Chiang Mai : “The Lanna Kingdom and Night Bazaar”

Berbekal dari ingatan yang begitu mengenai pada kota Chiang Mai dalam mata pelajaran Agama ketika SMP SMA dimana salah satu pemuka agama wafat di kota ini dan merupakan salah satu kota paling penting di Thailand selain Bangkok. Akhirnya dibulatkanlah niat saya ke Bangkok berbekal tiket promo seharga 600,000 IDR all in.

Sepanjang perjalanan ke Bangkok mayoritas penumpang adalah orang Indonesia , sisanya hanya 4-5 orang bule dan belasan orang Thailand doang. Sisanya rombongan sirkus ibu – ibu norak yang udah siap dengan gadget super mahalnya dan dandanan super dangdut dan insecure. Tapi berhubung saya kurang tidur karena kemarin malam barusan sampai dari Bangka Belitung ke Jakarta, akhirnya sepanjang perjalanan saya habiskan buat tidur. Penerbangan selama 3 jam 45 menit terasa begitu singkat karena tidurnya ngorok .

Sesampai di Bandara Don Mueng , yang pertama saya cari tentu aja makan dulu (laper uiiii), makanan terakhir sebelum ke nyampai di Bangkok adalah segelas kopi dan satu slice kue di hotel Novotel Bangka. Selepas makan nasi ayam di Bandara, saya iseng keliling keliling bandara Don Mueng ke terminal 2-nya dan nyari tiket murah kalau dapat ke Chiang Mai, tapi karena pertimbangan harga penginapan, akhirnya saya menetapkan akan naik bus ke Chiang Mai saja nanti malam lewat Northern Bus Station di Mo Chit. Sebelum ke terminal Mo Chit, saya sempatkan dulu buat charge handphone di charging point di bandara Don Mueng. Sambil nyoba-nyoba wifi , siapa tau bisa connect. Tak berapa lama kemudian seorang bapak-bapak juga datang buat charge Hp sambil permisi ke saya pake bahasa Inggris gitu ke saya with politely. Eh, berhubung fisik orang Thai dan Indonesia susah dibedakan sebelum mereka ngomong tidak menaroh kecurigaan saya. Tapi, koq di tas Bapaknya ada baggage tag Garuda Indonesia, maskapai bintang 5 kebanggaan kita ini kan mestinya mendarat di Suvarnabumi Airport, bukan di Don Mueang, curigalah saya kalau dia pasti dari daerah ke Jakarta pake Garuda terus transit naik AirAsia ke Bangkok. Eh, koq ada namanya Rustam E*****di di tag-nya, oke. Udah pasti ini Bapak orang Indonesia, sapalah saya ke Bapaknya pake bahasa Indonesia. Dan kagetlah Bapaknya yang berakhir kita ngobrol panjang lebar kalau saya masih ada lanjutan perjalanan ke Chiang Mai malam ini dan beliau ke Bangkok karena ada simposium pertanian gitu. Beliau adalah delegasi dari Indonesia beserta satunya lagi dari kementerian. Oh iya, berhubung Bapaknya orang Sumatera juga ( Dosen salah satu Universitas di Padang), klop lah kami ngobrol, gimana kemerosotan moral Bangsa kita dan bablasnya media kita sampai euforia demokrasi yang bablas buat bangsa kita jadi carut marut. Malu banget saya yang udah ga ngikutin perkembangan sosial budaya kita lagi gara-gara politik dan media yang maha menjijikkan di kita. Ah sudahlah, akhirnya si Bapak harus merelakan kepergian saya ke terminal buat bolang gembel.

