Its More Fun in The Phillipines: Cebu “Kota Aroma Katolik Filipina”

Filipina, negara yang akhir-akhir ini sedang hits di media Indonesia dan dunia lantaran beberapa headline yang memberitakan negara ini dengan sederatan berita kurang kondusif dari penyanderaan WNI oleh Abu Sayyaf, Perang kartel narkoba oleh presiden Duterte, hingga pemalsuan jatah haji Indonesia.

Sederentetan berita-berita diatas tidak mampu membendung impian saya yang sudah tertunda 2 tahun untuk menginjakkan negara kepulauan di utara Indonesia ini. Berbekal uang yang seadanya saya akhirnya merasakan lagi solo traveling lagi ke negara lain.

Seperti biasa, keberangkatan saya ke Filipina kali ini juga tanpa intenerary yang pasti. Hal yang pasti hanya saya sudah punya To Do List  doank buat ke Cebu ngunjungi beberapa situs gereja dan kota lama serta safari Mall yang katanya di Filipina ga ada yang bisa tandingin budaya ngemall-nya dan tentu saja pengen ke Chocolate Hills nya yang terkenal itu.

Di hari H saya baru menyiapkan segala persiapan, dari packing, tukar Rupiah ke Peso Filipina hingga print tiket dan pamitan ke orang rumah infoin kalau saya akan berangkat ke Filipina. Naik penerbangan malam menuju Kuala Lumpur, pesawat yang saya tumpangi mendarat di Kuala Lumpur jam 23:30 malam, setelah melewati imigrasi saya langsung cari lokasi buat tidur di KLIA2 yang super luas ini untuk numpang tidur buat melanjutkan penerbangan keesokan harinya jam 11 siang. Berhubung saya cuma ketemu kursi duduk yang keras mampus, saya hanya mampu tidur sekitar 5 jam di KLIA2, mana udah mati gaya dan buku yang saya bawa udah tuntas dibaca. Akhirnya saya memutuskan cari suasana baru main ke KLIA1 buat sekedar jalan-jalan dan syukur-syukur rainforest yang ada di lantai atas bandara sudah dibuka buat umum (yang nyatanya tidak untuk waktu sesubuh itu).

Setelah keliling kurang lebih 40-an menit di KLIA, saya akhirnya lanjutkan tidur di kursi dan berselonjor kaki dilantai 3 bersama segerombolan penumpang pesawat yang menunggu penerbangan selanjutnya. Pas balik, celakanya duit saya hanya tersisa 1 ringgit saya, dan saya kudu balik lagi ke KLIA2 buat mandi di boarding lounge sebelum melanjutkan penerbangan saya ke Cebu. Pas turun ke stasiun KLIA Express/ Transit ternyata ada vending machine ticket yang menerima pembelian tiket dengan kartu kredit. Akhirnya saya relakan CC saya digesek di mesin jahanam itu seharga 2 Ringgit untuk perjalanan singkat ke KLIA2. Singkat cerita saya sampai di KLIA2 dan langsung masuk ke boarding lounge dan segera mandi. (FYI aja, di KLIA2 sejauh ini yang saya ketemui ada shower facility-nya ada di 3 lokasi: 1 di toilet belakang Bibik Heritage di area Check In, satu di toilet kiri dan satu di toilet kanan di boarding lounge ( dua toilet ini) jauh lebih bersih ketimbang yang di area check in. Setelah selesai semua urusan memperwangi badan, saya menuju boarding room yang isinya kebanyakan bule dan orang Filipina yang kerja di Malaysia yang berangkat ke Cebu. Pesawat saya berangkat tepat waktu dan penerbangan selama 4 jam tidak berasa lama karena saya habiskan buat tidur sepanjang perjalanan.

Mabuhay , Its more Fun in the Philippines.

