Its More Fun in the Phillipines : Bohol “Sungai Hijau, Bukit Cokelat, dan Laut Biru”

Menyambung tulisan di kota pulau Cebu , Central Phillipines (Visayas), dan masih didalam lanjutan perjalanan yang sama. Kali ini tulisannya akan lebih panjang dengan lumayan banyak drama yang harus dilewati dalam perjalanan di Bohol kali ini. Setelah menghabiskan waktu 3 hari di Cebu , akhirnya saya menyebrang ke pulau tetangganya yang terkenal akan bukit cokelat “Chocolate Hill” dan monyet imut “Tarsier” yakni Bohol.

Tiket ferry seharga 670 Peso pulang pergi Cebu – Tagbilaran(Ibukota Provinsi Bohol), dengan ferry Supercat dari Cebu memakan waktu selama 2 jam, seumur-umur dalam hidup saya saya baru pertama kali naik ferry kelas ekonomi dan pengalaman ketiga saya naik kapal ferry. Pertama yakni pas masih kecil naik ferry dari Muntok (Bangka Belitung) ke Palembang yang sukses buat saya mabuk laut, kedua yakni perjalanan Hongkong menuju Macau yang super nyaman. Ternyata naik ferry kelas Ekonomi  ini enak banget, sebelum kapal berangkat ada video “safety demo” yang diakhiri dengan doa khas katolik. Penumpang ferry kelas ekonomi sudah pasti bisa ditebak yakni penumpang dengan bagasi kardus indomi plus saya si turis koko mata sipit yang lagi melarat. Kabin kapalnya bersih dan semua pelampung tersedia yang mudah dijangkau, pemandangan pulau Cebu yang padat mengawali perjalanan menuju Bohol. Laut yang jernih menuju Bohol merupakan pemandangan sepanjang jalan. Sebenarnya menuju Bohol dari Cebu bisa turun di Tubigon di utara pulau Bohol, tapi jauh dari pusat kota dan susah kendaraan umum, nilai plusnya tentu aja harga tiket kapal lebih murah dan perjalanan lautnya cuma makan waktu satu jam aja. Kedua turun di Tagbilaran, Ibukota Provinsi Bohol. Saya demi kepraktisan memilih opsi kedua.

20160924_145335.jpg

kabin feri kelas ekonomi dengan udara terbuka, pemandangan laut biru bersih serta pulau Cebu dan Bohol bisa dinikmati dinikmati tanpa harus disekat oleh kaca layaknya kabin kelas eksekutif dan bisnis.

20160924_133338.jpg

Supercat 2Go, merupakan operator feri penyebrangan Cebu ke Bohol yang saya pilih, satu-satunya alasan saya milih Supercat hanya karena menyediakan kabin kelas ekonomi dan tentu saja harganya paling murah dari operator lain. Operator lain yang populer yakni OceanJet yang jauh lebih banyak pilihan jam keberangkatan dan harga lebih mahal.

Sesampainya di pelabuhan Tagbilaran, saya mengabaikan semua jenis angkutan umum di pelabuhan untuk menghindari calo. Di peta digital hp usang saya menunjukan mall terdekat dari pelabuhan cuma butuh waktu 10 menit jalan kaki. Akhirnya saya memutuskan jalan kaki menuju BQ Mall. Pittt, sial HP saya tiba-tiba ga bisa nyala ditengah-tengah perjalanan. Saya terdampar di kota antah berantah, buat mengurangi kecurigaan masal, saya mengikuti kerumunan tricycle menuju satu supermarket terdekat, eh di supermarketnya ternyata ada Jollibee (KFC lokalnya Filipina yang menjadi raja fastfood di Filipina). Berhubung perut saya keroncongan, akhirnya saya putuskan makan di Jollibee dengan menu ayam gorengnya yang ga kalah enak dengan KFC gorengan di Indonesia. Sembari menikmati makan siang (yang nyatanya jam sudah menunjukan jam 3-an sore) saya benerin dulu hp saya yang mati, ternyata karena habis baterai.

