Eastern Asia Trip : Shen Zhen : ” Melongok Secuil Negeri Tirai Bambu” (Part II)

Setelah berpisah sama tuan rumah kami di Hongkong yang kasih akomodasi dan makan gratis. Dengan berat hati kami harus berpisah di Kwai Fong menuju Lowu dan berlanjut ke She Zhen. Kami ga ada persiapan apa-apa ke China, cuma berbekal passport Garuda kita naik MRT ke Lowu, karena airport pass-nya kita udah abis masa berlakunya. Akhirnya kami cuma bisa beli tiket ketengan seharga 40 HKD. Perjalanan dari Kwai Fong ke Lo Wu cukup lama yakni sekitaran 1 jam, isi penumpangnya mayoritas orang Shen Zhen yang kerja atau sekolah di Hongkong. Penuh sesak berisik dan agak cukup tua gerbong keretanya (tapi tetap sangat layak dioperasikan). Sepanjang jalur MTR ini, semuanya relnya diatas tanah, bukan lagi lewat jalur bawah tanah layaknya kebanyakan stasiun di pusat kota.

Sejam kemudian, sampailah kami di Lo Wu, dan para pelintas batas negara ini pada buru-buru amat jalannya, ada jalur express buat pemegang passport China Mainland. Pemegang paspor Macau dan Hongkong ada jalur khususnya. Sisanya adalah jalur orang asing. Sekeluar dari sisi Hongkong dan passport kami diissued satu kertas semacam visa (kalau negara lain pake cap, HK dan Macau ga pakai cap). Menyebranglah kami ke sisi China yang hanya dipisahkan oleh satu sungai doank, sebelum masuk ke China, kami harus apply visa on arrival di lantai dua dulu. Sebelum apply, kami isi kartu embarkasi dulu dan ketemu orang Indonesia yang kerja di Shen Zhen yang kayanya pebisnis yang ternyata ga kasian sama kami yang ga punya Ren Min Bi (Chinese Yuan) buat ditukerin. Akhirnya kami terpaksa aja ke kantor imigrasi perbatasan ini apply visa, dan dikenakan harga 160 RMB ( atau sekitaran 320.000 IDR). Dengan sisa dolar Hongkong kami yang tersisa, kami relain aja nuker ke RMB secukup harga visa kita aja, dan sisanya bisa kami tarik lewat ATM. Proses pengajuan visanya gampang banget, Cuma isi formulir, terus serahin formulir dan passport kita ke konter 1, terus bakalan dioper-oper sampai pembayaran di konter 4. Terus kita dikasih nomor antri, ga nyampe 10 menit paspor kita udah ditempelin Visa RRC khusus dan hanya berlaku 5 hari doang.

Yippie, Welcome to China. Pas masuk ke Imigrasi Shen Zhen, petugasnya dengan ekpresi aneh dan memandang saya aneh. Sambil berujar dalam bahasa Mandarin , gimana cara baca nama kamu ?, saya bilang aja Hen Qi ( biar gampang buat mereka baca). Terus dia bilang, aneh yah nama lu, muka cina nama aneh banget paspor Indonesia. saya ketawa heeh aja, terus dia tanya ntar berapa hari di Shen Zhen, gua jawab 2 hari aja buat ke “ Shi Jie Qi Chuang ( Window of the World doank). Tap, paspor saya akhirnya dicap dengan tinta merah yang khas China banget. Yeheeeee. Keluar imigrasi kami yang udah diwanti-wanti hati-hati kalau udah di China, apalagi kalau mau nuker duit banyak penipunya alias semua-semua yang KW itu disini merupakan hal yang lumrah. Berhubung HKD kami yang ga seberapa, saya akhirnya narik duit juga di BOC (Bank Of China) sebesar 1000 RMB buat dipakai berdua sama Ameng, kami udah booking kamar hotel di daerah Fu Tian, dan sebenernya bisa turun di MRT Bei Gang Xia ( North Gang Xia). Tapi berhubung waktu kami yang terbatas, kami akhirnya sempetin ke Window of The World, oh my, disini ternyata China bener-bener surga barang KW, bahkan semua Landmark tiap negara atau kota terkenal dibuat replikanya dalam ukuran yang 1/3 dari ukuran sebenarnya.

IMG-20150803-WA0100.jpg

Window Of The World semakin mengokohkan China sebagai surga KW, bahkan semua landmark dari seluruh dunia dibuatkan replikanya.