Pesawat yang saya tumpangi mendarat mulus di Mactan Cebu International Airport ( MCIA) tepat jam 3 sore, seperti mendarat di Singapura, kita wajib mengisi form imigrasi begitu masuk ke Filipina, dan wajib melengkapi form karantina kesehatan. Cap imigrasi kali ini juga berjalan mulus dengan serentetan pertanyaan dari petugas imigrasi yang jarang megang paspor INDONESIA di bandara Cebu dari kenapa nama saya cuma single name, tinggal dimana, kapan pulang, ngapain ke Filipin, dan tentu saya disuruh nunjukin tiket pulangnya. Oke , selesai, clegek ceglek, cap PILIPAS sudah menempel di paspor saya. Mabuhay Filipina…….

Sekeluaran dari MIAC yang tidak seberapa besar ini, saya coba menenangkan diri dan berlagak layaknya orang lokal, cari tempat duduk sambil makan bentar bekal roti dari Jakarta serta numpang wifi bandara sambil berselancar di dunia maya mencari informasi sebanyak mungkin cara keluar bandara dengan cara paling murah mengingat saya sedang jatuh bangkrut dengan bekal duit 3000 PHP ( Philippines Peso) sekitaran 900.000 IDR buat keliling ini negara selama seminggu. Dari semua blog yang saya kunjungi, malah merekomendasikan naik Taxi buat ke pusat kota Cebu dengan harga sekitar 700 PHP alias sekitaran 200.000 IDR. Gila, bisa ga makan saya selama seminggu kalau naik taxi keluar kota. Akhirnya berbekal ke-SKSD-an saya nanya sama ibu-ibu yang duduk di samping saya kalau halte Jeepney terdekat di Bandara dimana, yang justru disambut dengan merekomendasikan naik BUS RAPID MYBUS yang cuma bayar 25 PHP sudah bisa nyampai ke SM Cebu City Mall, dan nyatanya Mall yang satu ini deket banget sama tempat saya menginap.

20160922_150634.jpg

fasad Mactan Cebu International Airport yang bangunannya lebih mirip kantor pemerintahan ketimbang bandara.

Berhubung saya masih capek banget dan kebanyakan waktu serta kekurangan uang, saya putuskan langsung keluar SM Mall City Cebu menuju penginapan saya di Cuenco Avenue sesampainya saya di pusat kota dengan MyBus yang cuma jalan kaki 10 menit dari SM Mall. Selepas check in saya langsung mandi dan tidur sampai keesokan paginya saking rindunya ini badan sama kasur, walaupun harus tidur di ranjang bertingkat di dormitory pengap yang isinya semua bule dengan badan segede kulkas dan tidur ngorok ga kenal waktu.

Teng, waktu menunjukan pukul 6 pagi dan, langit sudah terang benderang layaknya langit Jakarta dijam 8 pagi. Suara Jeepney sudah menderu-deru di jalan. Selesai mandi sekitar jam 7, saya putuskan buat langsung menjelajahi kota Cebu seharian menuju kota lama dan tentu saja ke Katedral dan Santo Nino serta benteng San Pedro yang letaknya berdekatan satu sama lain. Sebelum jalan, saya sarapan sebentar di 711 di samping hotel makan nasi kotak instant dengan daging babi cincang seharga 39 peso, dan dilanjutkan makan di restoran lokal dengan 80% menu makanannya adalah menu HARAM alias mengandung babi. Saya pesan nasi putih dan usus babi serta sop bakut yang nyatanya hanya menghabiskan 120 Peso doang yang kalau dikonversikan sekitar Rp 36.000 yang kalau di Jakarta bahkan ga dapat buat beli setengah porsi bakut teh.

20160923_192032.jpg

Bakut dan jeroan babi yang super duper enak ini dengan porsi banyak cuma dihargai 120 Peso alias 36,000 IDR. Rasanya jangan ditanya, dan rata-rata orang Cebu doyan banget makan, tiap ke restoran, pasti ramai orang makan. Dan makannya posinya kecil-kecil tapi pesannya banyak. Dan surganya lagi, jarang saya temui orang-orang yang obesitas. Malahan yang bodinya aduhai tumpah ruah di jalanan.