BPRO0364.JPG

Bandara Don Mueang, bandara khusus buat Low Cost Carrier Airlines nya Thailand

Malam itu juga, saya naik bus A5 ke Mo Chit, persis di depan terminal bandara ngetemnya. Cukup bayar 50 Bath kita sudah bisa nyampe pas di Terminal Mo Chit ( FYI aja, kalau yang mau lanjutin perjalanan menuju pusat kota Bangkok bisa turun di MRT Cathucak Park / BTS Mo Chit). Berhubung saya udah kenal ini terminal sebelumnya dari perjalanan 3 bulan yang lalu pas sama Bom-Bom ke Kamboja. Ga susah bagi saya buat beradaptasi dengan terminal bus yang satu ini, tiket Bus seharga 500 Bath ke Chiang Mai buat keberangkatan 1 jam lagi alias jam 9 malam ( kan lumayan dengan harga bis 180-an ribu sekaligus menghemat biaya penginapan semalam). Seperti biasa, bus antar kota di Thailand memang sangat mengakomodir penduduk maupun turis buat keliling negeri Gajah Putih ini. Bus yang nyaman dengan kabin dan aminitis yang bersih ga susah buat saya langsung terlelap tidur sampai 9 jam kedepan. Pemberhentian cuma sekali buat “ishoma” selama 30 menitan di pertengahan jalan di Mueng Sing Buri ( begitulah yang tertera pada peta digital saya namanya). Makanan Thai yang super enak menjadi ga berarti apa-apa dibandingkan dengan mata ngantuk saya yang hanya bisa menuntaskan panggilan alam ke belakang melaksanakan ritual dan duduk duduk di depan food court sambil menghirup udara segarnya malam di Thailand ( hiksss, tiba-tiba kangen Jakarta yang udah saya tinggalin selama 1 bulan buat jalan-jalan dari cuti kerja saya sampai dapat kerjaan baru lagi). Selepas “ishoma”, perjalanan akhirnya di lanjutkan ke Chiang Mai, dan saya sampai di Chiang Mai pas jam 7 pagi, disaat semua warga baru akan memulai aktivitas masing-masing

BPRO0365.JPGNgasoh bentar di rest area subuh subuh buta sambil mengumpulkan nyawa dan tenaga buat gembelan keesokan harinya.

Sesampainya di Chiang Mai, saya yang tidak ada survei apa-apa tentang Chiang Mai hanya tau kalau Chiang Mai adalah kota di utara Thailand dan mesti saya kunjungin, soalnya udah sering dengar nama kota ini semenjak kecil. Berbekal peta digital dan bookingan hotel di daerah old town akhirnya menginaplah saya di The Royal Guest House seharga 300 Bath ( Kurs saat itu 370 IDR/ 1 Bath). Berhubung Chiang Mai tidak ada kendaraan umum yang khusus melayani rute-rute pasti, maka naik Tuk-tuk, Songteaw, atau taxi adalah pilihan utama menuju penginapan saya, berhubung saya bukanlah bagian dari keluarga bangsawan sipit, pilihan yang paling rasional bagi saya adalah : JALAN KAKI. Kenapa ga buat jalan kaki, di peta sih tertulis kalau jalan kaki akan menghabiskan masa 42 menit. Berhubung hari masih pagi dan cuaca di Chiang Mai yang adem pas pagi sepertinya bukan masalah buat saya, lagian saya ga usah buru-buru dan dikejar waktu dan orang ( enaknya solo travelling yah kaya gitu). 20 menit , 30 menit pertama masih oke-oke aja. Tapi , lama lama koq sekujur badan koq basah semua yah ?. untung kota Chiang Mai lumayan cantik yang dibelah sungai Ping yang masih bersih dan tentu saja cuacanya sejuk cukup buat saya betah, dan perjalanan saya ke Guest House terbayar sudah dengan menghabiskan waktu 1,5 jam perjalanan jalan kaki yang disertai ngaso bentar-bentar .

Berhubung sayanya yang datang kepagian di guest house , tentu aja kamar ga dikasih sama resepsionis ( yah iyalah, secara saya juga sebagai resepsionist juga kerjaaanya di Jakarta). Akhirnya saya numpang charge Hp sampai sempet-sempetnya boker dua kali dan sekalian browsing tempat main utama di Chiang Mai. Koq dari sekian banyak yang ditemuin disini, rata-rata tempat wisatanta adanya di Chiang Rai ?, dan wisata di Chiang Mai cuma sebatas Vihara , kota tua dan Night Bazzaar. Yah sutraaalah, biar ga rugi, saya rencanaain ke Chiang Rai besok aja.