Setelah baterai penuh, saya lanjutkan perjalanan naik bentor(tricycle) menuju BQ Mall yang seharga 20 Peso doank. Berhubung saya menginapnya di pulau Panglao (pulau kecil tetangga pulau Bohol, tapi tenang aja koq, ada jembatan yang menghubungkan dua pulau ini koq), saya kudu nyari kendaraan menuju Panglao segera mungkin dengan harga semurah mungkin. Dari informasi yang saya himpun, cara paling mudah menuju Panglao yaitu naik bentor seharga 300 Peso hingga 400 peso, atau naik taksi seharga 500-600 Peso nganterin sampai Alona Beach. Berhubung duit saya sangat terbatas, mustahil saya rela mengeluarkan uang sebanyak itu. Akhirnya saya tanya sana sini sama orang lokal sekitaran pasar tradisional belakang BQ Mall, dari ibu-ibu penjual daun tembakau, ibu-ibu di terminal Jeepney, hingga bapak-bapak penjual pandesal. Akhirnya saya disarankan oleh kondektur Jeepney naik Jeepney jurusan Bohol Museum dengan jalan lagi ke belakang pasar tradisional yang letaknya aja udah terpencil dibelakang BQ Mall (yang nyatanya cuma kaya Ramayana Robinson di Jakarta doank). Hiruk pikuk pencarian kendaraan umum menuju Panglao nihil dengan jarangnya kendaraan umum ke sana. Saya coba menenangkan diri sambil beli bekal kue-kue super enak. Sendal saya udah jebol saking lamanya saya geret buat jalan kaki di kota Tagbilaran yang tenang namun hidup, saya menuju perbukitan diatas pasar menuju terminal kecil yang berisi 5-6 Jeepney ngetem menuju Carmen dan Bohol utara. Saya tanya sana sini sampai dibantu cariin sama abang-abang yang jualan pulsa ga ketemu juga Jeepney menuju Panglao. Akhirnya saya disarankan turun bukit lagi menuju pasar ikan yang ada merupakan pangkalan jeepney lain buat nyari, emang dasar orang Filipin itu hangat banget dan ramah. Saya sampai dianterin 3-4 orang sampai ujung jalan buat ditunjukin arah biar kagak nyasar lagi, setelah 1,5 jam keliling mencari transportasi paling murah menuju penginapan, akhirnya saya liat satu ibu-ibu lari-lari ngejar bus model kopaja gitu sambil nyebut nama Alona Beach, akhirnya saya ikutan lari sama ibu-ibunya ngejar Bus “Southern Star” , pas saya tanya kondekturnya , ternyata bener bus-nya menuju Panglao dan turun di Museum Bohol. Akhirnya, tanpa pikir panjang, saya naik ke bus dengan susunan kursi yang sempit  banget dengan kursi 3-2 tanpa AC dan hanya bermodelkan  jendela terbuka, mayoritas penumpang adalah Ibu-ibu yang habis belanja ke kota buat keperluan sehari-hari. Celakanya tempat nginap saya itu lumayan jauh dari pusat turis di Alona Beach, masih perlu sekitar 7 km menuju tempat nginap saya. Sembari menikmati pemadangan Bohol dan pulau Panglao dengan rumah-rumah yang rapi, jalanan mulus dan jarang ada rumah gubuk (saya hampir lupa kalau saya berada di Filipina yang kondisi ekonominya ga lebih baik dari Indonesia). Saya titip pesan ke kondektur bus kalau saya akan turun di dusun Libaong. Si kondektur bingung kalau destinasi saya letaknya ga sejalur dari rute bus. Tapi saking baiknya Filipino, saya tetep disuruh tenang dan dijanjiin nanti dicariin kendaraan umum menuju tempat nginap saya. 30 menit berlalu saya melewati kampung-kampung di Panglao, dari Lourdes hingga kebun kosong. Semua penumpang sudah turun satu per satu menyisakan saya sendiri dan sopir plus kondektur bus doank. Hari sudah gelap, rumah-rumah sudah ga keliatan, ibukota kecamatan sudah dilewati, pas di peta digital saya jalur bus sudah menyimpang dari rute, jalanan yang mulus sudah berganti menuju perkebunan dengan jalan setapak yang bolong-bolong dengan jalanan tanah. Bus berhenti sebentar di tengah kebun, muka saya udah pucat pasi membayangkan saya di culik oleh kaum separatis dari selatan Filipina yang doyan menyandera turis asing, serta akhir akhir ini banyak WNI yang disandera Abu Sayaf. Saya komat kamit berdoa sambil merangkul erat tas ransel saya, di saat ini satu-satunya harapan dan petunjuk saya cuma ga boleh suudzon sama sopir dan kondektur. Di persimpangan jalan kebun, bus berhenti lagi dan ada 2 pemuda lokal naik ke bus dan ngobrol dengan kondektur dalam bahasa Visayas. Mampus, hidup saya diujung tanduk kalau semua kekhawatiran berubah jadi kenyataan. Saya udah ingat satu persatu orang-orang tercinta buat disampaikan pesan terakhir, my location di hp saya diam-diam saya nyalakan jika sewaktu-waktu saya di culik, media sosial di hp saya akan mengupdate lokasi saya. Tett tetttt…..