Selesai sarapan, saya berjalan menuju pasar tradisional di sepanjang Cuenco Avenue, masuk ke slum area yang rumah rumah disana persis kaya di Indonesia, pasar kagetnya jualannya layaknya pasar di kita yang jual sayur, telur, roti, dan tentu saja dikelilingi oleh warung-warung kecil berkerangkeng layaknya penjara. Got-gotnya ga lebih baik dari kondisi got-got di Jakarta yang. Nama-nama gangnya sarat dengan Spanyol seperi Cuenco, Fatima, Loudres, Karakas, dll. Puas setelah satu jam mengelilingi slum area di Cebu tanpa pernah sekalipun berani mengeluarkan gadget dan kamera buat fotoin (soalnya masih parno baca kriminalitas jalanan di Filipina lumayan mencengangkan), akhirnya saya putuskan jalan ke Magellan Cross yang terletak persis di belakang Basilica Santo De Nino naik Jeepney dari Mabolo ke arah Kathedral, cara naik Jeepney sama layaknya kaya kita naik angkot di Jakarta, kemana aja cuma bayar 7 Peso. Cara bayarnya kalau dioper-oper dari belakang sampai yang duduk dibelakang sopir Jeepney jadi kondektur dadakan. Mau turun cuma ketok langit-langit Jeepney aja (persis kaya kita naik kopaja atau metromini di Jakarta) atau sebut aja Para Po (cmiiw) yang artinya kira-kira “kiri bang” versi naik angkot Jakarta. Sesampainya di Cebu Cathedral, saya mengikuti kerumunan orang ke arah lepas pantai dan nyebrang lewat pasar, dan sampailah kita di Basilica Santo de Nino. Pas disama hari Jum’at jam 11 siang dan masyarakat kota Cebu yang super taat beribadah. Matahari sedang panas-panasnya tapi seluruh gereja penuh dengan jemaat dan mengikuti misa yang dibawakan dalam bahasa Cebuano . Dasarnya orang Filipin yang diciptakan jago nyanyi, misa mereka aja udah kaya choir kelas dunia sampai yang sukses bikin saya merinding sampai mau nagis-nagis gitu walaupun saya sendiri ga ngerti apa yang mereka nyanyiin maupun khotbahnya ngomongin apa. Selesai ikut (ikutan) misa , saya menjelajahi kapel dan masuk kedalam gereja yang langit-langitnya keren banget dan semua jemaat disini selalu melambaikan tangan ke patung/ boneka Santo de Nino ( Patung Yesus kecil) yang bermahkotakan emas dan memegang tongkat bola dunia. Patung Santo Nino ini dulunya merupakan hadiah dari Ferdinan Magellan kepada Istri Rajah Humabon (penguasa Cebu) yang kemudian menurut cerita berpindah keyakinan memeluk Katolik. Setelah puas mengelilingi basilika dan mengagumi sosok patung St.Nino yang begitu dicintai oleh masyarakat Cebu dan Filipina ini yang berkuatan magis menurut saya(soalnya banyak yang terpekur menangis segugukan hanya memandangi patung St.Nino ini yang disimpan di Basilica of Holy Child).

20160923_135844.jpg

Para jemaat yang dengan khusuknya menghaturkan doa dibasilika Holy Child. banyak yang berdoa sampai nangis-nangis dan melambaikan tangan ke patung St.Nino yang berdaya magis luar biasa ini.

20160923_101729.jpg

Magellan Cross yang terletak persis dibelakang basilika.

Magellan Cross merupakan salip yang terletak persis di belakang Basilica Santo de Nino merupakan simbol dari masuknya Katolik di Filipina dimana Ferdinan Magellan membaptis raja Humabon pertama kali di Filipina. FYI, Ferdinan Magellan namanya begitu familiar bagi kita ketika mempelajari sejarah kolonialisasi Portugis dan Spanyol di Indonesia dimana Ferdinan Magellan merupakan penjelajah Portugis yang bekerja untuk Raja Spanyol dalam ekspedisi mencari rempah-rempah di Pulau Maluku. Setelah puas mengelilingi gereja, akhirnya saya sempatkan makan siang di Chow King (Franchise Chinese Fast Food ) di seberang gereja, dengan harga 90 Peso saya sudah dapat sepiring nasi goreng haram(babi) yang suer duper enak lengkap dengan siomai dan minumnya, kalau mau tambah Siaopao Asado (alias Bakpao) cuma nambah 30 Peso aja. Dan selama saya jalan-jalan di Cebu dan nantinya di Bohol, saya selalu menemukan Fast Food Restaurant  Jollibee ( Ayam Goreng pesaing KFC), Chow King ( Chinese food), dan Mang Inasal ( jualannya Kebab, burger dan sejenisnya).

