Chiang Rai : ” Melongok Batas Negara di Sungai Mekong dan Sakaw Opium”

Setelah menunggu hampir 2 jam di Doi Pui Caffee di depan terminal Arcade 3 Chiang Mai, pas jam 3, akhirnya green bus saya berangkat juga ke Chiang Rai, kota pegunungan di Thailand Utara ini harus ditempuh selama 3 jam dari Chiang Mai, sepanjang jalan, terlihat jalanannya ga terlalu beda jauh dengan kondisi di Indonesia, dengan kampung-kampung dan beberapa kota kecil sepanjang jalan dan Februari kayanya bulan yang cocok buat ngunjungi Thailand Utara, saat itu sepanjang jalan bunga-bunga warna kuning bermekaran sepanjang jalan. Seluruh kota kecil maupun pinggiran kota dan kampung menguning jadinya layaknya Jepang yang ngpink pas sakura mekar. Ahhh, indahnya…….

Tak terasa, bus Ijo kita sampai juga di Stasiun Utama Chiang Rai. Upsss, tapi kalau tujuannya mau ke kota Chiang Rai, jangan turun di terminal 2 ini yah, soalnya masih jauh ke pusat kota yang masih sekitar 7 km-an. Alhasil, turunlah saya di terminal 1 pas ditengah pasar (dan kondisi terminalnya cukup mengenaskan, berhubung gedung terminalnya lagi renovasi, penumpang di drop di sampaing jalan di NIGHT BAZZAR Chiang Rai. Berhubung hari udah hampir malam, dan saya juga belum ada tempat nginap, saya putuskan buat nyari penginapan dulu dengan cara Go Show aja, (worst case-nya kalau semuanya fully book), saya udah buat fake booking di Ban Bua Guest House yang ternyata letaknya di perumahan dan gelap banget akses masuknya, di jalan buntu dan mesti lewat RED DISTRIC dulu (kan repot kalau lagi pengen, terus jalan keluar udah banyak jajanan tapi ga punya duit). Akhirnya saya cari aja semua hostel atau guest house  sekitaran jalan Chet Yod deket Wiang Plaza, ada banyak guest house premium di belakang Wiang Plaza seharaga 700-an Bath cukup menarik perhatian saya, tapi masih terlalu mahal buat budget saya, lagian mereka lagi fully book, jadi ga malu-maluin juga abis nanya terus pergi. Dapet yang lokasinya persis di Night Bazzarr, tapi fully book, dapet satu yang murah banget, tapi lokasinya gelap gulita dan serem serta sepi banget, dapet satu yang lokasinya oke, harga oke, tapi kamarnya mengenaskan dan bau apek banget (susuah dibayangkan gimana caranya tidur), akhirnya saya dapet yang cocok juga seharga 400 Bath di Jamson House, dengan lokasi yang tepat seberang Wiang Plaza ( Wiang Inn), kamarnya bersih banget, ber AC, kamar mandi dalam, luas, empuk, aminitis dan toiletries-nya lengkap, bahkan ada minibar dan dapet sarapan juga. Udahlah, capek berhemat akhirnya saya ambil aja walaupun harus merekalan budget saya mangkrak 100 Bath lagi dari budget semula buat nginep yang di patok 300 Bath.

Pas registrasi, ternyata di buku tamunya terpampang semua nationality tamu mereka yang semuanya tamu luar Asia + tamu Asia ada sekitaran 5 nama China dan 2 nama Jepang + satu nama Indonesia alias Saya. Berhubung perut saya udah nyanyi dan ga bisa diajak kompromi, saya akhirnya ke Night Bazzaar Chiang Rai, disini emang lebih kecil sih Night Bazzaar-nya Chiang Mai, tapi dengan 2 food court mereka yang jauh lebih bagus dan luas, malah ada panggung utamanya lagi buat menghibur pengunjung. Dasar emang Thailand yang tukang manjain orang buat makan, satu porsi hot pot lengkap dengan sebutir telur, sayur-sayuran lengkap, sama daging iris Cuma seharga 70 Bath doank ( saya aja kagak abis makannya saking kenyangnya dan nahan malu dengan makan sendirian di tengah kerumunan pengunjung lain sambil). Tapi emang nikmatnya makan hot pot pas malam-malam makan di Chiang Rai sambil nonton tari tradisional Thailand Utara dengan cuaca yang Cuma sekitar 17 derajat celsius……..

bpro0441

Suasana food court pasar malam Chiang Rai yang romantis dengan hot pot 70 Bath yang super komplit disuguhi pertunjukan musik dan tari tradisional Thailand Utara dibawah cuaca dingin.

