Eastern Asia Trip : Macau : ” The Asian Las Vegas “

Lanjutan dari perjalanan ke Hongkong dan Shen Zhen,  setelah satu jam naik feri meninggalkan kota kosmopolitannya Asia ini alias Hongkong, kami akhirnya sampai di Macau Feri Terminal. Pas masuk Macau, imigrasinya sama kaya Hongkong cuma ngeluarain satu kertas kecil tanggal masuk dan keluar kita dari negaranya tanpa di cap di paspor. Dan ehhh, koq disini pengumumannya apa-apa ada dalam banyak bahasa di dahului dalam bahasa Kanton, Portugis, Mandarin dan baru Inggris. Eh, petugas imigrasinya koq banyak yang muka Indo-indo gito tapi ngomong bahasa Kanton. Eh, koq banyak muka-muka Indo disini. Ternyata , Macau dulunya nasibnya sama kaya Hongkong yang jadi daerah Otonomi Khusus Britania, Macau adalah daerah Otonomi Khusus dari Portugis. Maka ga heran bahasa mereka adalah bahasa Portugis disamping Kanton dan Mandarin.

Keluar dari pelabuhan, bus-bus dari kasino udah menunggu disini tingal pilih mau ke Galaxy, The Wyyn, The Venetian , atau the Sands ?. semua gratis dan di sediain sama kasino-kasino di Macau. Berhubung Makau tidak punya tranportasi massa kaya kereta , jadi disini hanya ada Taxi atau Bus aja buat kemana-mana. Karena hari ini kita udah capek banget dari bangun pagi masih di Shen Zhen, dan masih sempat-sempatnya ke Stanley di Hongkong. Kita sekarang sudah terdampar di kompleks kasino terbesar di dunia yakni “ The Venetian’. Yeeee, karena udah lapar, dan duit masih sisa lumayan banyak. Akhirnya kami kalap belanja oleh-oleh buat dibawa pulang, sambil makan egg tart mereka yang enak banget. The Grand Canal merupakan titik yang paling sempurna buat yang demen pamer, seolah-oleh lagi di Venezia, nuansa disini dibuat se-Eropa mungkin, bahkan batu marker dan kramiknya adalah kramik 3 dimensi yang kalau diliat dari jauh udah kaya  potongan coklat. Dan langit-langitnya udah kaya kapel-kapel gereja di Roma. Dan kasinonya sepanjang mata memandang adalah mesin judi dimana-mana. Pengunjung disini rata-rata adalah dari China Daratan. Judinya bahkan dalam 3 mata uang yakni HKD, RMB dan Patacca Macau. Bahkan mau belanja apa-apa bisa pakai 3 mata uang ini tapi kursnya 1:1:1. Sayangnya kalau belanja bayar pakai RMB yang kursnya paling bagus malah rugi.

WP_20150620_082.jpg

Grand Canal “The Venezian” yang dibuat layaknya kota Venezia dengan abang-abang gondolanya diimpor langsung dari Italia.

Berhubung duit udah abis buat belanja oleh-oleh dan barang kita masih disimpan di concierge hotel. Kami akhirnya berencana tidur di kasino yang buka 24 jam ini, saking luasnya ini kompleks kasino, kami akhirnya udah nyerah nyari tempat tidur pewe. Akhirnya tidurlah kami di Food Court dekat Grand Canal yang berakhir diusir security sebanyak 2 kali (ada beberapa bolangers yang bernasib sama kaya kita juga). Semakin malam, semakin kentara ekspresi orang-orang yang menang judi dan kalah judi. Kalau yang lagi menang biasanya senyam-senyum ketawa hihihi, sambil merangkul satu” ayam” muda yang cantik mulus dan putih……

WP_20150620_092.jpg

selembar PATACA terakhir saya buat bertahan hidup di Macau, semua transaksi di Macau menerima RMB dan HKD yang dikoversikan nilai jualnya 1:1:1 dan pembayaran dengan RMB atau HKD , kembaliannya akan dengan Pataca Macau

Kalau yang kalah judi, masalah sekecil apapun bisa jadi bencana yang ketemu sama mereka, kaya cewe sosialita yang kita ketemui di concierge pas nitip tas ngamuk-ngamuk udah kaya kerasukan setan hanya karena barangnya dia ditaruh di lantai bukan di loker. Lagian ga ada barang yang hilang juga, kalaupun kesel kan ga perlu gebrak-gebrak meja. Selesai si cewek tadi, si koko concierge-nya yang lagi-lagi muka China mata biru kaya bule bilang kalau itu cewek barusan kalah judi di dalem. Pantessss…..