Selepas dapat kamar, akhirnya saya bisa menikmati yang namanya mandi setelah hampir 36 jam ga mandi. ( secara mandi terakhirnya di Jakarta). Kamar guest housenya menghadap langsung ke Old Town dan langsung keliatan Wat Chedi, oke deh pokoknya , dan kondisi kamar dan pelayanan serta fasilitasnya ntar di ulas di Trip Advisor aja ntar. Hehehehhe

BPRO0376.JPGGuest house unik ini dengan harga murah banget udah bisa dapat private room, terus ada kolam renang, bisa sewa motor seharian dan tentu saja dekat kemana-mana. Siang ke kota lama tinggal jalan kaki aja, malamnya ke night bazaar cuma 15 menit aja.

Setelah semuanya siap, akhirnya bolanglah saya ke old town  di Chiang Mai yang dulunya merupkan Ibukota kerajaan Lan Na, parit yang di bangun berbentuk persegi dan dikelilingi tembok bata dulunya dimaksudkan buat menangkal seragan dari Burma. Memang sih kondisinya ga semuanya masih utuh, nama temboknya Tha Phae Gate yang di bangun tahun 1296 oleh Raja Mengrai.Temboknya sih di sisi timur kota Chiang Mai berdiri gagah. Capek keliling tembok bata ini, perjalanan saya lanjutkan ke dengan safari candi dan vihara yang memang menjadi salah satu agenda wisata di Chiang Mai buat turis asing. Dari sekian banyak candi dan vihara yang dikunjungi, adalah Wat Chedi Luang yang menjadi daya tarik utama dan dahulunya adalah sentral dari kerajaan Lan Na di Chiang Mai dengan letaknya yang begitu mencolok mata sebagai bangunan paling tinggi di kompleks kota lama Chiang Mai ( soalnya di dalam kompleks kota lama ditetapkan oleh pemerintah setempat, bangunan yang di bangun ga boleh lebih tinggi dari Wat Chedi Luang ini), untuk menjaga pemandangan kota kuno. Seluruh area kota kuno juga dikelilingi oleh parit yang tiap sisinya sekitaran 1,5 km.

BPRO0399.JPGWat Luang Chedi yang sempat runtuh karena gempa, puncaknya merupakan bangunan paling menonjol untuk kawasan kota tua Chiang Mai yang dikelolongi oleh parit. 

 

BPRO0382.JPG

Tembok Tha Phae, tembok yang mengelilingi kota tua Chiang Mai dan dipersenjatai lagi dengan parit yang penuh dengan ikan koi .

bpro0381

Capek keliling old town di Chiang Mai dan mengagumi proverb di vihara-vihara/ kuil/candi yang mengingatkan arti kenapa kita hidup (filosofs banget perjalanan kali ini), dari candi Wat Chedi yang megah hingga museum angker serta taman-taman vihara yang indah. Dan berhubung matahari sudah mulai menenggelamkan diri, saya putuskan buat balik ke guest house aja dan sebelum balik ke guest house, alangkah baiknya kulineran dulu. Akhirnya dipilihlah makan MANGO STICKY RICE seharga 90 Bath ( sial mahal banget) di rstoran depan Wat Chedi sambil tanya tanya paket tur ke Chiang Rai yang nyatanya semuanya out of budget, Mango Sticky Ricenya mahal banget padahal harga pasaran di jalanan ntar cuma seharga 50 Bath doank. Dan tentu aja pengen nyobain durian montong yang maha montok itu ( tapi mahal oiiiiiii 200 Bath sepotong doank).  Akhirnya berhubung badan udah lengket dan capek juga, muka udah merah-merah semua, akhirnya balik ke guest house mandi bersih bersih dolo, dan sekitaran jam 7 bertolaklah ke NIGHT BAZZAAR yang menjadi  kewajiban wisatawan ke Chiang Mai. Letak pasar malam ini super luas yang bermula dari depan hotel Le Meridien sampai sepanjang sekitaran 2 km adalah pasar malam yang jual bermacam-macam barang ( rata-rata jualaannya baju, merchandise, dan makanan). Dan buat pecinta kuliner, inilah saatnya buat menjelajah Chiang Mai di Night Bazzaar dengan jajanan Thailand yang cuma punya dua rasa makanan doank yakni enak banget dan super duper enak.  Akhirnya saya milih makan Tom Yam udang seharga 70 Bath doank yang super seger dan pedes mampus. ( oh iya, ternyata di Thailand itu, saking tourist friendlynya mereka selalu nanyain kalau mau beli apa-apaan pasti ditanyain mau pedes apa kagak). Sebagai lidah Indonesia, mana mungkin bisa makan kalau ga pedes.