Bunyi klakson mobil dari ujung jalan membuyarkan lamunan saya, akhirnya saya kembali ke jalan yang benar alias jalan beraspal lagi dan dilewati kendaraan, terus sudah ketemu rumah-rumah penduduk, kondektur bus menghampiri saya sambil infoin kalau bus mereka cuma bisa bantu anterin saya ke Alona Beach aja. Terus saya cuma disuruh bayar 15 Peso untuk perjalanan 45 menit paling lama dalam hidup saya.  Selang ga berapa lama sudah terlihat banyak kafe-kafe dan hotel-hotel khas daerah yang turistik, jalanan sudah menampakkan keramaian, banyak bentor berlalu lalang dan yang paling buat saya tenang karena udah mulai tampak banyak muka muka bule dan Korea berkeliaran di jalanan. Dan akhirnya si abang kondektur mempersilakan saya turun di Terminal Tricycle Alona Beach sambil ngucapin hati-hati dijalan dan bantu infoin kalau saya bisa naik bentor kalau mau ke kampung tempat saya nginap. Selanjutnya saya naik bentor menuju Libaong dari Alona Beach seharga 70 Peso yang dianterin ke Coco Farm di tengah hutan yang letaknya di belakang kampung yang super gelap. Akhirnya, sampai juga di penginapan dengan segala keparnoan akan diculik kaum separatis Filipina. Sepanjang perjalanan dari kota Tagbilaran menuju Libaong, saya melewati berbagai kampung kampung di Bohol yang didominasi oleh pohon kelapa khas kampung pesisir. Semua bangunan sepanjang jalan kebanyakan adalah bangunan permanen, jalanan yang mulus (kecuali jalanan kebun gelap sumber ketakutan saya di penghujung pulau), dan selalu ada gereja di setiap kampung. Bahkan ada sekolah biarawatinya pas di Lourdes yang cukup luas. Daerah Alona Beach merupakan Kuta Legiannya Panglao, banyak penginapan dan resort mahal dibangun disini, kafe kafe selera bule bertebaran, minimarket disini kebanyakan minimarket Korea karena saking penuhnya turis Korea disini. Dan tentu saja di sepanjang jalan kuping saya dimanjakan oleh suara-suara merdu Pinoy dan Pinay yang karaoke yang dipasang sound system didepan rumah, apalagi hari ini hari minggu. Tiap lewat gereja, pasti banyak ketemu kerumunan orang-orang pulang dari gereja dengan pakaian paling bagus mereka.

Selesai di penginapan yang tengah hutan yang berkonsep kebun , tempatnya cozy banget dengan ruang komunal di tengah-tengahnya adalah restoran sekaligus resepsionis saya bertemu banyak turis (backpacker) bule, dan 2 orang Korea yang berbeda 180 derajat, yang satu cuek bebek jago bahasa Inggris tapi urakan dan jorok, dan kedua tipikal TURIS KOREA yang nginap di hutan bawa koper gede dengan warna hijau mencolok, pakaiannya rapi jali , muka mulus bersih. Saya menginap di kamar dormitory yang berisi  6 ranjang, namun kenyataannya cuma diisi 4 orang saja yakni saya, 2 Korea dan 1 orang Jepang, dan semua bule-bule yang nginep ngambil kamar privat dalam bentuk bungalow. Penginapan ini letaknya masih sekitaran 1 km dari jalan raya kampung, tempatnya sepi banget, masuk ke penginapan harus melewati perkebunan kelapa dulu, kandang babi belakang rumah warga, tapi suasanya tenang dan damai, di tengah- tengah penginapan ada dibangun kapel , terus hammock di gantung di tiap sudut bangunan, dekorasinya unik, penggunaan plastik dilarang disini. Dan yang paling oke, tentu saja sarapannya menunya disajikan dari hasil kebun dengan sayur yang direbus, disiram kuah lodeh, dengan telur dadar dan pisang super enak. Harganyapun ga lebih dari 300 Peso per malam, saya pun akhirnya memutuskan menginap 2 malam disini. Selain itu, yang paling menarik disini tentu ada grup tur menuju tempat tempat wisata di Bohol, konsep grup turnya yakni ala carte, cuma bayar tempat yang kita masukin aja, kalau ga mau masuk tempat atau atraksi wisatanya yah ga usah bayar. Cara daftarnya cuma nulisin aja nama kita di papan group tour di depan restoran, nanti kita akan dijemput sama sopir keesokan harinya.

20160924_185856.jpg

setelah melewati perjuangan panjang dari kota Tagbilaran menuju Panglao dengan drama bus masuk kebun kosong beserta segala keparnoan saya, akhirnya sampai juga di penginapan tercinta “Coco Farm Inn” yang eco-friendly banget, penggunaan plastik dilarang disini. Menu makannya juga berasal dari hasil kebun.

20160925_082936.jpg

Sarapan dari penginapan seharga 300 Peso alias Rp 90.000 ini sudah termasuk sarapan yang super duper enak . Cocok buat vegetarian.

20160925_084806.jpg

Open Group Tour juga tersedia di penginapan, harganya juga sangat bersahabat. Dan yang paling penting adalah rata-rata tempat wisata di Bohol bisa dijangkal sekali tur dan lebih enaknya lagi, kita hanya bayar sesuai dengan tempat wisata yang kita masuki aja (a la carte).