Saking cape dan putus asa menunggu yang tak berkesudahan, kami akhirnya pindah posisi ke dalam kasino mencari penghiburan liatin orang judi dan sesekali ambil minum gratis yang disediain sama kasino. Dan banyak ayam disana yang manggil-manggil “ Lao Ban, Lao Ban, Shuai Ge, Ke Yi aaaaa” ( artinya Bos,Bos, eh Ganteng, boleh nihhhhh”). Boro-boro mbak kita harus menghabiskan malam romantis berdua, buat sekedar tidur di hotel paling murah di Macau aja kita ga sanggup. Seluruh kompleks The Venezian sudah kami kelilingi. Jam sudah menunjukan jam 4 subuh, rencana awalnya kami mau ke St.Paul Ruins. Tapi, berhubung badan ini udah rontok capek bercampur ga dapat tempat yang layak buat tidur, akhirnya kita mutusin buat ke Bandara aja nunggunya dan happp, bandaranya Makau kecil banget, mungkin cuma seukuran bandara Palembang aja. Tapi emang tetep bersih, penerbangan dari Macau rata-rata melayani rute ke China Daratan dan Jepang. Adapun beberapa rute ke Asia Tenggara didominasi rute ke Singapura, Kuala Lumpur atau Bangkok. Ada sih rute ke Manila, dulunya malah ada yang ke Jakarta oleh maskapai Viva Macau, tapi sekarang udah ga ada lagi, sedih,,,,,

WP_20150621_021.jpg

Bandara Macau yang cuma sebesar bandara Penang ini, mayoritas penerbangannya ke kota-kota di China, Taiwan, dan Jepang ini menjadi saksi bisu ketidakberdayaan kami sebagai mahkluk yang kehabisan duit menggembel di Macau.

Jam 9, Pesawat kami sudah siap menuju Kuala Lumpur, penerbangan 3,5 jam ini kami habiskan dengan tidur paling nyenyak dalam sejarah saya tidur di pesawat, dari pesawat masih antri di taxi way, sampai akhirnya pesawat kita mendarat di KLIA2 baru bangun, eh jadi berasa nyiksanya naik budget airlines emang paling bagusnya dihabiskan buat tidur.

Berhubung jam masih siang, dan penerbangan kita adalah penerbangan terakhir ke Jakarta yakni jam 22:35. Kami putuskan main ke Kuala Lumpur sejenak, sesampai di Kuala Lumpur, kami simpan bagasi kami di loker di KL Sentral sembari makan siang sebentar di Bulan Puasa disaat banyak orang Malay yang puasa, sempet jalan-jalan ke KLCC (sebenernya saya udah sering banget ke Kuala-Lumpur, tapi si Ameng belum sempat ke Malaysia, jadi sekalian aja dah). Abis dari KLCC foto puas –puas di Petronas Twin Tower, kami lanjut ke Petaling dan KL Sentral sembari nyari oleh-oleh lagi. Dan berencana ke Jalan Alor buat makan malam, jam 5 kami berangkat dari Petaling ke Alor naik GO KL yang gratis itu. Apa karena Gratis atau karena jalanan KL yang hari ini super macet, akhirnya waktu kami habis 1 jam di jalan dan ga nyampe-nyampe. Dengan hitung-hitungan kami minimal jam 7 udah harus meninggalkan KL, tampaknya udah ga mungkin kami lanjutkan makan di Alor. Akhirnya kami turun di halte terdekat, dan akhirnya harus menguras waktu 20 menit kami buat jalan ke Stasiun Monorel Bukit Nanas . dan entah kenapa juga hari itu sinyal Monorel KL lagi bermasalah, jadinya penumpang numpuk-senumpuknya kaya di KRL Jabodetabek pas jam sibuk di Tanah Abang. Oh my God, jam udah menunjukan jam 7. Kami masih di Bukit Nanas, dan antrian masih panjang. Akhirnya setelah sekian lama sekitaran setengah jam, kereta kami datang, dan kami perjalanan Bukit Nanas yang cuma 20-an menit ke KL Sentral  terasa sangat lama dengan berkali-kali kami menengok jam. Aduh rencana awal yang mau naik bis aja ke KLIA2 jadi batal gara-gara kemacetan kampret di KL di saat yang tidak tepat. Jam 8 teng kami nyampe di KL Sentral, dengan blingsatan kami ambil tas kami di loker dan segera ke platform KLIA Express beli tiket ke KLIA 2. Pokoknya naik KLIA Express adalah pilihan yang paling rasional, salah-salah naik KLIA Transit pun bisa berujung tertingal pesawat. Sekarang waktu 1 menit kami berasa sangat berharga, mengingat panjangnya dan luasnya KLIA2 cukup buat saya ketar-ketir. Untung KLIA Express ini cepet, hanya berhenti di KLIA dalam 30 menit pertama perjalanan kami, dan dilanjutkan drop ke KLIA2 dalam waktu 5 menit. Teng, kami sampai KLIA2 jam 9 dikit, buru-buru Check In dan langsung masuk imigrasi dan masuk ke boarding gate yang untung tidak terlalu jauh. Teng jam 10 adalah jam yang tertera buat kami boarding, dan pas jam 10 malam kami sampai di Boarding Lounge. Setelah mengatur nafas dan minum beberapa saat kemudian, akhirnya kami dipersilakan naik ke pesawat balik Jakarta. Entah kenapa selama 4 kali naik pesawat naik pesawad budget ini kerjaan saya cuma satu yakni TIDUR.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s