Oh iya, balik pas keluar imigrasi naik Shen Zhen Metro, kami langsung keluar di kopleks shopping Lou Hu yang luas banget dengan lapangan yang lapang, suasana di China ga sebebas di Hongkong. Pas menginjakkan kaki disini, saya seolah-olah jalan kemana-mana merasa di awasi gerak geriknya. Dari saya beli tiket di mesin swalayan tiket metro-nya dengan pakai bahasa Inggris malah diomongin orang di belakang , “eh dia bisa bahasa Ingris eee” ( “heee, ta yong yong ying wen eeeee”). Hawa negara sosialis terasa banget. Padahal Shen Zhen adalah Kawasan Ekonomi Khusus di China yang cenderung terbuka. Ga kebayang kalau harus ke utara yang orangnya mungkin bakalan jauh lebih dingin. Bahkan naik Metro aja mesti body check dan lewat metal detector. Nah, kalau di Hongkong atau Singapura kan naik-naik aja selama punya tiket.

Siang yang begitu menyengat di komplek WoTW buat kami mengurungkan niat keliling lebih jauh lagi, akhirnya kami sempet foto-foto doank di depan menara Eiffel dan Piramida Louvre di depan stasiun metro. Eh, sampai di  Shenzhen ternyata, kami juga banyak mendengar orang pakai bahasa Hakka disini. Yah, ampun saya semakin dekat dengan tanah leluhur saya yang sampai saat ini saya masih belum tahu leluhur saya dulu diimpor ke Bangka dari sebelah mananya China Selatan. L

Setelah hari udah cukup sore, kami akhirnya ke Jia Le Fan Guan ( Hotel Jia Le), yang  nyarinya susah minta ampun, hotelnya terletak di ruko-ruko dan ga ada plang nama hotelnya, letaknya di lantai 2 bangunan. Untung  ada peta offline yang berfungsi disini. Akhirnya setelah susah payah kami nyari ini hotel, check in pun kita harus pakai bahasa ayam dan bebek ngomong, diajak ngomong bahasa Inggris si doi kagak mudeng. Yah udahlah, sekarang pake bahasa Mandarin aja deh, toh sejelek-jeleknya bahasa Mandarin saya , toh dia ngerti  banget malah sempet-sempetin ngobrol. Si Doi yang anak sama Ibu kayanya sambil check-in kami sambil nyuapin cucunya makan, terus sempet terucap pertanyaan dari mereka kalau nama kami koq ga ada han zi nya ?, kan lu orang Cina juga ?. (iya cece , saya juga maunya begitu ada Han Zi di Paspor saya , tapi nama saya Indonesia banget, gimana cara tulisnya yah ?).  Eh, dengan harga 150 RMB, saya memang ga berekspektasi tinggi sama ini hotel. Mana kasurnya keras banget udah kaya tidur di dipan, aminities kamar lebih banyak berisi kondom dan pelumas dan bahkan ada viagra gitu. Yah ampun, salah milih hotel ini  TV-nya pun cuma nyediain chanel lokal aja. Jangan berharap dapet nonton CNN, BBC, atau Fox Premium Movies atau bahkan SCTV buat nonton GGS. Untungnya dasarnya film China juga bagus-bagus, jadinya ga masalah buat kami yang harus menghabiskan waktu semalam aja disini. Yang lebih mengenaskan adalah kamar mandinya isinya cuma sekat kaca kabur doank, yang kalau kena air kan lekuk-lekuk tubuh saya keliatan dari luar. Yah udah sih, berhubung udah bayar juga, mau ga mau kami harus mau.

Selesai mandi dan selesai semua urusan hajat, kami siap-siap menggerayangi kota Shen Zhen di malam hari, emang dasarnya Shen Zhen ini gede. Kami sempetin makan di warung makan yang jualan Dim Sum sama mie. Menunya hampir mustahil buat temuin huruf latin, bahkan untuk angka 123 pun. Untung si Ameng kemampuan membaca Han Zi nya lumayan, dan kalau secara lisan saya lebih bagus. Kira-kira begitulah kemampuan bahasa Mandarin level paling basic kita. Akhirnya setelah main tebak tebak buah manggis menu dalam Han Zi, kami akhirnya sekonyong-konyong mesen aja Zhu Ruo Mian ( Mie Babi), sama yang ada tulisan Tang ( artinya sop) sama pesen yang ada tulisan Bao ( artinya roti). Akhirnya yang keluar adalah semangkuk mie babi, sop sapi dan ada Chasiew Bao, dan tentu aja siomay (ih seneng dah kalau bisa mesen makanan dalam bahasa antah berantah tanpa salah).