Tur Sehari di Bohol

Setelah mendaftarkan diri kemarin di penginapan buat ikut tur rombongan bersama si Korea rapi jali, dan 3 British yang lagi keliling ASEAN ngisi Gap year mereka yang baru lulus kuliah dari penginapan kami di Libaong, dan peserta lain dari hotel-hotel lain di Alona, kami serombongan isinya ada 13 orang yakni Si Korea rapi yang ga bisa bahasa Inggris, saya, pasangan dari Rusia, ibu anak dari Spanyol yang pelit, sepasang Filipino dari Manila umur 40-an akhir, 3 British yang berisik, dan sepasang kakek nenek dari Prancis. Tur dimulai dari jam 9 pagi sampai selesai sore. Harganya kalau ikut semua kegiatan dan masuk semua tempat sekitaran 1000-an Peso doank. Atraksi wisata yang ditawarkan lengkap, dengan van bersih ber AC, murah, jadwal teratur, serta ga usah takut nyasar , ikut tur semacam ini merupakan pertama kalinya selama saya solo travelling.

Destinasi pertama adalah Chocolate Hills, yang terletak di Carmen ( bagian tengah Pulau Bohol). Chocolate Hills merupakan perbukitan yang ditumbuhi rumput-rumput yang akan berwarna cokelat pas musim panas, jumlah bukitnya ga cuma 1 atau 2 , namun jumlahnya ribuan yang terdiri dari berbagai ukuran. Pemandangan terbaik adalah pas musim panas dan cuaca pas lagi cerah. Tapi, untung tak bisa diraih, pas saya kesana cuaca mendung dan langit kelabu, bukit-bukit yang lucu itu tetep keliatan menarik. Tempatnya cocok buat berfoto ria. Sebelum sampai di view point-nya, kita akan disuguhi pemandangan sawah-sawah dan tentu saya melewati man made forest yang berisi hutan lebat dengan pohon mahogani yang rapat-rapat sepanjang jalan. Setelah puas menyaksikan rentetan bukit bukit lucu, saya turun kebawah dan menyaksikan permainan seruling anak-anak kecil di aula terbuka.20160925_105139.jpg

Gundukan bukit coklat yang “berceceran” di Bohol merupakan atraksi utama di Pulau sekaligus Provinsi ini. Dinamakan “chocolate Hills” yakni ketika musim panas/kemarau, rumbut-rumput yang tumbuh di bukit berubah warna menjadi kecoklatan.

20160925_110234.jpg

Turun dari “chocolate hills”, kita akan disuguhkan “konser mini” dari anak-anak kecil yang menyejukkan mata akan tingkah polos mereka serta memanjakan telinga dengan merdunya alunan seruling dan ukulele.

Rombongan tur kami lanjutkan menuju pusat konservasi Tarsier/ Tarsius yang merupakan primata terkecil di dunia yang di klaim hanya ada di Filipina doank, tapi nyatanya di Sulawesi Utara juga ada lho sebenarnya. Biaya masuk konservasi monyet unyu ini 60 Peso buat umum, dan diskon 10 Peso buat pelajar, ahay, saya ga mau rugi nunjukin kartu alumni saya biar disangka pelajar dan ternyata berhasil trik busuk saya kali ini demi menghemat Rp 3.000. Pusat konservasi tarsier ini tempatnya di tengah-tengah hutan sekitaran 4 km dari man made forest. Tarsier yang merupakan keluarga primata ini ukurannya super mini dan cuma segede setengah dari tikus got dewasa di Jakarta, matanya yang belo sungguh intimidatif buat saya, pengunjung dihimbau tidak menyalakan flash ketika mengambil foto si mungil, soalnya bisa menyebabkan kebutaan buat doi, dan uniknya setiap Tarsier disini punya pengasuhnya sendiri-sendiri yang mereka bangun rumahnya dengan daun nipah. Selesai keliling pusat konservasinya yang ga seberapa besar ini, rombongan kami harus sampaikan salam perpisahan buat di Belo yang ga bisa berkedip ini.

20160925_114423.jpg

Si belo yang lagi nangring dipohon, Tarsier merupakan keluarga primata terkecil di dunia yang hanya ditemui di Filipina dan Sulawesi doank( correct me if i’m wrong)

Destinasi berikutnya menuju jembatan gantung alias hanging bridge diatas sungai LOBOC yang hijau bersih, berhubung duit saya ga banyak, dan tujuan destinasi favorit saya sudah saya kinjungi, saya ga berniat melewati jembatan gantung ini yang cuma ditarik bayaran 20 peso buat nyebrang doank. Ga cuma saya yang  pelitnya kebangetan, ternyata ada si trio British yang males nyebrang dan foto alay diatas jembatan bambu itu.