Akhirnya saya kalap juga belanja sate sotongnya di pasar malam ini dengan harga 10 Bath per tusuk, OMG sotongnya enak banget pake gurih-gurih lagi, dan juaranya adalah sate Babi yang 100% dijamin HARAM. Karena udah cape dengan hura-hura tadi pagi di Chiang Mai, saya putuskan balik ke guest house  buat ngabisin malam di kanopi guest house yang super bernuansa banget dengan cuaca yang dingin-dingin empuk.

keesokan harinya,

Setelah kemaren seharian keliling NIGHT BAZAAR sesi 2 di Chiang Rai, pagi ini saya putuskan ke Golden Triangle solo tanpa ikut travel agent manapun demi menghemat duit, setelah sarapan di guest house dengan coklat panas dan setangkup roti dan 2 biji pisang yang super enak, akhirnya saya lanjutkan sarapan dengan omelet Thailand di restoran Cina ala Thailand di depan guest house yang super enak juga rasanya. Akhirnya ke terminal 1 ke counter Greeen Bus mau beli tiket ke Golden Triangle. Eh malah disuruh langsung naik aja ke Van warna ijo yang terparkir samping ruang tunggu yang atapkan tenda doank, eh pemandangan pagi ini banyak suku-suku asli orang utara dengan pakaian dan aksesoris khas belanja di Chiang Rai, muka mereka orisinil banget dengan baju-baju daerah yang khas dan banyak replika boneka mereka yang dijual di pasar sebagai oleh-oleh. Dan setelah menunggu sekitar 20-an menit, van kita akhirnya berangkat. Akhirnya berangkatlah saya ke Golden Triangle dengan naik van selama 1 jam bersama dengan 3 orang Laos yang mau balik kampung dan 1 orang Myanmar yang kerja di Chiang Sean serta dua turis bule yang udah aki-aki dan nini nini.

BPRO0449.JPG

Chiang Kong: Sungai Mekong sebagai batas alami negara Laos diseberang yang terlihat sunyi.

Van yang seharga 45 Bath pas berangkat ini menurunkan penumpang satu per satu sepanjang perjalanan. Ada yang turun di Mae Chan, ada yang turun di Chiang Sean, ada ada yang turun di Chiang Kong samping sungai Mekong yang legendaris itu dan tersisa saya sendiri yang turun terakhir di Golden Triangle yang merupakan titik pertemuan antar 3 negara( Laos, Thailand dan Myanmar). Rasanya lega juga bisa nyampe titik paling ujung Thailand di Utara dengan pemandangan 3 negara sekali mata memandang. Di Thailand yang pemerintahnya melarang keberadaan kasino membuat negara tetangganya akhirnya membangun kasino sebagai Landmark perbatasan. Kalau menyebrang dari Thailand ke Laos tinggal ke sebelah kanan Thailand, dan Myanmar ada di sebelah kiri. Sisi Thailand sendiri Landmark nya adalah patung Buddha Emas diatas perahu. Di titik wisata ini didominasi turis China Mainland yang datang berombongan, saya pasti dikirain salah satu bagian dari mereka. Berhubung saya yang nanti malam udah harus balik Bangkok, jadi yah saya ga mau maksain nyebrang ke Laos ataupun Myanmar. Saya akhirnya mutusin ke House of Opium dengan membayar 40 Bath sebagai karcis masuknya dikasih 1 kartu pos dan didalamnya berisi informasi yang edukatif tentang keberadaan opium yang mana wilayah ini menjadi jalur utama penyeludupan Opium terbesar kedua didunia pada zamannya setelah di Afganistan, selain itu didalam museum ada diorama pecandu opium yang kalau posisi paling “nikmat” buat sakaw adalah dalam posisi berbaring. Bagaimana tanaman opium diolah dari getah tanamannya menjadi Morfin, dan Morfin yang diekstrak lagi akan menghasilkan Heroin. Ternyata dulunya suku-suku tribal di sini sudah lama mengenal madat, dan itulah sebabnya keluar masuk kendaraan ke Golden Triangle akan banyak sekali pos pemeriksaan untuk mengantisipasi penyeludupan produk haram ini. Selesai dari House of Opium, saya makan siang sebentar di depan sungai Mekong perbatasan 3 negara ini, sambil ngobrol dengan bahasa bebek dan ayam dengan ibu-ibu penjual.

