The Lucky Bastard at Bali

Seminggu setelah memutuskan resign dari tempat kerja saja sebagai front liner disalah satu hotel berbintang di Jakarta Pusat sekaligus menghapuskan trauma bom di Sarinah yang lokasinya sangat dekat dengan bekas tempat kerja saya. Saya putuskan jalan-jalan sebentar ke Bali selama seminggu sebelum saya melanjutkan perjalanan pulang Bangka Belitung dan perjalanan ke Thailand Utara sendiri.

Ke Bali kali ini memang sebenarnya tidak ada rencana sama sekali, saya sudah membeli tiketnya jauh sebelum berangkat. Mungkin sekitar 6 bulan yang lalu dan saat itu saya masih belum ada rencana buat resign. Berhubung tiketnya berlaku pas saya lagi luang, akhirnya saya memutuskan ke Bali yang udah sering saya kunjungi ( saya bahkan pernah kerja di Bali juga). Rasanya malas juga kalau ke Bali jalan-jalan lagi ke tempat yang sama. Saya juga sudah mulai trauma gara-gara kulit gosong yang mengelupas kaya ular ganti kulit setelah seharian naik motor dengan matahari yang super menggigit di Bali ( gosongnya sih sebenarnya yang dicari, tapi masa-masa kulit mengelupas itu yang bikin malunya minta ampun dan seketika kulit saya kembali ke aslinya ).

Berhubung saya sudah sering banget jalan-jalan di Bali tapi nginepnya di hostel-hostel dan guest house. Kali ini saya akhirnya memutuskan tidak mau kemana-mana selama di Bali. Cukup menginap di hotel aja dan jalan-jalan sekitaran Kuta Legian dan wisata malam dikit aja.  Jalan –jalan kali ini agendanya cuma menikmati fasilitas hotel aja.

Pas hari keberangkatan pas di Jakarta dan pas lagi nunggu di boarding lounge, tiba-tiba ada pasangan muda yang kepo duduk tepat samping saya (padahal masih banyak kursi kosong tersedia sepanjang ruang tunggu Bandara Soekarno Hatta). Sambil sok-sok menarik perhatian, si cowoknya pasangan muda itu menyebut-nyebut nama mantan tempat kerja saya yang baru tinggalkan seminggu yang lalu. Saya sok curi-curi pandang, ga kenal koq ini orang koq sotoy yah ? eh, pas dia nanya ke sana kalau Mas kerja di hotel X bukan yang saya iyakan. Oh ternyata saya pernah ketemu pas dulu kita sekitar setengah tahun yang lalu sempat ketemu pas wawancara di Hotel Y yang merupakan hotel bintang lima paling fenomenal yang buka di Jakarta Selatan. Sayanya lolos sampai tingkat akhir dan dianya tersingkir di tahapan ke dua (songbong dan pamer). Eh akhirnya terjalinlan obrolan seputar dunia hotel yang begitu sempit.

Berawal dari obrolan dengan si pasangan muda itu yang perdana jalan-jalan ke Bali, tercetuslah ide buat sharing ongkos taxi yang sama-sama berangkat ke hotel di daerah yang sama, Cuma beda hotel yang akhirnya kita bisa hemat duit 40.000 IDR sehari. Selama 5 hari di Bali, saya menghabiskan hari-hari saya di Hotel, ke Mall terdekat dan ke Pantai saja dengan jalan kaki. Di hotel saya menjajal semua fasilitas hotel dan nyari makan dengan view yang oke di Mall Beach Walk, eh saya sekarang malah betah-betahan nongkrong di starbuck hanya buat nulis-nulis catatan perjalanan saya sebelumnya dan coba-coba melengkapi rencana masa depan saya buat buka usaha dan tentu saja pamer di media sosial. Eh, setelah berhari-hari melewati hari yang sama dengan kegiatan yang sama, koq saya bosan tinggal di hotel dekat pantai Kuta yah?

Berhubung keuangan saya yang memang tidak begitu stabil mengingat sekarang saya resmi menyandang status pengangguran sementara. Saya menginapnya di hotel budget yang punya kolam renang. Karena itu penting buat saya cari suasana kalau lagi bosan di kamar hotel. Malamnya saya main-main ke daerah Legian (walaupun saya bukan tipikal anak gahoel ala anak Jakarta), saya hanya menikmati suasana yang hidup aja di kawasan ini yang sebenarnya saya udah bosen lewat sini yang dulu pas kerja di Bali tiap hari saya lewati.

