Balada Wanita Berjakun

Tidak bisa dipungkiri kalau kerja di hotel bakalan banyak ketemu tamu-tamu yang mencari rasa aman dan jauh dari kemelut masalah rumah tangga sampai masalah hutang hingga pejabat yang melobi pengusaha di kamar. Tidak heran kalau suatu ketemu istri tamu yang ngamuk-ngamuk di lobi hotel minta diantarkan ke kamar suaminya yang notabene berstatus Incognito (status kamar tamu yang tidak diakui keberadaannya menginap di hotel oleh pihak lain selain tamu itu sendiri dan pihak hotel). Tidak jarang juga ketemu tamu pebisnis yang ditugaskan kerja berminggu-minggu hingga berbulan-bulan di Indonesia dan jauh dari keluarga, jangan heran kalau lama-lama di tamu tipe ini bakalan sering “jajan”.

Dari sekian banyak pencarian rasa aman dan rasa nyaman di hotel serta pelarian dari stres kerja para tamu yang pernah saya temui. Ada beberapa yang benar-benar lucu kalau diingat-ingat seperti yang dialami salah satu tamu kami yang datang ke Jakarta buat jalan-jalan yang berasal dari salah satu negara kaya minyak di Timur Tengah dengan bahasa Inggris yang sangat terbatas. Kejadian lucu ini pas saya night shift in charge , tamu dari kamar 805 kedatangan dua wanita lokal dengan dandanan yang cukup menantang, yang satu memang cewek banget dan yang satunya lagi lumayan cewek jantan sepertinya ( jangan suudzon tamu dulu ) dengan suara yang cukup berat dan macho. Batin dan otak saya kompakan kalau itu adalah tamu “sewaan” yang mereka habis ketemu di Bar yang berujung undangan ke hotel. Berhubung sebagai staf hotel yang sudah diajarin ga boleh berpraduga buruk sama tamu kalau itu bukan tamu baik-baik yang dilarang “berjualan” di area hotel untuk nama baik hotel, namun bisa jadi yang bersangkutan adalah keluarga atau malah istri dari tamu kita, kan tidak ada yang tahu hal-hal semacam itu.

Singkat cerita, setelah saya konfirmasi identitas dua “wanita” yang bersangkutan sama tamu kamar 805 dengan persetujuan dari tamu didalam kamar, akhirnya saya persilakan dua “wanita” ini duduk di lobi dan sebentar lagi si Bapak di kamar 805 (sebut saja namanya Hussein) turun ke lobi menjemput mereka. Ternyata benar, tidak sampai 2 menit si Hussein sudah layaknya menyambut mereka kaya keluarga sendiri dengan cipika-cipiki ramah dengan obrolan yang kayanya hangat. Fuihhh, syukurlah kalau mereka ternyata sudah kenal  baik satu sama lain dengan akrab. Setelah tamunya si Hussein dibawa masuk ke kamar jam 1-an subuh, akhirnya saya bisa bernafas lega melanjutkan kerjaan saya cek hasil kerjaan anak-anak shift pagi dan sore.

30 menit kemudian,

Ting tong , bunyi suara lift terbuka dan keluarlah si wanita tulen dengan bodi yahud dan dandanan insecure  itu sendirian sambil minta taksi sama concierge. Waduh, kenapa bisa masuk berdua pulang sendiri ?, si wanita berjakunnya satunya lagi mana ?. Yah sudahlah, mungkin masalah keluarga yang memang tidak bisa mereka tinggalkan buat nginap di kamar hotel. Setelah si wanita pergi, saya lanjutkan lagi kerjanya saya.

 

1 Jam kemudian,

Ting tong, lift terbuka dan keluarlah si wanita berjakun itu ke lobbi dengan muka yang sangar dengan suara berat dan raut muka yang mulai berubah menjadi cowok berjalan ke arah saya dengan suara bunyi ketukan hak sepatunya yang tinggi tik tok tik tok, sambil marah marah.

Saya                                       : “Selamat Pagi, ada yang bisa saya bantu Ibu ?”

