Hotelier Story : “Jebakan Batman Bule “

Kerja di setiap hotel punya tantangannya sendiri-sendiri dan karakteristiknya sendiri. Ketika saya kerja di hotel di Bali, fasilitas yang paling sering dikeluhkan tamu adalah hair-dryer yang tidak dipasang dikamar mandi dan jumlahnya yang terbatas di “par-stock” housekeeping serta wifi  yang sinyalnya bagus cuma bisa didapetin di area lobi aja, dan banyak nyamuk ketika dinner karena restorannya sendiri konsepnya semi outdoor.

 

Ada juga di hotel tempat saya magang pas masih kuliah dulu, keluhan yang paling sering dan tiap hari didengar adalah lift-nya lelet banget (maklum, karena gedung hotelnya desain awalnya adalah sebagai apartemen, jadi lift karyawan dan tamu harus saling berbagi, mana lagi gedungnya punya lantai diatas 30 lantai. Selain lift yang lambat, hotel yang satu ini hebat-nya juga ga punya wifi di dalam kamar (padahal hotel bintang 4 lho), dan akses internet di kamar hanya ada kabel LAN . Satu-satunya akses wifi  hanya bisa diperoleh di restoran dan lobi doank. Hufftt

 

Lain lagi ketika kerja di hotel di tengah-tengah pusat bisnis Jakarta dengan usia hotel yang sudah dua kali lipat usia saya. Keluhan yang paling sering muncul dari tamu yakni biaya parkir yang ga masuk akal dan terbatasnya lahan parkir di hotel yang mobil tamu harus rela dan siap kehujanan dan kepanasan karena hotel sendiri ga punya gedung parkir terpisah. Dan tentu saja yang jadi makanan sehari-hari dari keluhan tamu yakni kondisi kamar yang sudah sangat tua dengan karpet bulukan dan sistem peralatan listrik didalam kamar yang sudah ketinggalan jaman, bahkan pengatur suhu kamar yang sering rusak, kondisi kamar yang sudah tua menjadi keluhan tamu yang kepanasan maupun kedinginan setiap hari.

 

Lain dengan hotel yang sudah tua, saya pernah juga kerja di hotel yang baru direnovasi 2 tahun baru terakhir dan banyak tamu keluarga. Keluhan yang paling sering dilayangkan tamu justru karena kurangnya jumlah handuk di kamar, maklum saya, satu kamar seringnya dihuni oleh lebih dari 5 tamu karena satu rombongan sirkus keluarga dari kapasitas maksimum kamar yang hanya memfasilitasi 2 tamu dewasa dan 1 anak-anak. Selain itu, keluhan yang ga ada habisnya, karena hotelnya terletak dikawasan komersil, jadi masuk ke kawasan saja sudah harus membayar uang masuk kawasan dan kendaraan. Dan tentu saja langgangan keluhan tamu adalah kamar yang tidak punya view yang ekspektasi dasar tamu menginap disini karena bisa lihat pemandangan ke arah pantai nan biru.

 

Dari sekian banyak tipe keluhan fasilitas hotel, saya pernah mengalami keluhan fasilitas yang paling traumatik dalam dunia perhotelan yang sukses buat saya berhasil mogok makan seharian. Kejadian pertama yakni ketika saya kerja di hotel yang di Bali,adalah tamu yang datang rombongan yang hendak showing (melihat kondisi kamar) yang ditemani saya. Awalnya saya pilih beberapa kamar yang status dari housekeeping sudah Vacant Clean (VC) untuk di-showing ke tamu, saya pilih 3 kamar terbaik yang kita punya untuk ditunjukkan ke tamu.