Akhirnya karena mati bosan selama beberapa hari di kawasan ini buat melepas nostalgia saya yang dulu kerja di Bali, saya putuskan membeli voucher menginap di hotel dengan embel-embel Hotel and Villa. Berhubung ada promo dari salah satu situs travel agent online terkemuka, dan poin rewards saya yang sudah menggunung akhirnya saya tukarkan dengan kupon menginap semalam pas malam terakhir saya di Bali dengan tipe kamar standar. Saya sengaja berangkat pagi biar bisa early check in yang biasa saya akalin dengan habis penerbangan jauh yang mendarat subuh-subuh di Bali dengan mengemis belas kasihan resepsionist yang sebenarnya tiap hari saya hadapi dari tamu-tamu tipe ini pas kerja (eh sekarang saya malah niru –niru trik busuk mereka). Alih-alih mendapat kamar, hotel nyaris gratis yang saya Cuma bayar harga 80.000 IDR ini masih belum siap sama sekali dengan tamu-tamu in house yang hilir mudik komplain mati air dan mati lampu di kamar-kamar hotel. Resepsionisnya kewalahan melayani tamu. Pas giliran saya yang registrasi masuk, si mbaknya bilang kalau kamar standar mereka seluruhnya dalam satu gedung mati lampu dan air sampai waktu yang tidak dapat dijanjikan, jadi ga bisa early check in. Dan disamping saya terjadi kegaduhan antara resepsionis dan tamu inhouse  dari Tiongkok yang ngerocos bahasa cang cing cung ngomel-ngomel pakai piyama sambil berpantonim yang hanya dibalas dengan tatapan bingung dari resepsionis hotel karena tidak mengerti bahasanya. Emang karena dasarnya saya yang bejiwa “babu”, mendengar keluhan tamu jadi membawa saya lupa peran saya sebagai tamu bukan lagi sebagai resepsionis hotel. Saya jadinya coba menerjemahkan maksud tamu samping saya dari hasil curi-curi dengar kalau tamunya komplain kalau kamarnya ga ada listrik dan air. Gimana caranya mereka bisa mandi dan tidur di kamar yang saya jelaskan ke resepsionis hotelnya.

 

Eh si mbaknya malah senang banget suruh saya bantu jelasin kalau semua kamar di gedung yang sama sedang mengalami masalah yang sama karena supply listrik dari PLN lagi mati gara-gara hujan badai tadi malam. Cas cis cus ces cos, saya coba bantu jelaskan pesan dari si mbaknya ke tamu yang sebut saja namanya Aling yang belakangan diketahui berasal dari Beijing sebagai banker. Si tamunya berasa disiram air surga langsung nanya saya mereka harus gimana donk dengan kondisi kamar kaya gini. Eh dasarnya saya yang lupa peran, tanpa basa-basi minta izin sama pihak hotel kalau nanti kamarnya akan di pindahkan dan di upgrade  gratis ke tipe kamar lain yang lebih bagus, jadi si Aling dan keluarga tinggal packing barang-barang aja dan nanti kalau udah siap langsung telpon aja ke resepsionis, nanti dikirimin bellman  bantu pindain barangnya. Lah saya lupa kalau itu adalah standar yang kami terapkan di hotel tempat saya kerja, saya lupa peran, saya lagi ga kerja saat itu, saya kan posisinya sebagai tamu.

Untungnya saat itu pas saya jelaskan keluhan tamu ke mbak resepsionis, yang saya lebai-lebay-in aja kalau tamunya lagi upset  parah dan minta pindah kamar segera. Eh ternyata benar solusi yang saya tawarkan memang sudah disiapkan oleh pihak hotel buat persiapan tamu-tamu komplain. Alhasil karena bantuan saya sebagai penengah dan staf hotel dadakan saya langsung dihadiahkan free triple upgrade dari tipe kamar standart ke kamar Villa dengan fasilitas yahud dan kamar yang oke banget. Ga mau menyia-nyiakan kesempatan ini, kenorakan saya keliatan langsung pas masuk kamar langsung embat abis semua welcome fruit, mandi telanjang dengan langit terbuka di private poll depan kamar, dan tentu saja berendem sampai keriputan di Jacuzzi sampai keriput. Maklum, walaupun saya sering lihat fasilitas-fasilitas hotel yang yahud itu, sebagai karyawan hotel kami dilarang keras menikmati fasilitas tamu yang seperti itu. L