20160923_140449.jpg

Basilika Santo De Nino, yang ramai dikerubungi oleh para turis, jemaat dan penjual lilin doa.

Selesai makan siang, saya menyebrang sekitaran 20 menit dari ruko-ruko sekitar Santo Nino menuju arah pelabuhan dan ketemulah saya taman kota alias alun-alun a.k.a Plaza Independencia yang seberangnya ada benteng San Pedro (Fort San Pedro) yang mungil dan masih kalah jauh sama Fort Rotterdam di Makassar. Bentengnya terletak persis dibelakang pier 1 cebu ferry terminal dan isinya banyak banget yang pacaran (rasanya pengen nangis dipojokan tiap liat pemandangan ini kalau jalan-jalan sendiri), biaya masuknya 50 Peso buat pelajar (maksimal 19 tahu) dan lansia sedangkan umum 60 Peso. Didalam benteng cuma berupa museum yang berisi sejarah pendaratan pertama Spanyol ke Filipina yakni di Cebu, penerimaan Rajah Humabon atas Katolik hingga pertempuran Raja Mactan dengan perang Lapu-Lapu. Setelah melepas lelah dan selesai menjelajah benteng San Pedro dan Plaza Indepencia yang banyak banget anak SMA latihan modern dance  , tari salsa, dan juga latihan nyanyi . saya lanjutkan pergi ke pelabuhan buat beli tiket ke Bohol buat besok. Tiket berhasil saya boyong pulang pergi sebesar 670 Peso untuk tiket kelas ekonomi  naik Ferry Super Cat. Tiket sudah di tangan, sekarang saatnya pergi ke Colon Street. Ini merupakan bagian yang paling saya suka sama kota Cebu. Jalan ini merupakan jalan persimpangan tertua di Filipina dan selalu sibuk alias 5th Avenue-nya kota Cebu, gedung gedung tua masih difungsikan sebagai supermarket, toko baju dan ramai sama yang jualan, hiruk pikuk kota Cebu lama keliatan banget dengan restoran-restoran lokal yang menggugah selera. Setelah capek, saya singgah bentar masuk 711 numpang ngadem dan rasanya saya dibawa balik 30 tahun lagi dengan lagu-lagu lawas disetel sepanjang jalan dan di 711. Sama kaya di Indonesia 711 disana ternyata isinya juga banyak buat anak-anak SMA nongkrong dengan berbekal beli segelas slurpee . Jam sudah menunjukan angka 4 , dan saya putuskan buat kembali ke Cuenco dan nonton di SM City, dan saya habiskan waktu buat nonton dengan harga tiket cuma 100 peso dengan ukuran teater bioskop sekelas IMAX di Gancit Jakarta. Namun audio di bioskopnya sumbang , kzl……….

20160926_183515.jpg

tiket nonton dibioskop jumbo cuma dihargai sebesar Rp 7,500 alias 25 Peso doank, Film Filipin ternyata enak ditonton koq, adegan ranjang ditonjolkan secara eksplisit. Dialognya dalam bahasa tagalog, walaupun warga Cebu berbahasa Cebuano, Tagalog tetep sebagai bahasa Nasional beriringan dengan bahasa Inggris yang dimengerti seantero negeri.

Selesai nonton di SM Cinema, saya naik Jeepney lagi yang terminalnya persis di belakang mall menuju Ayala Mall yang konon merupakan Mall terbesar di Cebu dengan konsep outdoor mall. Sesampainya di Ayala, buset, mallnya gede banget dan ada taman outdoornya serta outlet-outlet kelas dunia semuanya ada di mall ini, dan surprisingly ada JCO yang rame banget sama anak-anak muda nongkrong. Namun karena keterbatasan uang dan waktu, saya putuskan ga belanja apa-apa dan balik aja ke ho(s)tel mengingat duit udah tipis buat sisain ke Bohol besok dan juga karena mal disini cuma buka sampai jam 9 malam doank.