BPRO0468.JPG

 

foto-foto suku tribal (salah satunya Long Neck Karen) di Thailand Utara terpajang di Museum House of Opium. FYI, aja ternyata leher suku-suku tribal ini bukan semakin panjang karena gelang-gelang yang dikalungkan di leher membuat pundak mereka semakin menurun, jadilah lehernya kelihatan semakin panjang.

Selesai makan siang, saya keliling lagi Golden Triangle sembari mengutit rombongan turis bule yang udah aki-aki sambil nguping penjelasan dari tour guide , dari sejarah ladang opium, hingga sumbangan pembangunan Golden Triangle oleh pejabat daerah yang dibenci sama rakyat karena korup. Selesai puas jadi pengutit karena keterbatasan duit, akhirnya jam 3 saya putuskan balik ke Chiang Rai setelah puas keliling-keliling kawasan ini 3 jam lebih. Perjalanan pulang cukup menegangkan, mobil Green Bus Van kami diberhentikan beberapa kali di check point di Chiang Sean dan Mae Chan. Penumpang-penumpang dengan muka orang lokal yang diperiksa dengan sangat intens, buktinya saya dan 2 penumpang Bule enggak dan satu turis Jepang ga di cek apa-apa. Eh, ternyata pas di check point  yang ketiga, pas disuruh buka tas saya sama polisi sana, cukup bilang aja I don’t speak Thai, eh ajaibnya cuma ditanyain dari mana lu ?, jawabnya saya INDONESIA , eh mereka malah jawab “terima kasih” sambil kade kode ga usah buka tas. Baru kali ini saya merasa orang-orang kita diperlakukan khusus dalam artian yang lebih menyenangkan di negara orang. Selepas dari banyak check point sepanjang perjalanan pulang, van yang saya tumpangi melewati jalanan kota-kota kabupaten Thailand yang sedang cantik-cantiknya dengan bunga-bunga berwarna kuning bermekaran di awal musim semi. FYI, kalau di Chiang Mai pas awal bulan Februari ada agenda tahunan festival Bunga yang paling terkenal seantero Thailand dan festival utama agenda pariwisata Chiang Mai dan Thailand Utara selain Loi Krathong / Yi Peng.

BPRO0461.JPG

Sign perbatasan 3 negara yang dipisahkan oleh Sungai Mekong, ada tur perahu membelah sungai Mekong, setiap perahu memiliki bendera negara masing masing, disisi kanan adalah Laos dengan Kasino sebagai Land Marknya, begitu juga sisi sebelah kiri adalah Myanmar yang juga membangun Kasino.

Sesampainya di Chiang Rai, saya buru-buru mau ke terminal 2 buat beli tiket, dan sebelum ke terminal 2 saya tanya dulu di counter  Green Bus di terminal 1 yang ternyata bisa beli tiket juga ke Bangkok, dan emang ntar boardingnya lewat terminal 2. Yah sudahlah, dari pada mati gaya nunggu di terminal, akhirnya saya sempetin keliling Chiang Rai dikit lagi dengan kulineran makan eskrim dan ke restoran makan omelet Thailand yang super enak seharga 70 Bath. Dan berangkatlah saya ke terminal 2 dengan Tuk-tuk seharga 60 Bath menghabiskan masa selama 20-an menit. Sesampai di terminal 2, ternyata saya masih ada 1 jam lagi nunggu. Pas jam 6 terdengar lagu Thailand dikumandangkan dan tiba-tiba semua orang mengambil posisi berdiri dan mengheningkan cipta (semua aktivitas berhenti otomatis). Sisa saya dan dua pasangan Bule yang terbengong-bengong liatin orang sini eh nasionalis banget yak mereka yah, ternyata itu “Indonesia Raya” meraka, jadi iri abis sama Thailand yang cinta mati sama negara nya,  bahkan saya pernah baca di salah satu koran harian terkemuka nasional ketika lagu Indonesia Raya pas detik-detik proklamasi dikumandangkan di Cummuter Line pas 17 Agustus, cuma ada beberapa penumpang aja yang berdiri memberikan hormat (itupun karena imbauan dari awak kereta), sisanya malah cecekan dan memandang aneh yang respek sama negara ( ahhhh, maaffff, koq jadi curhat masalah nasionalisme). Eh, bus saya udah datang. Bangkok,saya kembali…….

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s