Seharian menikmati fasiltas hotel dengan segala bentuk kemanjaan vila yang saya dapatkan. Ga nyampai sehari aja kulit dan muka saya rasanya sudah mulai bersih dan bersinar-sinar bersih karena memang dapat fasilitas menginap yang paling layak dari semua penginapan yang pernah saya inapi selama ini. Kamar Vila dengan King Size Bed, lengkap dengan bathtub, dan dilengkapin outdoor bathroom  dengan private pool serta Jacuzzi didalam kamar yang seluas 1 kamar Junior Suite kalau di tempat kerja saya yang lama ini emang rasanya pewe  banget. Saya seharian berendem, mandi lagi, terus baca buku sampai uring-uringan di kasur saking noraknya mendapatkan kemewahan dengan harga dibawah Rp 100.000. Menjelang malam, saya merencanakan mau nonton film aja ke Beach Walk Mall dengan menumpang shuttle  hotel yang tiap 1 jam sekali ada jadwal drop ke Beach Walk Mall. Eh, pas lagi nunggu shuttle, si Aling dan papanya lagi mati bosan seharian di kamar hotel nyari udara sebentar di lobi hotel berpapasan dengan saya. Eh akhirnya terjalinlan percakapan singkat kalau mereka masih belum kemana-mana selama 2 hari di Bali selain di hotel dan ga tau apa-apa tentang Bali. Satu-satunya tempat yang mereka tahu cuma bandara dan hotel doang. Dan saat ini mereka lagi pengen nyari tempat makan makanan Indonesia, tapi ga tahu dimana carinya dan naik apa perginya. Berhubung saya yang jalan-jalan sendiri juga, apa salahnya saya ajak aja sekalian main ke Kuta juga naik shuttle gratis dari hotel, sekalian bisa cari makanan Indonesia di Warung Made aja yang kenyataanya juga banyak menyediakan masakan bule juga sih.

Jam 5 teng shuttle hotel sudah siap mengantarkan kami bertiga ke Kuta, ih senengnya si Aling dan Papa-nya akhirnya selama 2×24 jam pertama mereka bisa keluar hotel jalan-jalan. Walaupun dengan bahasa Mandarin saya yang sangat minim dan ala kadarnya, mereka mampu menangkap semua ucapan saya, kita ga pakai bahasa isyarat sama sekali, saya juga koq tiba-tiba merasa tersihir mengerti apa yang mereka omongin seharian. Berhubung keluarnya sama orang lokal (baca:saya), mereka berdua merasa punya guide pribadi. Lokasi pertama yang kita singgahi yakni Kartika Plaza Mall samping hotel Discovery Bali. Kesan pertama mereka udah berasa kaya lagi di China aja karena saking banyaknya turis turis dari China Mainland yang membanjiri Bali. Kemana-mana pasti ketemu sama teman sekampung halaman mereka. Sesampainya di belakang mall yang menghadap bibir pantai mereka tambah syok lagi pas mau nonton sunset di Bali yang emang nomor wahid sedunia ternyata disemuti sama turis-turis dari China Daratan. Selesai liat sunset, kami lanjutkan jalan-jalan cari souvenir sepanjang jalan Legian yang dipenuhi yang berakhir tida beli apa-apa karena cara belinya kita hanya disimpan dalam bentuk gambar aja alias numpang foto barang jualan orang. Saya bahkan seringkali disangka anak dari mereka karena kontur wajah kami emang serupa (wajarlah, kan katanya masih sama-sama generasi *keturunan naga). Memasuki jam makan malam, saya yang udah liat si Papa Aling mulai capek akhirnya mencegat taksi ke Warung Made buat makan malam yang mereka request tempatnya ga boleh jorok dan bisa bayar pakai kartu kredit internasional dan pelayannya ga pakai baju bau keringat, gara-gara trauma kemarin mereka sempat makan di warung pecel depan hotel yang tempatnya menurut mereka kurang hyegine dan hanya menerima pembayaran cash saja.