20160925_121626.jpg

Menyebrangi jembatan bambu dengan sungai LOBOC yang berwarna hijau bersih yang menyegarkan mata, tapi sayang sensasi menyebrang jembatan gantung ini dipungut biaya 20 Peso sekali nyebrang. Hushhhhh

Berikutnya adalah destinasi dengan bayaran paling mahal, yakni harus bayar 450 Peso buat makan siang diatas perahu sambil menyebrangi sungai Loboc. Atraksi yang satu ini sudah bikin saya ketar-ketir sebelumnya berhubung dana terbatas. Saya semenjak awal sudah bilang sama sopir tur kita kalau saya ga ikutan makan siang bareng rombongan. Sesampainya di Loboc River Cruise Lunch, saya memisahkan diri dari rombongan. Awalnya saya berniat nawar tiket masuk dengan naik perahunya aja tapi ga ikutan makan siang bisa ga, eh ternyata ada yang lebih berniat lagi yakni si Cewek pasangan Rusia ini lebih pelit dari saya, dia duluan ke konter tiket tanya-tanya pengen ikut river cruise tapi ga mau ikutan makan, yang ternyata ga bisa dipisahin paketnya karena perahunya sendiri sudah di set- up menyerupai restoran. Gagal totallah saya pengen ikutan, eh koq tampaknya satu per satu peserta tur berguguran disini, saya yang gugur sebelum perang ga mau rugi dengan refill sebanyak  mungkin welcome drink sirup markisa yang disediain di pintu masuk di botol minum saya, sembari menunggu yang peserta lain yang tajir makan siang diatas perahu sambil menyusuri sungai Loboc yang hijau bersih ini, saya memutuskan jalan-jalan sendiri keluar area wisata menuju kampung sekitar dan cari rumah makan rumahan buat ganjal perut yang keroncongan. Eh, pas keluar sekitaran 200  meter, di atas jembatan penyebrangan saya ketemu si pasangan Rusia yang ternyata juga ga kalah pelit sama saya yang katanya ga rela ngeluarin duit segitu mahal hanya buat makan siang, eh, terus dibelakang saya ada juga duo spanish mama anak yang super judes komplen terus kalau harganya mahal banget. Sambil cekakan , kami berlima memutuskan nyari makanan ke warung-warung di desa terdekat. Berhubung si duo Spanyol nyarinya makanan yang goreng-gorengan, saya ga mau ikutan mereka makan di restoran lokal. Sisa kami bertiga terdampar di desa antah berantah, tapi koq saya rasanya jadi obat nyamuk yak buat pasangan Rusia ini yang jalannya gandengan , grepe-grepean, dan pengen nangis rasanya kalau jalan lebih lama lagi sama pasangan yang lagi dimabuk asmara ini. Saya pamit buat pergi ke warung kelontong samping jalan buat makan, mereka ga niat karena katanya keliatan kurang hyegine makanan yang dijajakan samping jalan. Yah elah, itu baru warung-warung model warteg dibilang ga hyegine, gimana kabar saya yang di Jakarta sering jajan gorengan di jalan berdebu dan bau asap knalpot nempel di tahu dan bakwan goreng tiap hari. Hushhh,…..

20160925_125019.jpg

Loboc River Cruise  Lunch, merupakan salah satu agenda utama tur di Bohol. Sungai Loboh yang hijau bersih sebagai daya tarik utama. Tur ini terlahir dari ide keterpurukan ekonomi masyarakat Bohol pasca gempa dahsyat Bohol-Cebu tahun 2013 untuk mengundang aktifitas wisata yang lebih banyak di Bohol.

Sambil masuk warung kelontong kecil (warung kelontong yang satu ini ga disekat kaya penjara lho, terbuka layaknya warung kelontong di kampung-kampung di Indonesia). Selain jualan beras, sabun, dan keperluan ibu-ibu lainnya. Disini jualan masakan rumahan juga, lauknya 100% haram, saya pesan babi asap, rebung (bambu muda), sama sayur orek telur plus minum. Dimeja makan  duduk Pinay umur 20-an akhir dengan gandengan kakek-kakek bule pensiunan makan lahap. Selesai pasangan Kakek-Pinay pergi si Mpok yang punya toko gosipin si Pinay muda itu sebagai “Ayam” ke tetangga toko samping pake bahasa Visayas campur bahasa Inggris, saya nangkep maksudnya dari dia ngomong Inggris kalau si “ayam” kerja jadi TKW dan baru 3 tahun kerja di luar udah dapet aja gandengan nunggu warisan. Hish, dasar Ibu-ibu ga dimana-mana kerjaannya gosip mulu. Eh, tapi saya pas pesan makan, malah dia ajak saya gosip juga. Mumpung mulut saya kudus, saya terpancing gosip tetangga murahan ini. hahhahah