20160923_183700.jpg

Ayala Mall dengan ukuran super jumbo mengusung konsep outdoor mall, letaknya di pusat bisnis kota Cebu yang kebih teratur. J-CO di mall ini sama ramainya dengan Starbuck. Brand-brand fashion internasional bertebaran disini. Pengunjung mall ini lebih “segmented” buat warga perdapatan diatas rata-rata.

Keesokan harinya saya berangkat ke Bohol selama 3 hari, pulau tetangga Cebu yang terkenal akan Chocholate Hills-nya dan Tarsier (bisa dibaca di post berikutnay tentang Bohol). Setelah balik dari bohol , saya kembali lagi siangnya ke Cebu dan melanjutkan City Tour ke Lapu-Lapu City. FYI aja, Metropolitan Cebu terbagi dari beberapa kota seperti Mandaue, Lapu-Lapu, Car-Car, Naga City, dan Cebu City itu sendiri. Berhubung duit saya menipis drastis, saya urungkan niat main ke Kawasan falls dan Oslob yang nyatanya juga pasti waktu saya ga bakalan cukup setelah menjelajahi Bohol 3 hari. Rencana berganti dengan nonton lagi dengan harga 25 peso buat nonton di SM Cinema lagi untuk film lokal dengan judul “Walang Forefer” yang keseluruhan dialognya dalam bahasa Tagalog tanpa subtitle. Tapi tetep aja saya ngerti koq nontonnya, wong yang main film banyak campur-campur bahasa inggris, penonton film disini banyakan ABG-ABG alay yang kalau liat adegan bibir aja udah langsung histeris udah kaya nonton layar tancap di kampung. Emang dasarnya SM City Cebu luas banget, kaki saya gempor juga akhirnya, saya putuskan main depan mall buat nyobain makan Ngo Hiong Express yang jualan siomai, gohyong, hingga ayam ketupat yang enak banget Cuma seharga 100 Peso. Jujur, untuk makanan Filipina sejauh ini semuanya cocok di lidah saya, makanan disini sangat mirip dengan masakan-masakan Taiwan dan Cina. Babi ada dimana-mana, Lechon (babi panggang) dan Manuk (ayam panggang) bertebaran dimana-mana.  Selesai makan malam, masuk lagi ke SM City mengamati tingkah orang lokal yang doyan banget ke Mall, Pinay-nya gandengannya bule-bule pensiunan, dekorasi natal bulan-bulan september udah betebaran di mall, toko elektronik banyak yang karaoke, sama restoran dan food court yang ga pernah sepi.Oh iya, bahkan mesin-mesin judi selalu dikerubuni oleh orang-orang yang terletak bebas stand judi ditengah-tengah mall dengan hilir mudik pengunjung yang mengadukan nasib menang judi mendadak kaya.

Setelah balik seharian di Cebu buat Mall safari dan kulineran. Akhirnya saya harus melepas trip kali ini menuju Bandara di Pulau Mactan yang nyatanya saya harus beli Kartu E-Money seharga 300 Peso agar bisa naik MyBus yang cuma seharga 25 peso sekali naik. Tapi duit saya aja sisa ga lebih dari itu, dan saya masih ada agenda jalan-jalan ke Park Mall dan ke Mactan Island. Saya akhirnya urungkan niat ke Bandara naik My Bus, saya cari alternatif sambung menyambung naik Jeepney dari SM City menuju Park Mall yang mallnya ga kalah gede tapi jualannya cuma kaya mall Slipi Plaza aja, puas jalan-jalan di Park Mall dan makan Halo-Halo (Es Campur-nya Pinoy) yang bertoping pisang manis, labu, jelly, dan ubi-ubian yang enak banget di Mang Inasal. Park Mall sendiri letaknya di kawasan industri baru yang jarang pemukimam tapi, banyak ruko-ruko bertebaran disini. Peberbangan saya sisa 3 jam lagi dan saya harus menuju Bandara, akhirnya saya urungkan niat main ke Pantai di Mactan gara-gara jalanan Cebu ternyata ga lebih lancar dari Jakarta di jam makan siang. Naik Jeepney no 23 dari Park Mall menuju Marina Mall seharga 10 Peso di Pulau Mactan, saya singgah mau beli oleh-oleh, eh, tapi koq saya lupa kalau bandara kudu minta Terminal Fee buat penerbangan internasional sebesar 750 Peso. Makjleb banget untuk ukuran bandara Cebu yang  cuma sebesar  bandara Adi Sucipto Yogyakarta , terminal feenya sampai 200an ribu sih keterlaluan, akhirnya ga jadi beli oleh-oleh dan. Biar puas, akhirnya saya cuma beli 1 Post Card seharga 30 Peso aja. Keluar dari Marina Mall, saya tinggal naik Jeepney warna Kuning yang ada tulisan MCIA (Mactan Cebu International Airport), kita akan diantarkan menuju Bandara, satu Jeepney isinya karyawan bandara dengan rok pendeknya yang aduhai serta wangi-wangi. Jeepney yang sesak ini tapi aromanya surga karena dikelilingi bidadari yang wangi-wangi menuju kahyangan….