Sesampainya di Warung Made dengan ongkos taksi yang mereka bayarin, akhirnya hidangan babi guling khas Bali, Sayur asem, Gado-gado, Nasi Campur , Sate Lilit dan ayam Taliwang tersaji di meja makan kami. Dan tentu saja 3 botol Bir Bintang sebagai pelepas dahaga. Saya yang emang dasarnya ga mampu bayar mahal buat makan setiap jalan-jalan ga mau melepaskan kesempatan makan gratis dan jadi guide dadakan yang hanya dibayar makan gratis. Acara nonton yang saya rencanakan awalnya akhirnya saya batalkan saja demi makan gratis di tempat makan yang layak kali ini. Saya yang ga minum minuman alkohol saja bela-belain habisin sebotol penuh bir dari mereka. Walaupun berakhir dengan muka saya yang memerah udah kaya babi pangggang yang tersaji didepan meja makan kami. Menolak tawaran makan atau tidak menghabiskan makanan atau minuman dalam perjamuan  dalam kultur orang Tionghua kan berarti tidak menghormati orang si tukang traktirnya (itu yang saya dulu dapatkan dari keluarga pas masa kecil, yang saya ga tau itu berlaku juga untuk orang China Mainland), yang menurut saya mestinya berlaku juga walaupun leluhur saya berasal dari China Selatan dan si Aling dan Papanya totok dari Beijing yang berarti orang utara. Tak disangka ternyata mereka suka banget sama sate lilit dan gado-gado dengan siraman saos kacang yang super duper enak. Mereka bahkan sampai beli buat bungkus pulang bawa ke hotel makan nanti. Semuanya habis sekitar 900-an ribu. Ga terlalu mahal sih sebenarnya kalau buat mereka yang punya duit buat jalan-jalan, tapi duit segitu kan udah jadi budget jalan-jalan saya buat 5 hari.

Selama kita makan, banyak banget bahan obrolan kita. Si Aling tertarik sama buda-budaya di Indonesia , sedangkan papanya suka nanya masalah sosial politik WNI keturunan di Indonesia seperti saya. Si Aling begitu antusias pas saya ceritain kalau nanti bulan depan diseluruh pulau Bali akan ditutup buat kegiatan umum, baik Bandara , Pelabuhan, Jalanan hingga semua fasilitas publik hening seharian buat merayakan hari raya Nyepi. Tapi akan ada pawai ogoh-ogoh sehari sebelum Nyepi. Banyak pertanyaan dari Aling yang kadang-kadang saya juga ga ngerti kenapa banyak penjor sepanjang jalanan. Kenapa tiap jam 6 sore di TV Nasional Lokal ada iklan yang ngajak orang sembayang , kenapa banyak ukiran penis yang dijual sepanjang jalanan di Kuta, kenapa ada pohon yang disarungin kain hitam putih kotak-kotak, dan masih banyak pertanyaan pertanyaan lainnya. Si Papa Aling justru tanya soal-soal awal kedatangan keturunan Tionghua di Indonesia dan peristiwa kerusuhan tahun 1997 yang cukup traumatik sampai sejarah bipatrida orang keturunan di Indonesia. Jawaban saya Cuma ala kadarnya karena keterbatasan pengetahuan saya akan asal usul nenek moyang kami yang menjadi hal tabu buat diceritain sama orang tua saya pas zaman orde baru. Tapi, berbekal apa yang pernah saya baca, yah saya ceritain aja kalau saya dan keluarga leluhur kami dan banyak warga keturunan di Bangka adalah Suku Hakka (salah satu suku bangsa yang diakui di Republik Rakyat China) yang datang dari Provinsi Guang Dong yang awalnya datang ke Indonesia sebagai butuh tambang timah di Bangka. Kenapa kami orang-orang keturunan tidak banyak yang jago berbahasa Mandarin fasih kaya orang keturunan di Singapura atau Malaysia ?, semua yah karena itu adalah bahasa tabu pada zaman orde baru, yang akhirnya banyak generasi muda kaya saya tidak bisa berbahasa Mandarin. Adapun kalau bisa juga dari hasil belajar di sekolah setelah era keterbukaan buat belajar bahasa Mandarin. Kalau untuk peristiwa tahun 1997, saya tidak punya jawaban apa-apa ke Papanya Aling karena isu ini juga masih menjadi isu abu-abu.