Selesai pesan makanan, si ibu-ibu penjaga warung saya undang duduk samping saya buat teman ngobrol, saya kenalkan diri dari Indonesia yang ternyata disambut antusias sama mereka. Di Indonesia orang-orangnya makan nasi ga ?, di Indonesia damai kan ?, ga kaya di Filipina yang lagi ada konflik kartel narkoba dan konflik kaum separatis di Selatan. Terus si Ibu-ibunya cerita kalau dia itu pendukung berat presiden Durtete yang sekarang lagi jadi topik pandemi se Filipina karena ketegasan dia memberantas Narkoba dengan main tembak ditempat, sebelumnya dia merupakan Gubernur Davao yang karir politiknya melejit cepat karena ketegasannya, widih si Ibu-ibu ini hebat juga yak dari gosip ibu-ibu sampai topik politik diobrolin juga. Terus dia banyak ceita kalau di Filipina ga terlalu aman, itulah sebabnya mereka kerangkeng tokonya dengan besi-besi dan kawat. Tapi berhubung di Bohol aman, dia ga kerangkeng toko dia, dan cuma kasih kawat aja sebagai pembatas barang jualannya dia biar ga berserakan jatuh kalau gempa, mereka masih trauma berat sama gempat tahun 2013 yang menewaskan hampir 100-an orang di Cebu dan Bohol. Setelah ngobrol panjang lebar hampir sejam duduk makan, saya cuma disuruh bayar 70 Peso alias Rp 21.000 buat lauk sebanyak itu dengan 2 potong daging babi empuk, orek telur dan rebung manis plus minus pake es. Sisa waktu setengah jam, lagi rombongan tur akan balik lagi ke dermaga dari safari sungai Loboc, saya putuskan jalan-jalan keliling desa yang bersih sunyi dan tenang yang di belah Sungai Loboc yang cantik sambil berjalan menuju titik temu tur buat ke destinasi selanjutnya. Selesai puas keliling kampung sendiri, saya balik lagi ke pick up point samping dermaga cruise river, ternyata si Duo Spanyol dan pasangan sange Rusia udah nyampai duluan dari makan siang. Kami berlima numpang ngadem di aula tempat pemandu wisata dan sopir ngasoh sambil nonton film Filipina di channel TV lokal. Di ruangan ini terpampang banyak doorprize, buat para pemandu wisata dan sopir yang mendatangkan turis kesini. tiap turis bawaan mereka yang ikut paket tur, mereka akan dapat kupon yang tiap 4 bulan sekali mereka undi, hadiahnya ada motor , kulkas, beras , dan berbagai barang kebutuhan rumah tangga. Selang sekitaran 15 menit, rombongan tur lainnya sudah selesai makan siang, dan akhirnya kami lanjutkan ke destinasi berikutnya.

20160925_140026.jpg

Raffle Doorprize buat pemandu wisata dan sopir yang berhasil menjaring turis ikut River Cruise. Hitung-hitung sebagai penyemangat pemandu bawa semakin banyak pengunjung ke sini.

Destinasi berikutnya yakni ke taman kupu-kupu yang sepi peminat, cuma si Korea rapi dan Filipino Manila, trio British, serta kakek-nene k Prancis doank yang masuk. Kami berlima semakin terbukti makluk paling hina dari rombongan grup ini, dengan absen lagi di taman kupu-kupu dan begitu juga pas di penangkaran ular di destinasi berikutnya yang letaknya persis di depan pantai. Daripada mati gaya nungguin yang lainnya selesai, saya putuskan main bentar ke pantainya yang nyatanya ga bisa dipakai buat main air maupun berenang, bibir pantainya isinya karang semua, jalan telanjang kaki aja susah. Pantai-pantai di Bohol memang banyak yang ga bisa dipakai buat berenang karena kebanyakan karang, Namun, salah satu destinasi utama di Bohol yakni Diving di pulau-pulau satelit sekelilingnya yang surga banget di Panglao dan pulau sekitarnya yang sukses mendatangkan banyak turis Asing.

20160925_150134.jpg

tur cuma buat nampang foto sama ular doank, tur yang satu ini sepi peminat. Saya milih duduk manis aja di depan pintu masuk sambil liatin dari luar peserta tur lain foto dilingkering ulan piton.

Selesai dari tur ular ga seberapa itu, kami ditawarin naik sepeda gantung dan Zippelin yang dijawab kompak sama rombongan tur NO . Berhubung duit pada udah bokek, dan hari sudah menunjukan jam 3, maka rombongan tur kami lanjutkan ke Gereja Baclayon yang merupakan salah satu Gereja tertua di Filipina, Gereja ini kondisinya setengah hancur karena guncangan gempa dahsyat Oktober 2013 yang meruntuhkan sebagian bangunan, masuk kesini dikenakan biaya 50 Peso. Dari semua rombongan tur cuma saya , duo Filipino Manila, dan duo Spanyol doank yang masuk ke Gereja ini. Gereja tua ini sudah dinagun sejak abad ke XVI dan sudah masuk cagar budaya Filipina sejak tahun 1995. Gereja dua lantai ini masih menyimpan banyak barang-barang koleksi gereja semenjak awal bawaan dari misionaris hingga boneka Santo De Nino. Sebelum sampai di gereja ini, kami melewati monumen blood compact dan berpapasan dengan anak-anak yang habis pulang sekolah minggu sambil memegang lilin putih berparade puja-puji mengagungkan Tuhan Yesus dan Bunda Maria. Oh iya, blood compact (Sandugo dalam bahasa Visayas)sendiri merupakan monumen persahabatan Spanyol diterima oleh penguasa lokal Datu Sikatuna dan penjelajah Spanyol Miguel Ligazpi. Letaknya disamping jalan tepat samping pantai.