IMG-20150803-WA0081.jpg

Nama menu dalam aksara keriting (Han Zi ) yang hanya bisa kami baca harga dan ukuran serta segala yang bertulisan tang (sup), mian (mie), bao ( kue/bakpau, selebihnya tinggal tebak-tebakan berhadiah

Makanan disini dan biaya hidup jauh lebih murah ketimbang di Hongkong. Sekali makan paling-paling kami Cuma habis 30.000 IDR per porsi. Kalau di Hongkong kan minimal harus habis 70.000 IDR. Selesai makan, akhirnya kami keliling-keliling komplek pusat perbelanjaan di sini, trotoar disini emang lapang sih dan keliatan rapi, tapi koq ada bau-bau semacam tokai gitu, mana banyak pengendara motor naik sampai ke trotoar-trotoar gitu ( sebenarnya di Jakarta hal kaya gini udah biasa banget, bahkan bakalan jauh lebih parah ditambah pedagang asongan), tapi berhubung habis ke Hongkong yang maha bersih dan teratur, jadinya sayang aja liat Shen Zhen yang semua fasilitas publik dan gedungnya baru-baru tapi, koq penduduk lokannya kaya gitu. Merupakan hal yang lumrah kalau liat gedung yang dari luar kelihatan megah dan mewah tapi didalmnya berisi penjual sendal-sendal karet dengan toko ala mangga dua, padahal gedungnya aja lebih bagus dari kawasan SCBD Sudirman. Orang-orang di Shen Zhen koq biasa ngeludah sembarangan juga yah, bahkan pasangan muda yang berantem di tengah jalanan padat yang mengakibatkan kemacetan juga lumrah (kalau yang satu ini kita liat dengan kepala sndiri).

Saking capeknya kita keliling seharian, dan toko-toko pada udah tutup. Akhirnya kita putuskan buat balik ke hotel aja buat tidur buat lanjutin perjalanan keesokan harinya dan bertepatan dengan tanggal merah dalam kalender China yakni Festival Perahu Naga.

wp_20150619_008

Shen Zhen, Kota industri di Guang Dong berjamuran gedung-gedung bertingkat baru. Foto diambil dari pusat perbelanjaan di Lo Wu (persis setelah keluar dari imigrasi Hongkong- China)

 

Keesokan harinya,……

Kring kring kring jam udah menunjukan jam 9 pagi, kami akhirnya bangun dengan segala rasa kantuk dan capek yang menghampiri badan ini. mengingat hari ini adalah hari bakcang alias “ Duan Wu Jie”Hiksss, jadi ingat bakcang di rumah di Bangka yang diisi sama daging Ibab Cincang dan dibungkus sama daun pandan pasti tersisa banyak karena berkurang mulut pemakan segalanya yakni saya. Hahahha,…..

Megingat hari ini kami akan menghabiskan waktu di 3 negara. Bangun di China, Makan Siang di Hongkong, dan Tidur di Macau. Yeheeee, we are going to gambling. Tapi perjalanan ke Macau masih panjang, soalnya kita mau balik lagi ke Hongkong, balik lagi ke Hong Kong Island buat nonton “ Dragon Boat Festival” yang terkenal itu di Stanley. Pagi-pagi kami udah naik Shenzhen Metro meninggalkan China menuju Hongkong. Sesampainya di Hongkong, jam udah menunjukan jam 11 siang, kami akhirnya naik terminus Bus ke Stanley yang ditempuh dalam masa selama 1 jam dikit,  Berhubung ini perayaan nasional dan semua kantor dan sekolahan libur dan semua orang berbondong-bondong main ke Stanley. Alhasil bus jurusan ke Stanley penuh sama wisatawan, bahkan di kasih bus tambahan dan petugas tambahan buat mengakomodir mobilitas hari ini. ih kami ternyata ikut juga dalam momen perayaan ini yang kalau di Bangka bakalan ramai-ramai kita sekampung ke Pantai, semua pusat niaga yang biasa dikuasai otang Tionghua di Bangka juga tutup ( jadinya itu libur non nasional yang mau ga mau pada ngikutin baik itu orang Tionghua maupun Melayu yang menjadi dua suku mayoritas di Bangka, ah indahnya).

Momen libur ini ternyata ga di sia-siakan oleh para TKW dari Indonesia dan Filipina yang dapat jatah libur juga. Sangat disayangkan kelakuannya kadang-kadang merusak estetika, masa di gedung-gedung rapi megah, dan terminal Bus Hongkong yang bagus itu mereka menggelar kardus dan koran sambil rebah-rebahan cekek-cekikik sambil sesekali terlihat cowok India, Pakistan atau Bangladesh goda-godain. Terus parahnya lagi nyampah sembarang juga, dan dandanannya menor banget  layaknya biduan dangdut. Bahkan mereka ada geng-gengnya tersendiri ada kawasan –kawasan yang banyak orang TKW Indonesia dan ada beberapa kawasan isinya TKW Filipina.