Di Night Bazzaar sendiri banyak banget food court yang terkonsentrasi di tiap wilayah, bahkan di depan masjid dan ada food court yang dibuat dengan konsep FARM gitu dengan ilalalng dan jerami yang dijadiin kursi buat duduk. Makanannya emang agak lebih mahal dikit ( mahal sekitar 20 Bath dari harga yang lain, tapi ada live music ) . Dan sepanjang jalan, berjejer yang jualan sate babi, bakso ikan, cumi yang super gurih, oh iya mango stricky rice dan Pad Thai juga ga ketinggalan juga disana. Kalap saya ngabisin jajanan yang maha menggoda itu disini, berakhirlah perjalanan saya selama 3 jam disini. Terdampar sampai sekitar jam 10 malam, akhirnya saya putuskan buat balik dan nyobain makan di restoran di Thailand Chinese dengan semangkok mie yang super enak dengan condiment kacangnya yang super enak sambil merenungkan kalau saya itu ternyata beruntung banget jadi orang, udah kontrak kerja ga saya extend dan berakhir dengan liburan super panjang sambil nyari kerjaan baru ternyata banyak hikmahnya yang saya petik selama solo travelling ini di Northen Thailand.

BPRO0415.JPG

Food court di salah satu night bazzar udah pada mulai buka sekitaran jam 5 sore, konsep peternakan nya unik, penuh sama turis sama orang lokal. Semua stand makanan disini rata-rata masih muda seumuran 20-an.

Oh iya, namanya juga Thailand, mana mungkin pariwisata mereka jalan tanpa yang namanya wisata ladyboy dan Thaigirl ( sering diplesetin jadi TIGER) sama turis-turis. Dan emang dasar bencong Thailand mulus-mulus, jadinya susah banget mana produk asli dan mana produk KW. Jadi kalau “jajan” udah kaya beli kucing dalam karung. Sambil menghabiskan malam di sini, saya sempatkan diri saya ke satu toko buku yang jual dengan harga super murah dan berakhir kalap lagi saya beli buku seharga 250 Bath dengan judul “ South East Asia Travelling” , pas banget buat saya yang lagi terobsesi buat keliling ASEAN ini. , berhubung udah capek banget dan belum sempat ini badan nempel sama kasur, akhirnya saya putuskan balik guest house buat tidur dan sekalian rencanain to do list di Chiang Rai besok. Zzzzzzzzzzzzzzzz

BPRO0412.JPG

Salah satu sudut pasar malam yang baru mulai dikosongkan dari aktifitas siang yang sebentar lagi akan digantikan oleh kios kios penjual di malam harinya.