20160925_152740.jpg

Gereja cantik Baclayon ini merupakan salah satu gereja tertua di Filipina, dari Blood Compact cuma memakan waktu sekitar 3 menit berkendara buat kesini

20160925_151638.jpg

Tampilan luar gereja yang sedang dalam tahapan renovasi yang sukses menghancurkan sebagian besar bangunan bersejarah ini. Biaya masuk seharga 50 Peso diperuntukkan biaya renovasi gereja.

Kunjungan ke gereja Baclayon mengakhiri tur hari ini, selesai jam 4 kami dikembalikan lagi ke penginapan dan hotel masing-masing. Berhubung masih ada waktu. Saya mandi dan sempatkan main ke Alona Beach, awalnya saya mau ajak si Korea Rapi pergi bareng biar bisa patungan bentor menuju kesana. Eh, dianya nolak dan lebih milih buat tidur siang. Hush,…….

Akhirnya saya keluar “hutan” sendiri jalan kaki, dan nunggu jeepney lewat di ujung jalan depan toko yang isinya kakek-kakek mabok karauke dengan suara merdu tapi ga jelas melafalan lagu bahasa Inggrisnya. Oh iya, lagunya sih lagu barat tapi MV nya malah pertandingan tinju Manny Pacquiao ( petinju kelas dunia kebanggan Filipina). Saya tunggu 30 menit masih ga ada satupun jeepney yang lewat, dan setelah nunggu hampir 40 menit, ada satu Jeepney yang lewat tapi penuh menuju Alona Beach menolak mengangkut saya. Akhirnya saya putuskan naik bentor aja berangkat menuju Alona Beach, perjalanan sekitar 10 menit pakai tricycle ini menguras kantong 70 Peso lagi.

Sesampainya di Alona, ternyata isinya turis Korea, China, Taiwan, dan beberapa bule-bule Eropa dan Australia. Bar berjejeran sepanjang jalan. Daerah Alona Beach merupakan daerah yang  paling hidup seantero pulau Panglao. Sepanjang jalan dan pantai isinya bar dan kafe yang jualan babi panggang, ekspektasi saya terhadap pantai Alona runtuh seketika begitu menginjakkan kaki di bibir pantai yang banyak sampah, tapi pantai pasir putih halus dan bersih justru di “block” oleh resor mewah. Sambil menikmati matahari terbenam  di pantai sambil menikmati suasana pantai sesaat. Tiba-tiba air mata saya mengalir, saya kangen rumah dan tiba-tiba mengingatkan saya pas dulu duduk sendirian di Pantai Kuta di Bali pas kerja di Bali jauh dari keluarga, tanpa teman dan kenalan sama sekali karena habis duit pas jalan-jalan sambil menunggu wisuda 4 bulan kemudian yang mengantarkan saya kerja di Bali.

20160925_172958.jpg

Pantai Alona dengan pasir putih halusnya terceceran turis Asia Timur, pantai “cantik” ini lumayan banyak sampahnya, restoran yang menawarkan dinner ala Jimbaran bertebaran disini. Bagian pantai yang bersih justru banyak “dijajah” sama resor dan restoran mahal.

Selesai nikmati sunset, dan saya keliling Alona Beach yang bejibun operator tur buat snorkeling and diving, masuk keluar minimarket nyari makanan instan, tapi ga ada satupun yang saya ketemui sesuai dengan isi kantong, rata-rata minimarket disini justru menjual brand “Korean Product”. Dan akhirnya ketemu juga pujasera di ujung jalan yang menjual ayam dan babi panggang. Selesai makan malam di Alona, jalan jalan keliling lagi keluar masuk hotel cari tempat nongkrong asik, tapi ga ada satupun yang gratis, dan akhirnya saya menuju pasar malam disamping terminal buat jajan rumput laut plus telur goreng hangat yang dimakan bersamaan, tapi rasanya asem banget rumput lautnya. Untung harganya cuma 20 Peso doank. Selesai puas keliling Alona, saya putuskan balik ke penginapan tengah hutan ini dengan naik bentor lagi. Berhubung duit saya sisa 40 Peso uang kecilnya, saya bayar si abangnya dengan 1 USD + 40 Peso. Toh, dia terima kasih juga. “Thank you Sir”. Sepulang dari Alona, saya cuma menghabiskan malam dengan baca buku sambil tidur-tiduran di hammock yang digantung diluar kebun dengan semilir angin malam berhembus dan ditengah kegelapan malam kebun yang sunyi.

20160925_210257.jpg

Pemandangan dari depan kamar saya , ada kapel di tengah kebun dengan berdiri kokoh patung Yesus dan Bunda Maria yang menenangkan penghuni penginapan di tengah hutan ini.