Prang!!!!…..

Dalam antrian panjang yang ramai sama bule-bule dan orang lokal dengan keluarga teralihkan perhatiannya sama suara kenceng tabrakan bus tingkat dua didepan kami. Yah itu kan, bus yang harusnya kami tumpangi buat ke Stanley. Kaca depan bus retak, dan mestinya kerusakannnya sih kerusakan minor doank. Bus yang ada di depan malah cuma rusak dikit aja belakang bodi bus. Eh, dua-duanya bus malah dikandangkan langsung masuk kategori ga layak operasi dan langsung balik ke pool mereka tanpa penumpang. 5 menit kemudian bus pengganti kami akhirnya datang. Satu bus isinya setengahnya adalah turis dan setengahnya orang lokal. Emang dasarnya Hongkong yang udah maju dari beberapa puluh tahun lalu, fasilitas publiknya bagus banget, penjaga pantainya terlihat dimana-mana, garis pantainya yang cuma seiprit doank aja ramai dikunjungi dengan fasilitas resort yang wah. (padahal ga ada arti apa-apa pantainya dibandingin di kita).

Jalanan yang mulus menuju Stanley tidak berasa lama, sebelum kami sampai ke pasar Stanley, terlihat rumah-rumah mewah yang gede banget yang diparkir mobil-mobil sport yang mahal pastinya  dan udah pasti hanya orang super kaya yang punya itu rumah (yah iyalah biaya perbulan buat parkir mobil di Hongkong bisa mencapai 9 juta rupiah (kan gaji eksekutif level di Indonesia harus habis buat parkir di Hongkong)).

IMG-20150803-WA0060.jpg

Stanley, yang katanya kampung itu ternyata isinya adalah gedung bertingkat juga.

 

Ciitttt,……..

Bus kami akhirnya sampai di Stanley Market, eh, katanya disini desa dan kampung. Koq jalanannya beton semua, bangunannya pun juga masih keliatan lumayan bangunan vertikal keatas walaupun ga serap-rapat di Kow Loon, tapi banyak yang gaya Eropa-eropa gitu bangunannya,malah ada mallnya segala. Yah ternyata pas bus kami nyampe , lomba perahu naganya baru aja selesai babak semi final . Babak Finalnya nanti jam 5-an. Yah, jam segitu kan kita udah kudu balik ke Central dan nyebrang ke Macau. Akhirnya kita ke Stanley keliling-keliling kampung dengan nuansa festival yang berasa banget, mall pantainya juga bersih banget, tapi yah namanya juga mall , pasti barang dagangannya ga bersahabat di kantong kami. Akhirnya setelah puas liat-liat dan foto-foto kami akhirnya balik pusat kota Hongkong jam 4 kurang. Pas balik pun antriannya ga kalah panjang, tapi koq tertib yah. Ga mandek, bahkan buat nyebrang aja mereka mengerahkan banyak polantas buka tutup jalan. Ih teratur banget dah hidup mereka.

WP_20150620_033.jpg

Bus Stanley menuju pusat kota Hongkong penuh dengan wisatawan yang merayakan Festival Perahu Naga.

Hari yang melelahkan, setelah nyampe Hongkong jam sudah menunjukan jam 16:30, berhubung si Ameng belum dapat oleh-oleh yang cukup buat keluarga di rumah. Akhirnya kami kembali lagi Ke Mongkok, dengan kondisi hari biasa aja udah ramai banget ini kawasan wisata dan belanja, ditambah hari ini adalah hari libur nasional, sudah bisa dipastikan kalau kita bakalan menghabiskan waktu extra disini. Dan benar aja, akhirnya kami baru selesai bolang di Mongkok sekitar jam 7. Dengan segala ketergesa-gesaan kami akhirnya dapatlah tiket ke Feri ke Macau. Dan tidak lupa dengan sisa koin HKD saya telpon Thai Jie Aling ngucapin selamat jalan, dan terima kasih udah mau nampung kita. Kabar gembiranya bulan depan dia sekeluarga mau ke Indonesia, dan saya udah siapin waktu saya buat nganterin mereka jalan-jalan ke Bandung ( dan berita bagusnya mereka belom pernah ke Bandung). Yeeeeeee. J

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s