keesokan harinya yakni hari ketiga saya di Chiang Mai, dan saya harus ke Chiang Rai nanti siang. Akhirnya saya putuskan check out pagi-pagi, dan sempet sempetin sarapan di pasar tradisional dan makan Bakmi setempat , saking pasarannya turis China di seluruh Thailand ,bahasa Mandarin akhirnya menjadi salah satu bahasa pasaran disana disamping bahasa Siam dan Inggris. Ketebak donk mereka nyapa saya dengan bahasa apa ?, yah udah pasti bahasa Mandarin lah ( saya sok belagu aja selalu jawab, i don’t speak Chinese, speak English only), tapi emang bener juga sih, takutnya dengan kemampuan bahasa Mandarin ala kadar saya,  saya takut ga ngerti kalau diajak ngomong yang dalem-dalem. Mending amannya aja deh pakai bahasa Inggris. Dan selepas makan mie di warung deket pasar, akhirnya saya nyari dessert di dalam pasar tradisional dengan buah yang super enak dan dicampur dengan yogurt dan oak meal serta siraman madu, siapa yang kuasa menolak buah-buahan Thailand yang buahnya super legit dengan daging yang tebel-tebel. Salut juga buat pariwisata Thailand, pasar tradisional kaya gitu aja setengah pengunjung-nya adalah BULE dan turis China .

BPRO0430.JPG

Desert buah-buahan segar dengan topping yogurt segar, daging alpukatnya tebel dan manis. konter sederhana disini didalam kios pasar tradisional aja penuh sama bule dan turis Asia Timur

Karena akses internet yang terbatas, dan ga ada survei sebelumnya, saya yang sok merasa semua terminal bus di Chiang Mai adalah sama ternyata salah besar dan terlena dengan berjalan kaki selama satu jam ke terminal Bus Utara yang ternyata ga ada bus dengan jurusan ke Chiang Rai, adanya ada diterminal bus ARCADE di terminal 3. Sial, saya udah jalan kaki dengan bercucur peluh selama satu jam, akhirnya harus jalan satu jam lagi buat balik ?. ogah jalan jauh jauh lagi, akhirnya saya relain juga 80 Bath saya demi duduk di Song Teaw warna merah ke terminal 3 yang melayani rute-rute bus besar ke luar kota dengan perjalanan jauh. Akhirnya saya buru-buru ke counter Green Bus yang jadi bus favorit orang Thailand buat berpergian, akhirnya saya beli tiket seharga 166 Bath ke Chiang Rai dengan jam keberangkatan jam 1. Dan sialnya si mbak yang cetak tiket saya , salah booking tiket saya yang mana bukan buat tanggal 16 February 2559 ( Tahun Thailand buat tahun 2016), malah dibookingin tiket buat tangal 19 February. Alhasil saya harus menanggung malu pas udah di bus, tiba-tiba ada penumpang lain yang klaim punya tiket yang sah juga di kursi yang saya tempatin. Sial , saya diusir dan kesel banget sama mbak yang buang waktu saya, akhirnya saya dianter sama kernetnya buat revisi tiket. Dan sueknya tiket buat armada yang sama udah full seat. Padahal tadi saya beli tiket pake teken nomer antre buat tiket go show  yang artinya same day travelling, eh si mbaknya malah bikinin tiket saya jadi advance purchase. Akhirnya dengan kesel gua ngomel-ngomel doang ke mbaknya, koq bisa sih mbak , gua masa mesti nunggu 2 jam lagi di terminal, padahal yang salah kan bukan saya, gimana dah lu usahaiin buat gua berangkat sekarang deh mbak, eh gua malah di guruin balik, lah kalau salah si doi, kenapa gua mau tanda tangan di tiket yang diisued salah, dan gua ga mau merasa tersudut donk, emang dasarnya mbaknya ga jelasin cara baca tiket-nya dengan aksara keriting itu, mana saya tahu kalau 2559 itu artinya 2016 ?, emang saya bisa baca tulisan lu ?. That so ridicoluos , sambil buang muka  pergi, akhirnya saya ke caffee DOI PUI seberang terminal yang menyediakan WIFI gratis buat ngabisin waktu sambil numpang browsing dan merenungkan hidup sepulang perjalanan kali ini harus bagaimana melanjutkan hidup saya yang udah memasuki petengahan 20-an, bagaimana harus membangun karir, kapan mau berumah tangga, hikssssss……………

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s