Keesokan harinya saya kudu balik ke Tagbilaran dan harus kembali ke Cebu segera. Selesai sarapan saya cek out dan keluar hutan menuju ujung jalan ketemu lagi sama kakek-kakek kemaren karauke pagi-pagi gini. Saya sengaja berangkat lebih pagi walau jadwal ferry saya berangkat jam 11, jam 8 saya udah cek out dari hotel, mengingat susah banget nyari kendaraan umum di tengah-tengah kampung. Eh, selang 5 menit setelah saya nunggu di jalan, datanglah dua bule Jerman yag juga mau menuju kota Tagbilaran balik ke Cebu. Awalnya saya rencana naik bentor menuju Alona seharga 70 Peso terus sambung naik Bus “Soutern Star” balik Tagbilaran lagi. Tapi nasib berkata lain, setengah jam tunggu ga ada satupun bentor maupun jeepney yang lewat, baik menuju Alona maupun ke arah Kota Tagbilaran. Teet, teeetttttt, tiba-tiba ada mobil  diseberang jalan mengklakson kami bertiga, sambil nawarin tumpangan “sewa mobil” 500 Peso menuju Tagbilaran, karena masih dirasa terlalu mahal si dua bule nolak, saya tawarin diri aja sama bule buat sharing cost bertiga dengan estimasi kalau sopirnya bisa kita tawar 200 Peso langsung kita ambil aja, si sopir bersikukuh dengan 500 Peso akhirnya luluh nurunin harga dari 500 jadi 400, hingga harga final 300 Peso. Kami bertiga tetep ga mau , dan akhirnya daripada mobilnya kosong si Bapak sopirnya turunin jadi 200 Peso naik mobil dianter sampai ke pelabuhan Tagbilaran yang cantik dengan air laut hijau tosca yang tenang.  Si sopir ceritain kalau sebenarnya dia bukan sopir travel apalagi mobil sewaan, dia lagi mau anter istrinya ke Kota Tagbilaran buat belanja mingguan dan pas dia lewat liat kita dengan tampang pelancong langsung bergelora jiwa wirausaha dia “ngegojekin kita” .Di ujung jalan persimpangan Libaong dan Lourdes, di sopir menaikkan istri dan anaknya yang bernama Nando yang lucu dengan gigi ompongnya duduk berduaan sama mamanya di belakang. Saya duduk disamping sopir, si Kristina dan Hanh (dua bule Jerman tadi) duduk dibelakang. Perjalanan kali ini menuju kota Tagbilaran ga kalah murah dengan harga 65 Peso saya sudah bisa naik mobil pribadi dengan AC, sopir pribadi, dan tentu dapet teman baru. Si Nando sama mamanya diturunin di BQ Mall, sementara kami diantar ke pelabuhan Tagbilaran. Si duo bule Jerman ini naik Ferry jam 10 pakai Oceanjet yang lebih mahal dengan harga 500 Peso sekali naik, sedangkan saya cuma mampu naik Supercat yang lebih murah dan naiknya kelas ekonomi lagi. Sambil menunggu feri saya datang. Saya keliling terminal pelabuhan dan naik sendiri sampai ke atas-atas gedung sambil menikmati pemandangan air laut yang jernih banget dengan warna hijau Tosca , sejam kemudian kapal saya datang dan saya siap naik ke kapal penyebrangan, eh, pas naik kekapal,  kursi saya diupgrade ke kabil kelas Bisnis yang ber-AC, ruang duduk lebih empuk, dan nyaman. Mungkin pas cek in tadi, si mbaknya langsung main percaya sama tiket kapal saya ga mungkin kelas ekonomi kali, secara saya orang asing dan ga bawa ransel backpack gede lusuh. Selamat tinggal Bohol yang tenang, sunyi, dan indah……….

20160926_102909.jpg

Pelabuhan Cantik kota Tagbilaran dengan laut bersih menghadap pulau Cebu didepan mata, suasana yang tenang, pemandangan yang lapang dan jauh dari hiruk pikuk kota membuat pelabuhan ini menjadi sangat berkesan.

20160926_110030.jpg

Beginilah tampilan kabin kelas Bisnis feri Supercat yang saya tumpangi hasil upgrade kelas. Ruangan ber AC dan kursi yang lebih empuk doank.

Salamat Po Pilipinas, nanti kalau diberi kesempatan lagi, pasti saya akan mengunjungi Filipina lagi. Sejauh ini Filipina telah bener-bener bikin saya pengen balik lagi karena kehangatan orangnya. Beda dengan Thailand yang bikin pengen balik lagi harga makanannya yang enak dan . See you next time Phillippine. For sure , it more FUN in the Philllipines…………………………………..

Advertisements

One thought on “Its More Fun in the Phillipines : Bohol “Sungai Hijau, Bukit Cokelat, dan Laut Biru”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s