 

Setelah mendapatkan nomor kamar, saya mendampingi tamu melihat-lihat kamar sembari menjelaskan fasilitas hotel dengan bahasa sepersuasif mungkin layaknya sales obat, kamar pertama dan kedua berhasil membuat tamu terpukau karena sudah ada dekorasi bulan madu di ranjang kamar. Ketika masuk kamar ketiga, semuanya berjalan mulus , kamar tidur rapi dan dalam kondisi wangi, pemandangan kamar bagus menghadap ke arah kolam renang, balkon-nya luas. Dan terakhir, tamu penasaran apakah kamar mandi dan tamunya tanpa sepengetahuan saya langsung ngelosor ke dalam kamar mandi saja, dan tidak sampai 2 detik kemudian keluar dengan dengan tawa terbahak-bahak dan sambil menutup hidung keluar kamar. Saya yang penasaran melongok ke dalam kamar mandi disambut dengan senyum manis dari isi kloset kamar mandi yang masih isinya masih belum disiram yang baunya jangan dibayangkan, dan lebih parahnya lagi diatas wastafel ada majalan erotis yang terpampang jelas pemandangan yang ga kalah sedap dari pemandangan pertama. Sang tamu tanpa basa-basi akhirnya cuma jadi menginap di kamar tipe paling rendah dengan bayaran paling murah karena tipe dengan pemandangan “indah” yang dilihat merupakan kamar tipe terbaik. Gagal jualan gara-gara kecelakaan dari housekeeping salah mengubah status kamar.

 

Pengalaman yang paling berkesan dari kondisi kamar tentu saja jatuh pada pengalaman saya di hotel bisnis di jantung kota Jakarta ini. Pada suatu hari, si Cimeng, si resepsionis yang paling santai dapet keluhan dari tamu buat pindah kamar karena kondisi kamar mandi yang sudah tua dan tidak ada saluran pembuangan air. Karena tamunya udah ngamuk duluan, akhirnya  si Cimeng pindahkan tamu bule badan segede kulkas 2 pintu ini ke kamar lain yang merupakan kamar terbaik di tipe kamar yang dipesan. Karena si tamu baru pakai kamar ga lebih dari 10 menit, saya yang pas waktu itu bertanggung jawab buat memastikan room assigment tamu sesuai dengan prefensi tamu harus mengecek kedalam kamar yang di-complaint untuk memastikan bahwa keluhan tamu yang bersangkutan tidak mengada-ada dan bisa dilakukan langkah prefentif untuk memanggil tim housekeeping atau engineering untuk perbaikan fasilitas kamar. Karena keluhan tamu yang tercatat dalam catatan keluhan tamu di fasilitas kamar mandi, saya langsung meluncur naik sendirian ke kamar sebegitu si tamu sudah pindah kamar.

 

“Ting Tong, Ting Tong, Ting Tong !” bel kamar dipencet 3 kali sebelum masuk,

Pintu kamar diketuk 3 kali sambil menyebutkan departemen yang sebagai standar staf hotel sebelum memasuki kamar.

 

Bip bip bip,……….

Kunci elektrik ditempelkan di pintu, saya buka pintu kamar sambil memperkenalkan diri. Kosong,……….

Ga ada tamu, kamar tidur masih “perawan” alias rapi jali belum diapa-apakan oleh si Bule tadi. Saya langsung buka pintu kamar mandi dan krekkkkkk, bau busuk memuakkan menyebar seluruh ruangan dengan pemandangan tokai yang meleber di kloset tersaji hangat tanpa bisa disiram. Jumlahnya ga tanggung-tanggung, ini adalah jumlah kotoran manusia terbanyak yang pernah saya saksikan, seluruh ruangan langsung terasa hangat dan saya hampir pingsan. Kalimat sumpah serapah langsung meluncur dari mulut saya.

 

Buru-buru saya turun kebawah, dan saya diketawai sama si Cimeng karena muka saya udah bete banget pas sampai ke konter. Si Cimeng baru cerita kalau tamunya ada tambahan complaint kalau klosetnya ga bisa disiram juga tadi pas si Bule pindah kamar. Kenapa ga cerita dari tadi.

Total kerugian dan penyakit mental yang saya derita akibat kejadian ini yakni saya jadi kurus 1 kg karena ga bisa makan siang dan makan malam sambil merenungkan itu sebenarnya kotoran yang dihasilkan oleh manusia atau gajah berbadan ikan paus…..

 

Terkutuklah tamu tukang boker ga disiram……GRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRHHHHHHHHH

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s