Wanita Berjakun              : “ iya saya mau complaint , dan mau telpon ke kamar 805 lagi “

Saya                                       : “ Maaf Ibu, bukannya tadi Ibu turun dari lantai 8 dan sudah masuk ke kamar 805 ?”

Wanita Berjakun              : “ iya, tadinya memang, tapi saya dipaksa keluar dan hanya dikasih Rp 100.000 aja (sambil diikuti kata-kata sumpah-serapah dan bahasa kebun binatang dan sekaligus bahasa preman keluar dari mulutnya)”

Saya                                       : “ mohon maaf Ibu,…….”

Wanita Berjakun              : (langsung memotong perkataan saya), “ Ibu , Ibu , Ibu, mas ga denger suara saya ngebas kaya gini ?, saya mau complaint, coba panggilkan Duty Manager-nya, saya mau tamu 805 keluar dan ketemu saya, dan kalau tidak mau ketemu bilangin ke tamunya kalau saya akan kumpulin massa dan teman-teman saya di Star**** (kedai kopi ternama dekat hotel), tamu ini kurang ajar dan ga bakalan saya biarkan buat pulang dengan selamat”

Saya                                       : ( sambil kontak ke Duty Manager melalui telepon ke konter resepsionis) “ kalau boleh tahu apa permasalahannya Bu, eh Pak ? biar nanti saya sampaikan ke Duty Manager  In Charge”

Wanita Berjakun              : “ (dengan raut muka ngamuk yang serem dan bahasa yang blak-blakan), mas bisa bayangin kurang ajar banget itu tamu, masa saya udah bawa cewe beneran yang cantik malah ditolak ( ohh, ternyata saya ga jadi dosa suudzon sama mereka, emang karena bener bukan tamu bener-bener), masa si Bunga diusir pulang dan si Ara* ga mau main sama cewe beneran. Cuma bentar an aja, saya yang cuma nganterin aja masa diajak main juga. Udah banyak mintanya, minta banyak gaya, masa saya cuma dibayar seratus ribu doank, emang dia pikir saya apaan ? , Saya ga terima, saya mau di minta maaf sama saya sekarang dan bayar saya lebih. Dia kira ga sakit apa ?

Duty Manager malam akhirnya sampai juga ke konter resepsionis dan menyambut keluhan si Wanita Berjakun ini dan berakhir dengan kesepakatan bahwa dengan sangat menyesal kami tidak bisa menelpon ke kamar 805 demi kenyamanan tamu hotel, yang bersangkutan adalah tamunya tamu kamar 805. Dan juga sebenarnya praktik (maaf) prostisusi adalah dilarang di area hotel tempat saya kerja. Jadi keluhannya tidak bisa kami tindak lanjutin karena ini diluar dari ranah hotel untuk mengurusi hal pribadi tamu hotel dengan tamunya . Akhirnya si Wanita Berjakun keluar hotel dengan ngedumel dan tulis pesan ancaman kalau bakalan tungguin tamu hotel itu sampai keluar hotel buat digebukin rame-rame sambil digiring sama security hotel yang gagah dan berakhir digodain juga sama si wanita berjakun itu.

Tentu saja pihak hotel melakukan tindakan preventif menyampaikan informasi ini ke si Hussein keluhan tamunya dia ke dia yang ditangapi dengan raut muka yang memerah karena ketahuan modus operandi dan tipikal wanita idamannya terkuak. Saya dan Duty Manager  hanya bisa tertawa terbahak-bahak atas kejadian tadi dan curhatan yang blak-blakan dan si Huseein yang salah milih ayam jadi kucing buat jajanannya. Aduh , aneh aneh aja tamu-tamu hotel….

Keesokan harinya si Hussein akhirnya check out dan milih naik taksi dengan kaca yang paling gelap dan langsung menuju Bandara pulang kenegara asalnya sambil merenungkan kenaifannya tadi malam yang hampir berujung kriminal.

Dia pikir, si Wanita Berjakun di Jakarta sama apa sama di Pat Pong Bangkok ?

 

*Note : dari kejadian ini, dapat disimpulkan bahwa si Wanita Berjakun ini adalah mucikari alias induk semang dari wanita yang diperjualbelikan.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s