Selesai obrolan panjang lebar dan cukup nyambung dengan bekal sedikit pengetahuan tentang Indonesia, saya ajarin mereka sedikit banyak Do and Don’t  di Indonesia kaya kalau kebiasaan bersendawa kencang selesai makan itu kurang sopan, tangan kiri harus dihindari kalau berinteraksi secara fisik seperti menerima barang atau memberi barang, memegang kepala orang yang lebih tua ga boleh, dan tentu saja kata-kata makian dan sedikit kata-kata jorok yang bakalan sering mereka temui yang memiliki arti tidak sopan. Bahkan cara menawar belanjaan dan mengucapkan salam mereka kuasai dengan sangat cepat. Seenggaknya itu terlihat dari si Aling yang berinteraksi dengan kasir restoran dengan bahasa Indonesia ajaran saya.#bangga

Selesai makan, si Papanya ternyata masih pengen ke Pantai walaupun udah malam-malam segini yang katanya anginnya enak dan nyaman yang ga bakalan mungkin bisa mereka dapatkan di Beijing. Daripada mati gaya di hotel dalih mereka, akhirnya saya ajak main ke Pantai Kuta malam-malam (saya aja ga pernah main ke Pantai Kuta malam-malam). Sesampainya di bibir pantai, mereka berdua berteriak kenceng banget seolah-olah semua beban dari Beijing mereka lepaskan disini. Teriaknya beneran kaya di film drama Taiwan gitu, saya biar berasa satu rombongan sama mereka ikutan teriak juga melepas beban dari Jakarta. Eh, mereka berdua agak lebay menurut kaca mata kita sebagai orang Indonesia, merasakan terpaan angin malam di tepi pantai bagi mereka adalah anugrah yang tak terhingga (si papanya sampai meneteskan air mata). Katanya mereka mendambakan cuaca dan udara sebersih ini di Beijing, mereka udah muak dan tiap hari harus menghirup udara –udara yang sudah tercemar, memandang langit yang penuh bintang yang bisa kita lihat tiap hari merupakan hal yang mustahil mereka lihat kalau balik ke Beijing, mendengar suara deburan ombak dan senyum ramah orang Indonesia merupakan anugrah yang luar biasa, boro-boro suara alam dari ombak dan senyuman ramah dari orang yang mereka temui, di Beijing yang ada adalah suara bising kendaraan dan muka-muka datar bercampur suhu super dingin yang mereka temui pas bulan-bulan segini (Februari) yang dinginnya minta ampun. Si Papa Aling pun mengambil posisi bermeditasi menikmati suara deburan ombak dan semilir angin yang menampar halus wajah-wajah kami dan diselingi sesekali disenterin penjaga pantai.

Obrolan-obrolan di restoran tadi berlanjut lagi di pantai ke topik yang lebih kompleks lagi, sambil tidur-tiduran di pasir. Kami bertiga mengobrol banyak hal antara Jakarta dan Beijing. Mereka yang penasaran kehidupan di Ibukota Jakarta dan saya penasaran dengan kehidupan di Ibukota Beijing. Mereka si Aling bercerita kalau di China sekarang beban hidup semakin besar, beli rumah merupakan kemewahan yang luar biasa dengan lonjakan harga properti di sana, di Papa Aling bercerita kalau dulu pas dia kuliah di Rusia merasakan kehidupan yang sama adil sama rata dalam praktek hidup komunis yang semuanya serba terjamin sama induk semua semua rakyat yang bernama negara, betapa susahnya berbahasa tenggorokan di pas ditugaskan di Mongolia dengan orang-orang yang jarang senyum. Berbeda sangat jauh dengan orang Indonesia yang sekarang di ketemui yang hobi ngomong dan senyum kalau ketemu orang asing. Dulu sekolah dan kesehatan adalah barang gratis , yang sekarang pas zamannya semuanya menjadi semakin memberatkan hidup di China yang apa-apa berujung duit. Dahulu China memang negara miskin, tapi mereka banyak diperhatikan sama negara, sekarang semakin maju China, masyarakat semakin beringas dan berorientasi sama duit.

