba tiup peluit dan menilang lagi satu turis yang naik motor tanpa pakai helm. Jadi tiap polisi handle masing-masing kliennya. Dan tiba-tiba polisi yang tilang kami menyambung gayung penawaran saya.

Polisi      : “ you orang punya duit berape?”

Saya       : “ 50 ringgit sahaja Sir, itupun nak naik teksi buat ke airport selepas balik motor nih”

Polisi      : “(dengan tampang ketus dan sok tegas), tak boleh, you bedua boleh ikut saya ke kantor polis, masuk bekam 5 hari, tak boleh masuk Indon, you tolak hukum Malaysia, lepas tuh tak boleh datang Malaysia lagi.”

Mampus, kalau saya nanti ga boleh ke Malaysia lagi bisa hancur karir jalan-jalan saya. Dan polisi yang nilang turis tadi udah selesai disogok 500 Ringgit damai ditempat. Sisa kita 2 lawan 2 sekarang, pasti ada celahnya buat damai ditempat, belum tau dia kita udah terlatih damai ditempat sama polantas di Jakarta.

Saya       : “ boleh lah Sir (sambil nunjuk ke turis yang udah pergi naik motor yang sekarang udah pakai helm), saya boleh kasih 50 ringgit saja dan kita orang masih ada deposit di rental motor, kite boleh pakailah deposit buat naik teksi selepas tuh, dan kita punya flight lah nak terbang 2 jam lagi (sambil nunjuk boarding pass).

Polisi      : ” Tak bolehlah, you orang datang sini lancong atau kerja ?”

Saya       : “Melancong lah Sir, boleh tak kami settle fine disini sahaja, tak payah ke court lagi, kami tak ade masa lagi nih”

Polisi      : “ you punya kawan ada berapa duit , lepas tuh you bolehlah cakap sama ai punya Bos (sambil nunjuk Polisi 2)”

Yes, udah ada titik terang penyogokan kali ini

Saya       : “(sambil jalan ke polisi 2), Sir bolehlah kami settle disini saya punya 50 Ringgit, dan teman saya punya sisa ringgit, selepas tuh tak ade cash lagi kami”

Polisi 2  : “ yolah , seorang 50 Ringgit (sambil ambil pulpen dan surat tilang dan kasih kode ke kami jalan deket pohon biar aksi penyogokan ga terlihat massa)”

Polisi 1  : “ you (sambil nunjuk saya), letak duit sini (sambil nunjukin buku tilang dia) dan pretend you sign sini (sambil ngasih pulpen)”

Sayapun akhirnya dengan mengendap-ngedap ambil 50 Ringgit saya dan dengan gerakan kilat taruh 50 Rinngit di sela-sela buku dan pura-pura tanda tangan di surat kosong, seolah-olah saya harus ke pengadilan dengan catatan surat tilang, hal yang sama dilakukan oleh Aseng dengan mengendap-ngendap di samping pohon.

Polisi 1  : “lah, you orang boleh pegi, lepas tuh you orang boleh balik motor ke rental, pakai helmet”

Saya dan Aseng                : “Makasih Pak, Sorry aahhhhh” (sambil melengos dan udah pakai helm batok busuknya lagi)

Sialan , prahara polisi Malaysia yang sama brengseknya dengan polantas yang punya banyak sidejob, menguras kantong kita. Ini adalah penyogokan dan tilang paling mahal dalam hidup saya. 50 Ringgit dengan kurs saat itu 3,750 IDR per Ringgit, bisa dibayangkan mahalnya tilang dari saya. Dan dasarnya si Aseng yang tajir, disuruh nyogok 50 MYR, malah ngasih 100 MYR (375.000 IDR cuii). Total kita nyogoknya 150 MYR atau hampir 500.000 IDR. Sial, tapi bisa dibayangkan kan bule yang udah nyogok 500 MYR (sogok jutaan) udah bisa sewa mobil kali itu beserta sopir-sopirnya, tapi yah sudahlah, duit segitu kan Cuma geli-geli doank bagi orang Eropa ( Orang Belgia pas saya curi pandang liat SIM-nya).

WP_20150527_005Traktiran Aseng dengan promo kartukredit bank C**B N***A terbitan Indonesia yang mestinya ga berlaku dalam term and condition-nya di Bandara Langkawi.

Yah perjalanan kita di Langkawi harus di akhiri dengan manis buat polisi kampret sialan itu, setelah balikin motor, kami masih dimintain testimoni sama rental motor gimana pengalaman pakai motornya, saya ceritain aja kalau barusan kita ditilang. Bukannya bersimpati, eh dia malah tanya udah disettle belum sama polisnya?, plat motor mereka ga dicatet kan ?. Yah, kalau dia nanya damai ditempat, berarti dia udah tau donk polisi sana bisa disogok , berarti saya bukanlah korban pertama dari polisi kampret itu?

Eh, sepanjang perjalanan ke bandara terasa sunyi gara-gara harta yang terkuras habis, duit-duit di kolor udah saya simpan di dompet lagi. Dalam hati kesel sekaligus senang sih dari insiden yang hampir masuk penjara itu, tapi disisi lainnya malah senang minta ampun. Ternyata selama 2 hari di Langkawi yang rata-rata bikin saya merasa inferior kalau dibandingin kondisi di kita, eh malah kelakuan busuk polisi disana juga ga kalah busuk sama polisi kita. Alhasil, sebagai permintaan maaf Aseng gara-gara ga pake helm , sesampainya di Bandara si Aseng traktir saya makan Laksa Penang dengan diskon pakai Bank terbitan Indonesia yang emang dari bank asala Malaysia yang mestinya ga berlaku dalam term and condition promo yang menyebutkan “the card should be issued from Malaysia”. Yah sudahlah, kartu kita kan dikeluarin di Indonesia, mestinya ga berlaku donk promo 50% nya, tapi yah sudahlah kita juga udah dikuras sama polisi kalian. Giliran kami yang manfaatin promosi bodong lu…. Good Bye….

 

Sepanjang nunggu penerbangan kita, kita masih was-was dicekal pihak keamanan dan ga berani posting yang aneh-aneh di media sosial soal penyogokan super mahalnya kita. Takut dicekal di imigrasi kan berabe, tapi jujur ini pengalaman yang paling mengesankan dari semua momen perjalanan di Langkawi.

Advertisements

2 thoughts on “Langkawi : Drama Penyogokan Polisi

  1. hi,
    baca cerita kalian bikin ngakak,sementara sy nunggu pesawat air asia dari langkawi ke kl hr ini,iseng iseng baca pengalaman kalian.
    btw,pengalaman yg ta setiap org ngersain kecuali orang nekad,ha ha ha.

    1. Hi Erza, thank you commentnya. iya emang kadang-kadang kudu nekad buat jalan-jalan biar berkesan. Apalagi jadi “pelarian kriminal” yak. Semoga perjalanannya di Langkawi juga lebih berkesan lagi. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s