20160927_102635.jpg

Es Campur ala Pinoy alias Halo-Halo dengan toping ubi,jelly, pisang manis, dan buah-buahan manis lainnya merupakan keluarga ES CAMPUR paling enak yang pernah saya coba ketimbang es kopyor, Es Campur, bahkan Ais ABC nya Malaysia.

Citttt,….

Waterfront Hotel tulisannya merupan salah satu hotel beserta kasino letaknya persis di depan bandara tempat persis Jeepney yang saya tumpangi menurunkan penumpang, hilir mudik masuk turis Asia Timur yang keliatannya bermuka Korea dan Taiwan. Bandara Cebu sendiri penuh dengan turis Asia Timur dan TKW Filipina yang kerja keluar . Selesai cek in dan bayar terminal fee bandara yang super mahal, saya akhirnya masuk ke imigrasi buat ke ruang tunggu. Tapi, betapa kagetnya saya pas masuk ke metal detector gate, para penumpang yang biasanya harus melepaskan ikat pingggang, kali ini semua penumpang juga WAJIB melepaskan sepatu, saya sudah keringatan mengingat kaos kaki saya udah dipakai hampir 2 hari. Pas sampai di gate “excuse me Sir, Shoes is not allowed, please take it off”, calon penumpang didepan saya dengan muka malu ditegur terpaksa membuka sepatunya (gaya penumpang satu ini jauh lebih gembel dari saya dengan tas ransel gede khas backpacker,muka bule), tapi kaos kakinya bolong besar pas dibuka……

20160927_114312.jpg

Waterfront Hotel and Casino tempat saya diturunnkan sama Jeepney letaknya persis di Mactan Cebu International Airport yang terletak di Pulau Mactan, Kota Administratif Lapu-Lapu City yang bertebaran juga hotel dan resort kelas dunia di pulau ini.

Hahhahaha, banyak mata tertuju sama itu bule, namun si doi cuek bebek. Sesampainya giliran saya , pede meter saya sudah diupgrade, nyatanya kaos kaki saya ga menimbulkan keracunan masal koq. Akhirnya sesampainya di ruang tunggu yang sesak karena ada 2 penerbangan menuju Taiwan ditunda gara-gara ada badai. Sekeliling bandara selain TKW, turis-turis Asia Timur, banyak juga Pinay yang gandengannya bule-bule yang udah tuwir. Hushhh, dasar Filipina emang lain-dari yang lain dari kebanyakan negara Asia Tenggara, bandaranya ada aturannya dibuat ITS MORE FUN sesuai dengan tagline pariwisatanya Its More Fun In The Phillipines . Good By Cebu, Philippines, kota tua Filipina dengan sejuta gereja, lagu gospel dimana-mana, Pinay yang sibuk gandeng bule-bule tua, jalanan berdebu, Jeepney, Pinay-Pinoy yang wangi-wangi dan ganjen ganjen, Mall –mall raksasa, makanan haram dimana-mana dan tentu saja film super murah. Salamat Po…..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s