Mereka tanya ke sana kondisi ekonomi Indonesia dan kehidupan di Indonesia bagaimana. Karena keterbatasan pengetahuan saya akan kondisi sosial politik di Indonesia yang di giring sama media-media nasional kita ke politik busuk bikin malas saya ceritain. Saya akhirnya cerita yang bagus-bagus aja, pas ditanya Aling kondisi Jakarta bagaimana yah saya ceritain aja kalau Jakarta itu mirip di Bangkok, transportasi publiknya udah bagus (padahaln kenyataannya masih perlu banyak pembenahan), pas Papa Aling tanya proyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang bikin mereka bangga karena menang saing dari Jepang buat rebutin proyek ini bisa menghemat berapa banyak waktu tempuhnya yang berakhir dengan kekagetan mereka karena saking kagetnya setelah saya ceritain betapa singkatnya jarak tempuh antara Jakarta dan Bandung yang mereka sangka Jakarta-Bandung itu setara dengan jarak Jakarta-Surabaya. Saat ditanya sama kepemilikan properti asing sama WNA , yah saya jawab kalau dulu WNA dilarang memiliki properti di Indonesia, namun akhir-akhir ini sudah mulai boleh tapi terbatas dan tidak boleh disewakan (koreksi saya yah kalau salah). Oh iya, pas mereka tanya apakah pendidikan dan kesehatan disini dijamin baik sama negara ?. Jujur, saya sebenarnya buta sama sekali sama isu ini, karena saya terlalu masa bodoh sama dua isu krusial ini, tapi saya jawab aja kalau di Indonesia kita wajib sekolah gratis sampai SMA alias 12 tahun, terus hanya orang-orang kurang mampu aja yang difasilitasi pemerintah dengan Kartu Indonesia Sehat dan asuransi BPJS kesehatan nasional. Udah itu aja yang saya jawab buat melepas dahaga mereka, kalau ditanya lebih dalam lagi saya udah ga tau gimana jelasin kemereka. Mana pengetahuan saya tentang program-program dan kebijakan negara minim banget dan ditambah harus ngomong dalam bahasa Mandarin yang sama sekali saya ga tahu istilah-istilah BPJS, wajib sekolah, dan sebagaimananya yang saya sederhanakan dengan kata-kata yang aneh campur-campur dan toh mereka ngangguk-ngangguk aja kodein mengerti.

Setelah panjang lebar kami mengobrol seharian, akhirnya kami putuskan balik ke hotel buat istirahat setelah hampir 2 jam duduk di pantai. Di Papa Aling sih kuat banget lho sampai masih pengen kesini lagi besok pagi. Tapi besok pagi kan saya udah harus balik Jakarta. Perjalanan pulang dari pantai ke hotel saya jadi merenung ternyata hidup saya selama di Indonesia udah enak banget deh, ga seharusnya sumpah serapah sama kondisi negara ini, negara-negara yang selalu kita agung-agungkan aja ga bisa menikmati alam seindah Indonesia, ga bisa menikmati ciptaan Tuhan karena keserakan ekonomi, ga mau kan kita kalau orang-orang kita jadi malas bertegur sapa dan menjadi individualis dan alam indah negara kita jadi penuh polusi.

Sesampainya di hotel, saya akhirnya bantu si Aling dan Papanya booking fastboat ke Nusa Penida buat lusa yang semenjak kemarin mereka kesulitan cari travel agent dan kesulitan berkomunikasi dengan staf hotel. Terus kami tukar-tukaran kontak, dan dia mengundang saya kalau ke Beijing kontak dia buat menginap di rumahnya dan tentu saja bakalan ambil cuti buat bawa saya jalan-jalan ke gu gong (Forbidden Pallace). Eh ,2 hari sesampainya saya di Jakarta saya dapat email dari Aling dan Papanya, mereka sudah di Nusa Penida yang jauh lebih tenang dan mereka mau “berhibernasi” dan menikmati hidup di sana selama 2 minggu sampai visa mereka habis buat berkunjung di Indonesia.

Ah, beruntungnya saya kali ini jalan-jalan yang mengeluarkan banyak duit , beruntung minta ampun ketemu Aling dan Papanya dan tentu saja saya semakin bersyukur bisa hidup di Indonesia yang maha indah dan hangat ini.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s